Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Menjauh 2


__ADS_3

Nana menyenderkan tubuhnya di dinding kelas IIX, kelas milik Zola. Dia ingin menuntaskan masalah yang terjadi. Ia merasa bersalah karena dirinya membuat Agil dan Zola bertengkar.


“Nana, kok ada di sini?” tanya Zola saat keluar kelas.


“Iya Kak, bisa ngobrol sebentar?” tanya Nana. Zola meminta temannya untuk pergi lebih dahulu.


“Kita mau ngobrol di mana?” tanya Zola.


“Terserah Kak Zola saja,” Nana ikut saja Zola mau mengajak dia ngobrol di mana.


Zola mengajak di taman saja, tempat yang nyaman untuk ngobrol bersama dengannya. Nana memilih di bawah pohon rambutan, yang sejuk.


“Apa ada masalah?” tanya Zola.


“Begini Kak, gue mau minta maaf sama lo,” Nana langsung to the point.


“Soal?” Zola mengerutkan keningnya, dia merasa tidak punya masalah sama sekali sama Nana.


“Soal gue di belikan hp sama Agil, gue nggak minta kok. Ini gue kembaliin sama Kak Zola,” Nana mengambil ponsel di kantong bajunya.


Zola menganga, ia bingung dengan apa yang di bicarakan oleh Nana.


“Maksudnya bagaimana? Gue nggak ngerti?”


“Maaf karena Agil membelikan hp ini, kalian jadi berantem,” Nana menundukan kepalanya. Ia malu telah membuat hubungan seseorang renggan, padahal dia tidak kenal dan tidak dekat. Karena Zola sangat baik padanya makanya Nana rela meminta maaf.


Nana mengangkat kepalanya saat mendengar Zola tertawa, ia bingung kenapa malah menertawakannya.


“Kak Zola kok malah tertawa nggak marah sama Nana?” Nana menggaruk kepalanya.


“Nana, kamu lucu deh. Lagian siapa yang berantem. Dan gue juga nggak ada hak marah juga kan,” Zola menggelengkan kepalanya.


“Kalau Kak Zola nggak berantem sama Agil, terus kenapa dia marah-marah semalam?”


“Agil marahin lo?”


Nana menutup mulut dengan kedua tangannya, ia keceplosan.


“Enggak kok,” Nana meringis.


“Awas saja kalau dia sampai marahin lo. Nana, lo jangan khawatir tentang hubungan kita. Gue sudah punya pacar kok, jadi lo nggak usah cemburu,” Zola memegang pundak Nana.


“Nana nggak cemburu, hanya meluruskan masalah saja kok,” Nana jadi bingung kenapa dia malah di tuduh cemburu melihat kedekatan Agil dan Zola.


“Udah jangan malu, ke kantin yuk, masih ada waktu.”

__ADS_1


Zola menggandeng tangan Nana, mereka berdua terlihat sangat akrab meskipun tidak kenal dekat. Gia yang melihat kedekatan Nana dan Zola kesal, ia ingin membuat hubungan pertemanan mereka rusak. Karena yang boleh menjadi pacarnya Agil itu hanya dirinya bukan Nana ataupun Zola sekalipun.


*****


Zola berdiri pintu masuk kantin, ia mencari keberadaan Agil di lautan siswa yang sedang makan siang.


“Itu dia,” tunjuknya sembari menarik tangan Nana agar mengikutinya.


“Boleh gabung?” tanya Zola.


“Tentu saja, ibu negara boleh bergabung,” sahut Gavin.


Dengan cepat Zola menepuk pundak Gavin agar dia tidak mengatakan itu di depan Nana.


“Kak, Nana mau cari Zia dulu ya. Pasti dia sudah tungguin gue,” Nana mencoba kabur dengan alasan di tungguin Zia.


“Lo di sini saja,” Zola mendudukan Nana di kursi samping Agil.


Agil mengangkat kepalanya, ia melihat Nana jengah. Baru juga tadi pagi ia memuju kalau Nana tidak bebal, tapi sekarang dia sudah ada di sampingnya bahkan ia bersama Zola. Sorotan mata Agil sangat dingin membuat Nana ketakutan.


Mati gue, batin Nana


“Agil, lo jangan galak-galak kali sama Nana. Kasian kan dia ketakutan,” kata Nana sambil duduk di samping Toro.


“Hm,”jawab Agil dingin.


“Semalam lo marahin Nana kan?” Agil menaruh garpu yang di pegangnya.


Nana semakin tidak berkutik, kenapa Zola ngomong seperti itu di depan Agil. Habislah sudah riwayatnya.


“Kapan Agil marahin Nana?” Toro kepo.


“Nggak ada,” jawabnya dingin.


“Agil nggak marahin Nana kok, salah paham saja tadi Kak Zola,” ucapnya yang justru menarik perhatian Hendra, Toro dan Gavin.


“Ada apa sebenarnya ini? Cinta segitiga kah?” Gavin mulai drama.


“Nana, lo suka ya sama Agil?” Toro menatap Nana sembari tersenyum, Nana mengibaskan tangannya.


“Jujur lo, suka kan?” tuduh Hendra dengan tatapan tidak suka. “Lo pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan,” tambahnya lagi.


Agil berdiri dan menarik tangan Nana pergi dari kantin, ia membawa ke gerbang belakang.


“Lo ngadu apa sama Zola?” Agil melepaskan kasar tangan Nana.

__ADS_1


“Gue nggak mengadu, gue cama-,” ucapnya terpotong.


“Cuma apa?” bentak Agil yang memutus omongan Nana.


Mulut Nana seperti terkunci mendengar bentakan yang di berikan oleh Agil.


“Kenapa diam?” Agil mendorong Nana hingga tubuhnya bersandar di tembok.


“Gue cuma mau meluruskan masalah, agar lo sama Kak Zola tidak berantem itu saja,” jelas Nana dengan tubuh bergetar.


“Gue bilang jauhi gue, jangan dekat-dekat lagi dengan gue dan juga sahabat-sahabat gue termasuk Zola,” tukas Agil.


“Ingat sekali lagi, jangan terlalu ikut campur. Urusan kita sudah selesai,” tukas Agil, Nana yang masih terdiam kaku.


“Nana, jangan lo pikir gue mengganti hp lo karena gue suka sama lo, gue hanya melakukan hal yang seharusnya gue lakukan.”


“Lo salah paham Agil, gue juga nggak suka sama lo. Gue hanya melurusakan semua ini.”


“Gue ingatkan sekali lagi, jangan pernah jatuh cinta sama gue,” bisiknya lalu pergi meninggalkan Nana.


“Kenapa dia pikir gue suka sama dia,” keluh Nana.


Niat dia baik, tapi kenapa malah mendapatkan makian dari Agil. Dia bisa semarah itu padahal hanya ngobrol sama Zola. Salah dia di mana sebenarnya.


Sepeninggalan Agil, Gia bertepuk tangan sembari mendekatinya.


“Nana,Nana, sudah di bilang Agil itu tidak suka sama lo masih saja mengejarnya. Bebal banget sih lo,” ejek Gia.


Nana tidak menggubris ucapan Gia, ia nyelonong pergi meninggalkanya.


“Mau kemana lo? Gue baru ngomong sama lo main pergi saja,” Gia menarik tangan Nana. Nana dengan kasar menepisnya.


“Jangan cari masalah sama gue,” tukas Nana yang enggan berdebat dengan Gia.


“Harusnya lo yang jangan cari masalah sama gue, jauhi Agil cs atau lo mau menerima akibatnya,” ancam Gia.


Nana melirik dan berlalu pergi, ancaman dari Gia benar-benar tidak berpengaruh oleh Nana. Baginya Gia itu hanyaah cewek yang beraninya mengertak. Jika terjadi sesuatu dia hanya mengandalkan orang tuannya.


Nana masuk ke dalam kelas, langkahnya sangat lemah. Ia duduk di bangku lalu menaruh kepalanya di atas meja.


Zia menatap Nana dengan heran, “Ada apa Na?”


“Agil maki-maki gue.”


“Kan gue sudah bilang jauhi dia, lo malah semakin mendekat,” sahut bagas kesal. Ia sudah beberapa kali mengingatkan agar Nana tidak dekat-dekat dengan Agil.

__ADS_1


“Kenapa gue harus menjauh, orang gue juga nggak dekat,” ucapnya lirih.


__ADS_2