
Ternyata ucapan Nana memang di dengar oleh satpam sekolahnya, ia dan beberapa orang di perbolehkan masuk setelah melihat berita di ponselnya.
Nana mengendap-endap saat sampai di kelasnya, ia melihat ke dalam kelas.
“Kamu, kenapa telat?” tanya Miss Ana guru bahasa inggris sekalian wali kelas Nana.
Nana berdiri tegak, ia menoleh dengan membuat senyuman yang menampakan seluruh giginya.
“Tadi ada tawuran buk, jadi busnya mogok.”
“Bersihkan sampah di belakang, saya nggak mau menerima alasan apapun, mereka saja bisa datang tepat waktu,” Miss Ana menunjuk ke dalam kelasnya yang full muridnya. Hanya dia saja yang terlambat.
“Tapi benar Mis, Nana nggak bohong.”
“Masih saja ngeyel, Miss tambah dengan membersihkan toilet?” ancam Miss Ana yang membuat Nana berhenti bicara.
“Jangan Miss, cukup itu saja,” Nana bergegas ke belakang.
Nana melihat tumpukan sampah yang menggunung, Nana menggantung tasnya di pintu, ia menguncir rambut sebahunya.
“Kenapa sekolah itu kalau memberi hukuman, kalau nggak memungut sampah bersih-bersih. Memangnya nggak ada hukuman lain apa. Misal disuruh makan atau disuruh jalan-jalan,” Nana ngomong sendiri.
Baru saja mulai membersihkan, Nana mengehentikanya saat ia seperti mendengar barang berat terjatuh di lantai sehingga bunyinya menggema, Nana melempar botol air mineral lalu berlari ke sumber suara.
Nana berhenti, matanya melebar melihat empat orang yang sedang melakukan pendaratan dari tembok ke lantai.
Dipikirnya ada meteor jatuh, ternyata anak-anak yang telat masuk sekolah.
Nana melirik dari kiri ke kanan melihat satu persatu, menganalisi yang ia lihat. Empat anak sekolahnya dengan pakaian yang berantakan, wajah memar-memar.
Mereka pasti biang kerok pikir Nana, ia langsung memutar tubuhnya untuk bergegas pergi. Ia tak mau berurusan dan juga menghindari masalah pastinya.
“Eh.. Main nyelonong saja,” tangan Nana di tarik namun dengan cepat ia menepisnya. Kakinya mundur selangkah, ia takut kalau sampai keempat cowok berpenampilan urakan itu menjahatinya.
“Tenang saja jangan takut, kita itu orang-orang baik. Ya nggak guys.”
“Iya, Gue Gavin cowok terkeren di sekolah.”
“Gue Toro, cowok ganteng, humoris dan penyayang,” Toro mengulurkan tangannya.
Nana terdiam, ia justru tertarik dengan cowok yang paling ujung kanan, ia menyipitkan kedua matanya untuk melihat nama yang ada di baju bagian kiri.
“Adikta Ragil, seperti tidak asing namanya” batinya.
“Gue yang ngajakin lo ngomong, kenapa malah lihat ke sana,” Toro melihat ke arah Agil dan Hendra.
Nana tetap tak menggubris Toro, ia langsung kabur ke samping untuk meneruskan hukumannya.
“Yah, dikacangin gue.” Toro menarik tangannya.
“Makanya jangan celamitan,” ujar Hendra sambil jalan mengikuti Agil.
Toro dan Gavin tertarik melihat kearah Nana sampai tak memperhatikan jalan, mereka berdua menubruk Agil dan Hendra.
__ADS_1
“Kenapa berhenti mendadak sih?” omel Toro.
“Kalian berempat darimana?”
“Eh, kok ada Miss Ana,” Toro cengar-cengir ketika di depannya sudah berdiri Miss Ana dengan tatapan sadisnya. Tatapan mematikan untuk anak-anak yang bermasalah.
Mis Ana memutari keempat muridnya yang berantakan, “Kalian berantem lagi?” ucap Miss Ana pas di telinga Agil.
“Nggak Miss,” jawab Gavin.
“Bohong saja kalian, cepat bersihkan sampah itu sampai jam istirahat bunyi,” suruh Miss Ana.
“Miss, kita kan nggak salah kok di hukum,” bantah Gavin.
“Kamu kira miss nggak tahu, kalian manjat pagar. Cepat segera bersihkan atau Miss tambah hukumannya.”
Mereka berempat berjalan dengan malas, menuju tempat pembuangan sampah bergabung dengan Nana.
“Lo sih Tor, lama banget jalannya jadi ketahuan sama Miss Ana kan,” omel Hendra.
Dia sudah membayangkan akan tidur di mejanya namun kini masih harus berada di pembuangan sampah yang panas dan sedikit bau.
“Gavin noh lambat banget kayak cewek,” Toro menuduh Gavin.
“Enak saja, bagaimana kalau kita cabut lagi saja,” Gavin memberikan ide kepada ketiga sahabatnya.
“Gil, harusnya tadi nggak usah buru-buru. Gue belum puas menghajar orang-orang tadi.”
Agil melirik kearah Nana, “Sudah buruan beresin. Jangan bicarakan hal itu lagi,” Agil mengalihkan pembahasan Hendra melihat Nana tidak nyaman.
Nana mencuri-curi pandang sama Agil yang duduk di kursi kayu bekas, namun botol-botol yang dia lempar bisa masuk tepat ke tong sampah. Ia takjub, ujung bibirnya tertarik sehingga tercipta lengkungan kecil. Bagi Nana, Agil sangat keren melakukan itu.
“Kenapa lo lihat-lihat gue?” kata Agil ketus.
Nana menundukan kepalanya, lengkungan di bibirnya memudar, mendengar suara Agil membuat tangan dan kakinya bergetar. Suara dinginya seakan memberikan ancaman.
“Jangan galak-galak sama cewek kenapa sih Gil. Kasian kan dia ketakutan,” ujar Toro sambil mendekati Nana.
Nana kembali menggeser kakinya, andai dia memiliki ilmu taliportasi atau menghilang. Ia akan menggunakanya sekarang.
“Jangan takut, kita bukan orang jahat kok. Soal Agil, sebenarnya dia baik kok, cuma badan rambo tapi hatinya berbie,” celoteh Toro berusaha menjelaskan sahabatnya yang muka flet agar Nana tidak takut.
Nana kembali menarik ujung bibirnya meskipun sedikit terpaksa, ia mencoba untuk tidak takut.
“Kenalin gue Toro,” Toro mencoba berkenalan lagi dengan Nana. Ia mengulurkan tangannya. Nana bingung harus menyambutya atau tidak, jika tidak menyambutnya ia tidak enak. Kalau dia menyambut takut di jaili sama mereka.
Agil melempar botol bekas ke punggung Toro, “Buruan kerjain, ganjen amat.”
“Sakit tahu Gil,” Toro tidak terima lalu melempar botol balik ke Agil, dengan sigap Agil menghindar hingga mengenai Hendra.
Hendra membalas Toro, dan terjadilah lempar-lemparan botol. Nana berusaha menghindari dengan perlahan pergi meninggalkan tempat sebelum ia terkena lemparan botol.
Namun sayang, botol air mineral berukuran sedang mengenai dirinya. Dan air yang masih berisikan setengah tumpah di bajunya.
__ADS_1
“Sorry-sorry, nggak sengaja.” Toro mendekati Nana dan ingin membersihkan baju Nana. Toro mengangkat kedua tangannya ketika Nana menutup bagian yang basah dengan kedua tangannya.
“Kalian itu ya, main-main saja, lihat bukanya bersih malah bikin kacau. Gue nggak mau tanggung jawab kalau Miss Ana marah,” Nana menunjuk botol-botol yang berserakan di lantai. “Cepat beresin,” perintah Nana.
“Lo suruh gue?” Agil melipat kedua tangannya.
“Iya, memangnya kenapa?” ujar Nana dengan nada tinggi.
“Berani sekali lo menyuruh-nyuruh gue.” Agil mendekati Nana, menganalisa wajah Nana. Membaca name-tag di baju kirinya.
Tubuh Nana bergetar, ia memejamkan matanya sembari menggigit bibir bawahnya. Nana menghitung dalam hati, saat sampai nomor tiga ia menginjak kaki kiri Agil.
“Aa,” teriak Agil pelan lalu mengangkat kaki kirinya, mendapat kesempatan Nana langsung kabur. Agil memandang lekat-lekat Nana sampai ia menghilang dari pandangannya.
“Berani juga cewek ini cari masalah sama gue,” Batin Agil, matanya terus menatap punggung Nana sampai menghilang di balik tembok.
“Sakit Gil,?” tanya Gavin.
“Sakitlah pakai tanya lagi,” ketus Agil.
“Makanya jadi orang jangan serem-serem takutkan dia,” ujar Toro.
“Semua ini salah lo Tor, lo harus ganti rugi jajanin gue di kantin,” kata Agil sambil meninggalkan tempat pembuangan sampah.
“Kok jadi gue, kan yang kaya lo Gil,” Toro berlari mengejar Agil.
...ΩΩΩ...
Nana berlari sampai ke kelas dengan menutupi dadanya, untung pelajaran kedua belum mulai jadi tidak jadi pertanyaan sama guru selanjutnya.
Nana mengeluarkan semua isi tasnya, ia mencari kipas portebel yang setiap hari ia bawa.
“Na, lo kenapa?” Zia menatap baju Nana yang basah.
“Basah baju gue,” ucapnya sembari menekan tombol on setelah menemukannya.
“Gue tahu baju lo basah, yang gue tanya kenapa bisa basah.”
“Ini semua gara-gara cowok-cowok ngeselin,” omel Nana.
“Gue nggak ngerti maksud lo?” Zia meminta pejelasan yang lebih detail.
“Jadi gue tadi berangkat terlambat gara-gara ada tawuran, tapi Miss Ana nggak memberi toleransi tetap saja dianggap telat,”
“Terus masalah dengan cowok-cowok yang membuat lo begini apa?” Zia memotong ucapan Nana.
“Dengerin dulu makanya,”
“Iya-iya.”
“Karena telat gue di hukum misahin sampah-sampah, Nah Miss Ana lihat mereka juga telat dan di hukum bareng, eh bukanya bantui malah bikin kacau. Lihat baju gue.”
“Sabar-sabar,” Zia mengusap punggung Nana agar bersabar dengan kesialan yang ia peroleh pagi ini.
__ADS_1