Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Anak Baru 2


__ADS_3

Nana mengambil buku menu di kantin, ia menarik jari telunjuknya dari atas sampai kebawah. Nana melihat Zia sibuk mengedarkan pandangannya ke dalam kantin yang mulai ramai.


“Kenapa?” Nana menyenggol lengan Zia.


“Bagas mana?”


“Oiya, katanya tadi mau ke ruang guru sebentar. Kok belum datang-datang, jangan-jangan dia bohongi kita,” Sena ikut melihat mencari keberadaan Bagas.


“Ya udahlah kalau bohong, kita kasih pelajaran saja nanti di kelas, mumpung nanti pelajaranya Miss Ana,” usul Nana. Mereka berdua mengangguk menyetujuhi ide yang di berikan sama Nana.


“Kalian sudah pesan?” terdengar suara Bagas yang jaraknya lumayan jauh dari ketiga cewek yang merencanakan hukuman untuk Bagas.


“Ini lagi pesan, Buk Siomay nggak pakai kentang sama kol ya. Tambah es teh,” pesan Nana.


“Dari tadi baca menu ujungnya siomay, buk Zia pesan soto sama es teh saja. Lo apa Sen?” Zia mengambil kertas menu lalu menaruh di tempatnya kembali.


“Bakso sama es jeruk,” Jawab Sena. “Gue cari tempat duduk dulu ya,” tambah Sena.


Nana mengangkat jari melambangkan kata ok, “Lo mau pesan apa Gas?”


“Batagor sama es jeruk saja.”


“Siap, lo pergi sama Sena dulu gih, biar gue bawakan pesananya.”


“Mendingan lo sama Zia yang ke tempat duduk dulu. Biar gue yang bawa ke sana,” Bagas menyuruh Nana dan Zia bersama Sena.


Dia tidak mau tanggung-tanggung menjalankan trik mendekati teman-temannya, selain mentraktir dia juga mau menjadi pengantar makanan buat teman barunya.


“Jangan, ini terlalu banyak,” Zia mengangkat pesanan berisikan bakso soto dan siomay.


“Lo tolong bawain minuman kita saja deh,” pinta Nana. Bagas mengangguk.


Mereka berempat duduk saling berhadapan, Nana menarik piring berisikan siomay, ia menuangkan saus dan sambel di piringnya.


“Jangan banyak-banyak Na, ntar sakit perut,” Zia mengingatkan Nana.


Nana malah tersenyum, ia memasukan siomay sembali mencocol saus beserta sambel. Sena menyenggol-nyenggol Nana.


“Apa?” ucap Nana dengan mulut yang penuh.


“Agil sejak tadi melihat lo dengan tatapan seram,” Sena menunjuk keberadaan Agil dengan matanya.


Nana menelan siomay yang sudah lembut, ia menatap arah yang di katakan oleh Sena. Zia yang penasaran pun ikut menoleh, namun sayangnya Agil sudah memalingkan wajahnya. Ia terlihat ngobrol asyik sama ketiga sahabatnya.


“Ada apa?”

__ADS_1


Nana mengangkat kedua bahunya, ia juga hanya melihat sekilas.


“Memangnya dia siapa?”


“Dia itu Agil, ketua geng Lucifer. Lo pasti nggak asing kan dengan geng itu,” Sena memperkenalkan Agil cs secara tidak langsung kepada Bagas.


“Oh, jadi mereka itu sekolah disini?” Bagas mengangguk-angguk. Matanya langsung menatap lekat Agil.


“Lo nggak usah berurusan sama mereka,” nasehat Nana.


“Gue kan belum tahu semua tempat disini, kalian mau nggak jadi tour guide gue,” Bagas meringis.


“Gampang itu mah, tapi ada syaratnya,” Ucap Nana sembari melahap siomay terahir yang ada di piringnya.


“Apa syaratnya?”


“Gue mau tambah makanannya,”


“Boleh, lo borong gue juga nggak masalah,”


“Ini baru yang namanya teman, nggak pelit kaya lo Zi,” Nana mengangkat piring untuk di kembalikan sama ibu kantin dan mengganti menu yang baru.


Nana yang masih lapar akhirnya memesan soto,  wajahnya sumringah. Hari ini ia bisa makan kenyang tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun.


Gia yang mempunyai dendam sama Nana ingin sekali mempermalukan Nana di depan orang banyak. Gia menuangkan es jeruknya di sampingnya, jalan yang akan di lalui Nana.


“Nana,” seru Zia sembari berjalan mendekati Nana, Bagas pun tak mau ketinggalan. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Nana, namun dari belakang Agil menerobos sehingga menepis tangan Bagas.


“Bangun, mau jadi tontonan sampai kapan?” Agil menarik tangan Nana.


Agil menatap Gia dingin, auranya seperti ingin menerkam cewek yang membuat masalah dengan Nana.


“Bisa nggak jangan cari masalah?” ucapnya penuh amarah.


“Gue nggak ngapa-apain sumpah,” Gia mengangkat kedua tanganya berbentuk V. dia tidak mengakui kalau dirinya yang ingin menyelakai Nana.


Agil menarik tangan Nana, ia membawa Nana ke koperasi untuk berganti baju. Nana bingung, kenapa Agil menjadi peduli sama dirinya. Apa gara-gara ia menolongnya kemarin sore.


“Gue bisa sendiri kok,” Nana melepaskan tangan Agil.


Agil kembali menarik tangan Nana yang sudah terlepas, ia tidak mau mendengarkan ucapan Nana.


“Cari baju buat dia,” kata Agil saat sampai di koperasi.


Setelah membayar Agil mengajak Nana ke toilet, tak lupa ia memberikan seregam di tangannya. Nana tidak segera mengambilnya, ia justru masih terheran-heran dengan sikapnya.

__ADS_1


Beberapa hari lalu ia sangat sadis kepadanya, dan sekarang ia baik hati membelanya serta membelikan seragam untuknya.


“Kenapa diam saja mau gue pakaiin?” kata Agil datar serta memandangi Nana. Nana merebut baju di tangan Agil dan segera masuk ke kamar mandi.


Lima metit berlalu Nana sudah selesai berganti seragam, “Makasih,” ucapanya terhenti saat Agil sudah tidak ada di depan toilet.


“Kemana dia pergi?” Nana mencari Agil di sekitaran toilet.


“Nana, lo cari apa?” tanya bagas dengan nada sedikit tersengal-sengal karena lari mengikuti Zia yang sangat cepat.


“Tadi Agil ada disini, kok sekarang nggak ada ya?”


“Gue lihat ia pergi buru-buru sambil angkat telepon,” kata Zia yang sempat berpapasan dengan Agil.


“Sepertinya Kak Zola butuh bantuan dia,” tambah Zia.


“Oh,” jawab Nana dengan sedikit kecewa saat mendengar kata Zola, bukan perasaan cemburu hanya saja ia kecewa kenapa Agil pergi tidak menunggunya dulu.


“Ya sudah yuk, sebentar lagi Miss Ana masuk kelas,” Ajak Zia.


Bagas memperhatikan Nana, sepertinya ia tertarik dengan Nana. Nana yang merasa dilihatin langsung kelimpungan.


“Lo kenapa lihatin gue kayak begitu?”


“Nggak apa-apa, lo cantik sih,” ceplosnya.


“Heh, anak baru dilarang menggombal,” Zia melirk Bagas.


“Nggak, gue bukan gombal. Agil itu pacar lo Na?” Bagas kepo hubungan Nana dengan Agil. Dilihat dari kejadian tadi Agil sangat perhatian sama Nana meskipun dengan mode yang sangat kasar.


Nana dan Zia menahan tawa saat Bagas mengira Agil dan Nana itu pacaran, namun tak bertahan lama mereka berdua itu langsung tertawa renyah.


“Kok bisa begitu lo berpikir gue pacaran sama dia, memangnya dilihat dari segi apa?” kata nana masih dengan tawa di bibirnya.


“Ya dari perhatiannya sama lo,”


“Lo salah besar teman, lo masih terlalu dini mengenali kita semua. Gue jelaskan sedikit Agil itu ketua geng lucifer, dia sering menggangu Nana, dua hari sebelum kedatangan lo, Nana di buat sampai demam,” cerita Zia.


“Oya,” Bagas serasa tidak percaya dengan cerita Zia, jelas-jelas ia melihat dari kedua matanya sendiri bagaimana perhatianya Agil. Bagas menatap Nana meminta kejelasan perkataan Zia, Nana mengangguk dengan cepat.


“Kejam juga ya, cewek cantik kayak lo kok dibikin sampai demam. Harusnya kan disayang.” katanya yang membuat Nana dan Zia melongo.


“Bagas, lo suka ya sama Nana?” ceplos Zia.


Bagas menggerak-gerakan tangannya, tanda tuduhan Zia itu salah.

__ADS_1


“Syukur deh, bikin gue takut saja,” Nana mengelus dadanya lega. Dia bakalan berubah sungkan kalau tiba-tiba ada yang menyukainya.


__ADS_2