Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Jatuh Cinta


__ADS_3

Nana melepas helmnya lalu memberikannya kepada Agil, “Makasih ya sudah nganterin gue.”


Agil menganguk, ia ikut turun untuk menemui Ozi sekalian menjelaskan semua yang terjadi pada Nana. Dia pasti akan cemas melihat keponakannya babak belur.


“Lo mau ke mana?” Nana mengernyitkan keningnya.


“Gue ikut masuk."


"Mendingan lo pulang saja," pinta Nana, ia tidak mau nanti Ozi menyalahkan Agil.


"Kenapa gue nggak boleh masuk?" Agil melipat kedua tangannya di dada.


"Ya pokoknya nggak usah, lagian kan kita nggak dekat. Sudah sana pulang," Nana mendorong Agil supaya meninggalkan rumahnya segera sebelum Ozi melihatnya.


"Nana, kamu ngapain?" tanya Ozi yang sudah ada di belakang Nana dan Agil.


"Agil mau mampir nggak boleh Om," adu Agil.


"Nana kamu tuh ya teman mau mampir kok nggak boleh."


"Bukan teman," gumamnya pelan.


"Eh, wajah kamu kenapa?" Ozi memegangi wajah Nana.


"Itu Om tadi-,"


"Nana berkelahi," jawab Nana cepat sebelum Agil menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


Ozi menatap Nana lekat, ia lalu menjewer tingannya.


"Om suruh kamu buat melawan orang yang jahat bukan buat berkelahi," Ozi memearahi Nana.


"Ya kan mereka jahat sama Nana," Nana berusaha melepaskan tangan Ozi.


"Om, sebenarnya ini bukan salah Nana tapi salah saya," Agil mencoba membantu.


"Ini salah Nana sendiri kok Om, beneran. Jangan marahin Agil juga."


"Na, ini salah gue."


"Nggak, lo nggak salah orang ini kemauan gue sendiri," Nana masih saja kekeh kalau dirinya yang salah.


Nana tidak mau Ozi tahu kalau Agil anggota geng motor. Pasti Ozi akan menyalahkan Agil.


"Kalian berdua pacaran?" tanya Agil melihat kedua remaja di depannya itu saling melindungi.


"Nggak," ucap Nana dan Agil bersamaan.


"Kalau gitu, Agil pamit dulu ya Om," Agil pamit setelah memastikan Nana baik-baik saja.


"Iya, makasih ya Agil sudah jagain Nana," ucap Ozi.


Agil mengangguk sembari tersenyun, ia bukan menjaga Nana. Namun Nana lah yanh melindunginya.


...ΩΩΩ...


"Nana," teriak Zia dari lantai satu.

__ADS_1


Mendengar suara Zia, Nana langsung berlari turun. Ia takut Zia ngomong macam-macam yang membuat omnya tahu kalau ia bukan melawan orang jahat namun berkelahi dengan geng motor.


"Ada apa Zia?"


"Ini Om, bawain tas Nana. Ia main kabur saja dari,"


"Zia," seru Nana lalu membekam mulut Zia.


"Nana ke kamar dulu ya Om," Nana membawa Zia ke kamarnya.


Nana melepaskan tangannya lalu mengunci pintu kamarnya.


"Zia, lo kebiasaan deh teriak-teriak. Gimana kalau om gue tahu," Nana mengomel.


"Ya maaf, lo tadi dari mana sih? Gue kejar lo tapi sudah nggak ada?” tanya Zia.


“Gue tadi ke tempat Agil balapan,” katanya sembari merebahkan tubuhnya.


“Apa? Lo nggak bercanda kan?” Zia menarik tangan Nana sampai dia duduk lagi.


“Nggak,” jawabnya malas.


Nana ingin merebahkan tubuhnya namun di tahan sama Zia, dia masih memerlukan penjelasan lebih dari Nana.


“Apa lagi?” rengek Nana.


“Terus ini wajah lo kenapa?” Zia memutarkan jari telunjuknya ke wajah Nana.


“Gue berkelahi sama mereka.”


“Bukan, musuhnya.”


“Lo berani?”


“Sebenarnya nggak, cuma gue sudah bilang sama mereka. Kalau mau berkelahi sama Agil dan teman-temannya, eh malah tetap menyerang gue,” cerita Nana.


Zia mendorong kening Nana dengan jari telunjuknya,“Gila, lagian orang berkelahi pakai tawar menawar.”


“Ya kan gue nggak ada masalah sama dia, kenapa jadi gue yang di serang,” omel Nana.


“Ya lagian kenapa lo di sana. Alasan lo mencari Agil apa coba?”


Nana menggaruk tengkuknya sembari nyengir di tanya alasan mencari Agil. Zia mengerutkan keningnya sebentar membaca ekspresi Nana lalu tersenyum.


“Lo suka ya sama Agil,” Zia mendekatkan wajahnya tepat di depan Nana.


Nana mendorong Zia, “Cuma rasa kemanusiaan saja.”


“Bohong banget, mana ada rasa kemanusiaan sampai segitunya. Jujur deh,” Zia kembali mendekatkan wajahnya.


“Ok, kemarin itu gue nggak sengaja mendengar obrolan orang kalau bakalan menyelakai Agil di balapan itu. Makanya gue samperin soalnya di telpon nggak diangkat,” Nana menjelaskan kronologi yang sebenarnya.


“Gitu?”


“Iya.”


“Tapi kalau orang lain apa lo juga peduli? Gue rasa lo ada rasa kan. Ngaku deh, sama gue nggak usah malu-malu,” Zia masih tidak puas dengan jawaban Nana.

__ADS_1


“Rasa apa?” Nana masih tidak mengakui kalau dia memiliki perasaan sama Agil.


“Rasa yang bikin jantung lo berdebar tiap ketemu dia, sebal kalau dia dekat orang lain.”


Nana diam, ia mencoba mencerna omongan Zia. Memang beberapa hari ini dia merasakan sesuatu yang berbeda saat dekat dengan Agil. Apalagi saat kepalanya di usap sama Agil itu rasanya membuat ia ingin terbang tinggi.


“Gimana?”


“Janji lo jangan heboh dan ember?” ucap Nana. Zia megangkat kedua tangannya berbentuk V.


“Beberapa hari ini gue merasa aneh, deg-degan saja kalau dekat dia,” katanya.


“Fiks, lo suka sama Agil,” Zia menyatakan kalau Nana memang jatuh cinta sama Agil dengan tanda-tanda yang di berikan oleh Nana.


“Tapi kita kan nggak kenal, bagaimana bisa dikatakan jatuh cinta?” Nana merasa semua ini tidak benar.


“Ya namanya cinta mau kenal atau tidak ya tetap cinta. Makanya lo deketin dia biar kenal.”


"Nggak ah, gue takut patah hati. Saingan gue aja Kak Zola," Nana minder dengan Zola yang cantik baik.


"Ya kan lo belum berjuang."


"Zia, susah kali mendobrak hati orang yang sudah berisi. Udahlah jangan dibahas lagi," kalau ingat Agil dan Zola cuma bikin kesal.


"Na, lo kapan sih mulai suka sama Agil?" tanya Zia.


"Nggak tahu pasti, cuma semenjak sering bertemu gue lihat ada sesuatu yang lain dari dia. Manis banget loh sampai gue baper. Yang nyeka luka gue dan kasih salep juga dia," ujar Nana malu-malu.


"Sayang ya dia udah suka sama orang lain. Lo kira-kira mau rebut dia nggak?" tanya Zia.


"Nggak, jangan pernah mengambil hak orang lain," Nana menjatuhkan tubuhnya di kasur.


Zia pun ikut merebahkan tubuhnya, "Kira-kira Hendra sudah punya pacar belum ya?"


Zia melihat langit-langit, wajahnya cemas takut cintanya bertepuk sebelah tangan sama seperti Nana.


"Lo kenapa bisa suka sama Hendra?"


"Dia ganteng," jawabnya simple.


"Ganteng doang buat apa?"


"Ya buat pajangan," Zia merenges.


"Gue pertama kali lihat Hendra tuh takut, tapi pas kita main bareng tuh dia nggak serem. Dia manis kalau senyum, setia kawan pula."


"Semoga aja lo nggak bertepuk sebelah tangan," jelas Nana.


"Gimana ya agar bisa tahu kalau Hendra udah punya pacar atau belum?" Zia memiringkan kepalanya ke arah Nana.


"Biar gue tanya sama Toro deh," tutur Nana.


"Beneran?" Zia girang.


"Iya."


"Makasih bestie," Zia kegirangan memeluk Nana.

__ADS_1


__ADS_2