Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Berkelahi


__ADS_3

 Nana turun dari ojek, ia bergegas menemui Agil dan yang lain. Nana meminta berhenti tepat di depan makam agar tidak membuat orang curiga. Ia akan mengendap menuju tempat balapnya yang hanya berjarak beberapa meter dari makam.


“Neng,” Panggil Bang Rizal.


“Apa Bang?”


“Kita tukar nomor telepon ya, nanti kalau ada apa-apa bisa telepon abang,” Kata Rizal. Dia merasa cemas dengan Nana takut kenapa-kenapa, saat melihat gerombolan geng motor.


Nana membagi nomornya kepada Rizal, ia juga tidak keberatan. Kalau saja ada apa-apa dia bisa meminta bantuan.


“Bang, bisa pinjam topinya nggak?” Nana menunjuk topi yang ada di dasbor milik Rizal.


“Tapi ini bekas Abang?”


“Nggak masalah Bang,” Nana mengambil dari tangan Rizal. Nana menghentikan langkahnya dan kembali ke Rizal


“Ada apa Neng kok balik lagi?” tanya Rizal.


“Jangan pergi dulu ya, abang gue boking,” ujar Nana. Ia pasti butuh Rizal karena tidak membawa kendaraannya sendiri.


Nana mengikat rambutnya, lalu memakai topi untuk sedikit menutupi wajahnya. Agar tidak terlalu terpapar.


Nana berjalan mendekati Agil namun ia mengurungkannya saat melihat dua orang Geng Tiger. Nana berjalan mengendap agar tidak ketahuan.


“Halo, sudah siap di posisi?” tanyanya.


“Gue akan bawa dia belok arah ke jalan setapak, lo bisa habisi dia disana,” ucapnya lagi.


“Jalan setapak,” ujar Nana lalu bergegas kembali menuju Rizal yang sudah menunggunya.


“Bang, anterin Nana ke jalan setapk depan ya,” Nana langsung naik ke motor.


“Siap,” jawabnya sembari menjalankan motor metiknya.


Nana mengambil ponselnya, ia mencoba menelepon Agil siapa tahu dia akan mengangkatnya.


“Halo Agil,” kata Nana cepat saat Agil mengangkat telponnya.


“Siapa?” tanya Agil.


Nana mendengus, jelas sekali nomor barunya tidak disimpan sama Agil.


“Gue Nana,”


“Mau apa?”


“Lo jangan balapan ya,” pinta Nana.

__ADS_1


“Lo ngelindur?”


“Agil, dengerin gue sekali ini saja. Lo dan geng lo jangan balapan. Mereka curang, mereka akan membunuh lo di jalan setapak,” ucap Nana.


“Lo ngomong apaan sih, nggak jelas,” Agil mematikan sambungan teleponnya.


“Yah, kok malah dimatiin sih,” dengus Nana.


“Bang, cepat ya bawa motornya,” pinta Nana.


“Neng, tapi itu bahaya lo,” kata Rizal.


“Bang Rizal nggak usah cemas, gue cuma mau mengintai saja kok,” jelasnya.


Nana membayar ojek milik Rizal agar Bang Rizal bisa menarik penumpang lainnya. Ia akan menghubunginya saat semua sudah kelar, kalaupun tidak dia bisa jalan kaki sampai ke rumahnya.


Nana melihat satu mobil jeap hitam dengan empat orang yang sudah berjaga menunggu kedatangan Agil ataupun salah satu anggota Lucifer yang diajukan oleh Agil sang ketua.


Nana berada di balik pohon besar yang tertutup rerumputan, ia mengamati sekitar. Dia yakin kalau lawan Agil itu tidak hanya menyiapkan orang yang ada di mobil jeap saja.


Deru motor mulai terdengar, Nana bersiap kalau saja Agil memang butuh bantuannya. Meskipun itu hanya sebagian kecil, selain Agil kuat dia memiliki anggota yang banyak. Motor Agil di belokkan seperti kaya orang yang telpon tadi.


Nana mendengus, Agil sama sekali tidak mendengarkan ucapannya. Dia tetap balapan sampai-sampai dia masuk ke jebakan musuhnya.


“Ngeyel banget sih,” ujar Nana.


Dia pun menurutinya, “Licik ya kalian, segitu takutnya lawan team kami sampai-sampai pakai cara kotor,” ucapnya .


“Itu Agil bukan sih?” Nana mencoba melihat lebih jelas, kalau di lihat dari postur tubuhnya memang tidak terlalu beda. Namun suaranya terdengar beda.


“Cuih, itu bukan masalah. Yang penting sekarang lo mati di tangan gue,” sesumbarnya.


“Mana bos lo?” ucapnya kecewa ketika melihat orang yang di depannya bukan Agil saat membuka helm.


“Balapan,” jawabnya sambil tersenyum lebar.


Agil mengubah strateginya, meskipun tadi mengatakan kalau Nana tidak jelas membuatnya berpikir ulang. Sudah berapa kali dia di curangi Geng Tiger. Jadi tidak ada salahnya dia mencoba mengikuti saran Nana.


“Bukan Agil ternyata,” Nana menghela napas lega.


“Kurang ajar,” Orang besar itu langsung menyerang anggota Lucifer.


Nana belum melihat ada anggota Lucifer lain yang menyusulnya, sedangkan suruhan Geng Tiger sudah menyerang semua. Sehingga anggota geng Lucifer mulai kualahan.


Nana keluar dan membantu anggota Lucifer karena temannya tak kunjung datang.


“Siapa lo?” tanya anggota Lucifer saat berdiri bersama Nana.

__ADS_1


“Lo nggak perlu tahu siapa gue, yang terpenting sekarang gue di pihak lo,” ucapnya.


“Hey gadis kecil, lebih baik lo pergi dari sini,” katanya melihat Nana yang menggunakan seragam SMA.


“Benar, jangan terlalu ikit campur urusan orang dewasa. Lebih baik sekolah yang pinter,” tambahnya.


“Lepaskan dia, baru saja nggak ikut campur,” kata Nana dengan berani.


“Nyolot juga ini anak, jangan menagis ya kalau kita menyakiti lo,” ujarnya.


Perkelahian dua lawan satu, Nana tidak bisa di remehkan meskipun dia perempuan kecil dan masih menggunakan seragam sekolah. Setelah beberapa kali berkelahi Nana sedikit terbiasa.


Rasa takutnya sedang menghilang, karena dia tidak bisa melihat orang teraniaya.


Nana terlempar ketika mulutnya terkena pukulan, ia masih bisa berdiri meskipun perutnya merasa nyeri. Nana pasang kuda-kuda, menguatkan genggaman tangannya untuk membalas orang yang memukul perutnya.


“Menyerah saja lo anak kecil,” ejek mereka.


“Tidak akan,” jawab Nana penuh keyakinan.


Nana mengerahkan tenaganya, ia masih lumayan licah setelah beberapa kali pukulan yang dia dapatkan. Namun semakin lama tenaganya berkurang, orang-orang suruhan geng tiger benar-benar kuat.


Nana mengusap ujung bibinnya yang berdarah setelah mendapatkan pukulan di pipinya. Ia juga mengusap pipinya yang perih.


“Gimana masih mau lanjut,” ucapnya dengan napas terengah-enggah.


“Kalian berdua lebih baik menyerah,” ucapnya sembari membuat lingkaran saat anggota lucifer berdiri di samping Nana.


“Lebih baik lo kabur, cari bantuan ke teman-teman gue dekat makam,” ucapnya.


Nana mencoba melihat celah untuk menemukan jalan kabur, benar katanya jalau dia harus mencari bantuan karena mereka berdua tidak akan mampu melawannya.


“Meraka bukan tandingan kita,” ucapnya.


“Kenapa Agil sama yang lain tidak menyusul lo,” tanya Nana. Harusnya dia memberikan pengawalan juga.


“Gue rasa meraka juga sudah di cegat, geng tiger itu licik,”


“Kalian malah diskusi,” ujarnya sudah nggak hilang kesabaran.


Anggota Lucifer menghalau Nana agar dia bisa kabur dan meminta bantuan sama Agil. Nana pun lari sekuat tenaga, namun salah satu dari mereka mengejarnya.


“Lo mau ke mana?” dia menarik tangan Nana.


Nana menepisnya, ia melayangkan pukulannya namun mampu di tahannya. Ia mencengkeram kerah Nana.


“Anak kecil yang manis, tapi lo menyebalkan,” ucapnya sembari memukul wajah Nana pas di hidung Nana sampai berdarah-darah.

__ADS_1


__ADS_2