Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Gara-Gara Toro


__ADS_3

Nana lompat dari pintu bus,lalu berlari menuju gerbang saat terdengar dengan nyaring bel masuk sekolahnya.


Nana sudah sampai di tengah-tengah gerbang, selangkah lagi ia bisa masuk dan bisa ikut upacara. Namun sialnya Toro menarik tasnya hingga ia terjatuh di lantai.


“Rese banget sih,” ucapnya sambil berdiri.


“Sorry.” Toro tersenyum sembari mengangkat kedua tangan berbentuk V ke udara.


Wajah Nana merengut, terlihat serem. Tangan kanannya membersihkan roknya yang kotor.


“Kenapa lo tarik gue, nggak bisa masuk kan gue,” omel Nana. Entah mengapa di matanya Toro itu tidak semenyeramkan yang lain. Kalau pun dia macam-macam Nana bisa melawannya.


“Sorry, gue kira pintu gerbang.”


“Mata lo bermasalah ya, nggak bisa membedakan mana tas mana gerbang,” omel Nana.


Nana mendengus, ia mengambil tas yang masih tergeletak di lantai. Nana mendelik saat berdiri tegak sudah berdiri Miss Ana dengan pandangan tajamnya.


“Kamu terlambat lagi?”


“Sebenarnya nggak Miss, cuma dia,” Nana menurunkan jari telunjuknya serta menghentikan suaranya saat Toro sudah tidak ada di sampingnya.


“Dia siapa?”


“Miss tadi ada Toro, dia yang menarik saya sampai nggak bisa masuk.”


“Kalau cari alasan yang masuk akal, lihat Toro saja sudah di dalam bagaimana bisa gangguin kamu.”


Dari belakang Miss Ana Toro senyum-senyum, ia menjulurkan lidahnya mengejek Nana.


“Miss beneran, tadi dia yang buat saya terlambat,” Nana masih mencoba meyakinkan Miss Ana meskipun hasilnya hanya satu persen.


“Pak, buka kan pintu kalau upacara selesai. Dan kamu Nana selepas istirahat pertama kamu bersihkan lapangan basket,” Kata Miss Ana.


Nana duduk selonjoran dengan punggung menyender ke gerbang, dalam dadanya bergemuruh dendam. Ia ingin membalas semua perbuatan Toro padanya.


1


...ΩΩΩ...


“Na,” panggil Zia saat ia sudah berdiri diambang pintu kelasnya. Nana tidak menjawab, ia menaruh tasnya dan berlalu pergi.


“Nana, lo mau kemana?” seru Zia.


“Lapangan basket,” jawabnya tanpa menoleh.

__ADS_1


“Ada apa dengan dia hari ini,” Zia bergegas menyusul Nana.


Nana sudah membawa peralatan yang ia ambil dari kantor ob, satu sapu dan satu set pel. Nana berada di tengah-tengah melihat area lapangan basket beserta tempat duduknya sangat luas.


“Gue benci banget sama hari senin, upacara, matematika, fisika di tambah hukuman ini,” omelnya sambil mulai menyapu.


“Nana, lo di hukum sama Miss Ana?” tanya Zia.


“Iya, selain wali kelas merangkap jadi guru bk kah? Senang banget menghukum gue,” omel Nana tidak ada habis-habisnya.


“Jangan ngomel saja, nanti nggak selesai-selesai. Gue bantuin lo, sebentar gue ambil sapu dulu.”


“Lo memang bestie gue,” Nana mengangkat kedua tangannya yang membentuk hati.


Nana sibuk mulai sibuk menyapu pun terhenti saat mendengar keributan, Agil cs bersama murid lain masuk ke ruangan. Nana menuruni tangga yang cuma berjumlah empat.


“Kalian mau apa?” tanya Nana.


“Main basketlah masa main gundu,” jawab Gavin.


“Benar juga,” Nana menjawab dengan polos dengan tangan menggaruk kepala. Agil terheran-heran dengan Nana bisa sepolos itu.


“Ets, tapi lapangan ini sedang gue bersihkan. Kalian tidak bisa pakai sekarang.”


Agil yang berada di belakang Gavin maju sampai berhadapan dengan Nana, ia membawa bola basket meleparkan di muka Nana lalu menangkapnya lagi. Nana memundurkan kakinya karena kaget.


“Lo mau mati kena bola?” bisik Agil di telinga Nana.


Nana mundur, mulutnya manyun ia merasa kalau Agil cs memang sengaja mengerjai dirinya.


“Loh, kok mereka pada main,” Zia bingung.


“Sengaja mereka, kalau begini gue yang ada nggak ikut pelajaran hari ini,” Keluh Nana.


Nana memutar otak, bagaimana caranya agar bisa membuat semua orang yang ada di lapangan basket pergi. Nana mengepalkan kedua tangan, ia memejamkan matanya, menghirup udara dalam-dalam.


Nana mengambil ember warna merah yang berisikan air yang sudah bercampur dengan pembersih lantai. Ia lalu mengguyurkan di lapangan.


Zia melongo lalu menutup mulut dengan kedua tangannya, “Nana, lo gila?”


“Ini satu-satunya cara buat mereka pergi,” Nana menaruh ember di sampingnya.


Agil cs pun langsung menyingkir, mereka takut terpeleset. Emosi Agil meluap, dia masrah besar karena Nana terlalu berani kepadanya. Ia membanting bola keras-keras. Semua orang takut, Nana pun begitu ia baru tahu kalau Agil marah itu sangat seram.


Agil mendekati Nana lalu mendorong hingga Nana jatuh terduduk, Agil memegang dagu Nana kasar.

__ADS_1


“Lo terlalu berani,” Agil melepaskan dagu Nana dengan kasar lagi.


Nana terdiam, ia benar-benar takut. Sorot mata Agil benar-benar tajam. Ia baru tahu ada orang sekejam itu, bahkan sama perempuan pun tak ada kasihannya.


“Cabut.” Agil mengajak ketiga sahabatnya pergi. Moodnya berubah semakin buruk karena tingkah Nana.


“Wuuuu.” semua murid di lapangan menyoraki Nana.


“Nana lo nggak apa-apa?” Zia membantu Nana bediri.


“Zia kaki gue lemas,” Nana masih gemetar. Baru saja begitu ia sudah sangat ketakutan.


“Makanya jangan berani-berani sama dia, gue sudah mengingatkan berapa kali coba. Sekarang lo benar-benar target dia,” Omel Zia. Dia sudah memberitahunya berkali-kali namun Nana terus saja bertindak tanpa berpikir panjang.


Nana mendadak menangis, “Gue pindah sekolah saja bagaimana, gue takut?”


Nana selalu berusaha menghindari Agil, namun justru selalu bermasalah dengannya.


Zia memeluk Nana, “Udah jangan terlalu berpikir jauh. Mereka nggak sejahat itu,” Zia mengusap punggung Nana agar tenang. Meskipun ia pun nggak tahu apa yang akan di lakukan Agil untuk Nana, namun ia juga tak mau kehilangan sahabatnya.


“Tapi mereka geng lucifer,” Nana menangis dengan kencang.


“Meskipun mereka geng lucifer, lo masih bisa mengalahkan mereka.”


“Caranya?”


“Gue bakalan live semua media sosial saat mereka menggangu lo, jadi nanti bakalan banyak netizen yang bakalan belain lo.”


Nana menatap Zia aneh, ide yang di berikan sangat konyol menurutnya.


Nana mengambil pel yang tergeletak di samping embar, ia berdiri dan mulai membersihkan air yang berceceran.


“Na, bagaimana?”


“Ide lo nggak masuk.”


“Lo nggak percaya? Netizen plus enam dua itu bisa diandalkan tahu.”


Nana menberikan pel yang di pegangnya, lalu mengambil satunya lagi yang masih tergeletak di lantai.


“Gue percaya, tapi saat live nggak ada orang yang nyata di depan gue. Ya keburu mati. Sudah deh, sekaranng bantuin gue bersiin ini. Lima belas menit lagi bel.”


“Ya seenggaknya lo mati nggak sia-sia, masih mendapatkan keadilan.”


Nana berkacak pinggang, “Lo do’ain gue mati.”

__ADS_1


“Misalnya. Dia punya kuasa, dia punya duit, tapi pemikiran gue, lo bisa saja menang soal kekalahan,” Kata Zia dengan bernada seperti yang sedang viral.


“Taik.”


__ADS_2