
Nana menunggu Zia yang sedang memesan makan siangnya, ia berpangku tangan melihat ke arah pintu masuk kantin. Ia segera membalikan pandangannya saat Agil, Hendra, Toro dan Gavin masuk ke kantin.
“Kenapa jadi gue deg-degan begini ya melihat Agil,” gumam Nana sembari memegangi tangannya.
“Kenapa?” tanya Zia. Zia meletakkan nampan berisi dua soto, gorengan dan dua es jeruk.
“Gue laper,” katanya sembari mengangkat mangkok ke depannya.
Nana menatap Zia yang tidak kunjung makan malah menatap ke belakang dengan senyum-senyum.
“Kenapa lo senyum-senyum?” Nana meniupi nasi di dalam sendok lalu melahapnya.
“Hendra ganteng banget ya Na, gue mau deh kenal sama dia.”
“Katanya harus menjauhi yang namanya Geng Lucifer, kenapa jadi malah lo mau deketin salah satu anggotanya,” ujar Nana masih tidak terlalu mempedulikan Zia. Menurutnya dia hanya bercanda saja.
“Itu dulu, setelah kenal sama mereka itu asyik loh,” Zia senyam-senyum.
“Lo bercanda kan?”
“Ya nggak lah, Na, bantuin gue ya,” Zia memohon dengan Nana.
“Cara bagaimana?”
“Ya kan lo dekat sama Agil, jadi ya bisa kan lo minta nomor dia,” kata Zia.
“Kenapa harus Agil, noh kan ada Toro lo bisa minta sendiri,” jelas Nana.
“Ada apa ini sebut-sebut nama gue?” sahut Toro, dia yang sedang mencari tempat duduk akhirnya memilih gabung sama Nana dan Zia.
“Zia mau-,” Zia menyengekram tangan Nana sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Zia mendelik agar Nana tidak mengatakan terus terang di hadapan Toro yang pastinya dia terlihat ember.
“Gil, gabung sini saja,” Toro melambaikan tangan.
“Heh, siapa yang mengizinkan kalian gabung,” ujar Nana sembari menatap Toro lekat.
“Gue,” Toro tersenyum sok manis.
Agil, Hendra dan Gavin langsung duduk di kursi yang masih kosong, Nana yang langsung duduk berhadapan sama Agil langsung gelimpungan. Gara-gara sandwich tadi pagi membuat dia merasa hal aneh dan malu saja kalau ketemu Agil.
“Gil, lo nggak pesan apa-apa?” tanya Zia melihat Agil tidak membawa apa-apa.
Nana mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk, memperhatikan Agil.
“Makanan kantin terlalu mahal,” jawabnya.
Nana menyeringai, bagaimana bisa Agil yang anaknya pemilik sekolah bisa mengatakan makanan kantin mahal. Padahal harga makanan di kantin di bawah lima puluh ribu, bukankah itu seharusnya tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
“Agil itu sekarang sedang jatuh miskin, dia kabur dari rumah semua disita. Dan nggak mampu membeli makanan,” tutur Toro yang mendapatkan injakan dari Agil.
“Lemes banget mulut lo,” Agil greget kenapa Toro malah mengatakan di depan Nana dan Zia.
“Emang lemes ini bocah,” Hendra menggelengkan kepala.
“Lo mau gue beliin makan?” ucap Nana tanpa sadar.
“Wah, terlihat miskin sekali gue sampai harus di belikan makan?” Agil melihat Nana dengan melipat tangan di dadanya.
Zia menepuk lengannya, “Lo ya kalau ngomong nggak di pikir dulu, tersinggung kan Agil,” bisik Zia.
“Gimana ini?” tanya Nana tanpa bersuara. Ia menggigit bibir bawahnya takutnya Agil benar-benar tersinggung dengan ucapannya.
“Jangan ngeremehin orang, dia nggak langsung semiskin itu,” kata Hendra dingin saat Agil merasa di remehkan Nana.
Padahal niat Nana baik mau membelikan makanan untuk Agil, rasanya makan tidak akan enak kalau diantara mereka ada yang tidak makan.
“Jangan terlalu serius,” Agil terkekeh meliha wajah tegang Nana.
“Tor, ambil pesanan gue sudah jadi belum,” pinta Agil.
“Siap,” Toro bergegas.
Nana mendengus, menyesal sekali mulutnya mengatakan itu, ia hanya menjadi bahan guyonan Agil beserta teman-temannya.
“Nggak,” jawab Nana singkat.
“Tapi lo paling peduli loh diantara kita,” sahut Toro sembari menaruh gado-gado pesanan Agil.
“Itu namannya rasa kemanusiaan,” jawab Nana tidak mau di sangkut pautkan dengan masalah pribadi. Agil tersenyum, meskipun cuman alasan kemanusiaan namun ia merasa sangat peduli padanya.
Nana memegang tengkuknya ketika Agil memandanginya dengan senyum tipis. Agil menusuk telur rebus lalu memberikan kepada Nana.
“Aaa,” Agil meminta Nana membuka mulut.
Nana bingung, ia menoleh ke Zia dan yang lain yang hanya mendapat jawaban senyuman dari mereka.
“Buruan buka mulut lo,” ucap lirih Zia sembari menyenggol Nana.
“Aduh, apa ini main suap-suapan segala. Gil, lo mulai lope-lope ya,” goda Toro.
“Aduh, jiwa jomblo gue teriak-teriak, gue mau bang, gue mau,” ujar Gavin sembari bergelayutan di tangan Hendra.
“Buruan, tangan gue pegal,” kata Agil semakin mendekatkan sendok ke mulut Nana.
Dengan ragu Nana membuka mulutnya, ia melihat ke kanan lalu ke kiri takut orang yang melihatnya salah sangka.
__ADS_1
“Good girl,” kata Agil lalu dia mulai menyuapkan gado-gado ke dalam mulutnya.
Kata-kata itu terus di ucapkan Agil saat Nana menuruti Agil, Nana mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Agil. Kenapa dia memperlakukan Nana seperti orang yang sedang pedekate dengannya.
Apa dia suka sama gue? Batin Nana
Tempat duduk Nana menjadi sangat riuh karena Toro, Gavin dan Hendra terus mengecengi Nana dan Agil. Zia pun tak kalah ikut serta menggoda Nana. Gia yang melihatnya langsung meradang, ia ingin sekali menyingkirkan Nana.
“Ada apa ini seru banget kayaknya?” tanya Zola yang ikut menyaksika Agil menyuapi Nana.
“Zola, Agil sedang mengeluarkan jurus buayanya,” cicit Toro.
Zola tersenyum menatap Agil lalu Nana, “Serasi, ya kan?”
“Sangat serasi, gimana kalau kita gelar syukuran jadian mereka berdua,” kata Gavin.
“Siapa yang jadian,” Nana mendelik ke arah Gavin.
“Benar, lagian kita juga nggak berteman,” suara Agil berubah dingin.
Agil mendorong piring gado-gado yang masih sedikit menjauh darinya, nafsu makannya hilang tiba-tiba.
“Kalau sama lo baru serasi,” kata Agil yang membuat Zola membulatkan matanya.
“Ngaco.”
Nana merasa sedikit kesal, hanya sedikit saja saat Agil mengatakan kalau Zola lebih serasi dengannya daripada dia. Wajahnya berubah masam, hatinya gusar, ingin segera pergi dari kantin.
“Kita permisi dulu ya,” Nana menarik tangan Zia yang masih sibuk makan.
“Loh, mau kemana?” tanya Zola.
“Ke kelas Kak, masih ada tugas yang belum kita selesaikan,” Nana berbohong.
“Tugas apa?” Tanya Zia, Nana mengkode dengan kedua matanya agar Zia mengiyakan apa yang di katakan.
“Ah, iya benar. Ada tugas fisika yang belum kita kerjakan,” ujar Zia.
“Memangnya ada tugas?” Toro bingung.
“Ada,” jawab Nana sambil pergi menarik Zia.
“Tungguin gue. Gue cabut ya,” Toro berlari mengikuti Nana dan Zia, dia tidak mau ketinggalan untuk menyalin tugas agar tak mendapatan hukuman.
“Toro kenapa ikut mereka?” Zola bingung.
“Dia sudah pindah kelas,” Kata Gavin.
__ADS_1
“Kok bisa?” Zola heran.