
Di jam terakhir Nana mulai tidak tenang, ia memikirkan cara bagaimana meminta maaf. Ia tidak bisa menganggap semuanya impas.
“Kenapa sih kasak-kusuk mulu?” bisik Zia.
“Gue mikirin cara berterima kasih buat Agil.”
Bibir Zia tersenyum merekah, ia berpangku tangan dengan menumpukan siku tangan di meja. Menatap Nana penuh makna.
“Apa sih?”
“Lo suka ya sama Agil?”
“Jangan ngadi-ngadi deh.”
“Kalau nggak suka terus kenapa lo tiba-tiba ngebet mau mengucapkan makasih sama dia. Lagian kan impas sama yang dia lakukan kemarin.”
“Lo bilang tadi gue harus berterima kasih, bagaimana sih plin-plan amat,” Nana manyun sembari melipat kedua tangannya.
Zia menyentuh dagu Nana,”Jangan manyun aja deh, belikan saja kesukaan Agil.”
“Memangnya apa kesukaanya?” Nana kembali ceria saat Zia memberikan ide.
“Ya nggak tahu, berarti lo harus cari tahu sendiri,” Zia merenges.
“Itu bukan solusi terbaik.”
Dug..dug.. Zia menendang kursi yang di duduki sama Sena.
“Apa?” Sena menoleh.
“Lo tahu nggak makanan kesukaan Agil?”
“Kesukaan Agil?” Sena mengerutkan keningnya.
“Iya lo kan update banget kan tentang Agil,” Nana memajukan kepalanya agar suara kecilnya terdengar oleh Sena.
“Gue kurang tahu pastinya, tapi biasanya mereka kalau istirahat makanya batagor. Tapi kalau di kantin belakang nggak tahu.”
“Nana, Zia, Sena, kalau kalian mau ngobrol di luar!”
“Maaf Buk,” mereka bertiga langsung menarik diri hingga duduk
dengan tegak.
Seperti informasi yang di dapat dari Sena, Nana pergi ke kantin selepas bel pulang sekolah berbunyi.
“Buk, batagor empat ya,” Nana mengangkat empat jari ke atas udara hingga terlihat ibu kantin.
“Siap Neng, mau pedes apa nggak?”
“Pedes Buk, bumbu minta di pisah saja ya.”
“Baik.”
__ADS_1
“Lo yakin, Na?”
“Iya, sesuatu yang baik itu bakalan dapat baik juga. Kan gue juga cuma mau berterima kasih sekalian minta maaf gara-gara kejadian kemarin. Gue mau hidup tenang.”
“Iya juga sih, gue temani deh. Takutnya kenapa-kenapa.”
“Lo bolos les?”
“Demi lo,”
“Makasih Zia sayang,” Nana memeluk Zia.
Mereka berdua menuju ke lapangan basket, biasanya setelah pulang sekolah Agil cs selalu ke lapangan basket. Sampai di ambang pintu Nana kembali keluar.
“Kenapa?”
“Mendadak gue takut,” ujarnya sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang karena panik.
“Kalau lo nggak yakin mending kita balik saja,”
“Jangan dong,” Nana mengatur napas, meyakinkan diri.
Nana melakngkahkan kakinya dengan yakin, setapak demi setapak hingga ia tepat berada di depan Agil. Agil menurunkan botol air mineral, ia menutup botol lalu melempar kepada Hendra yang sudah menunggunya.
“Lo mau apa?” tanyanya dingin.
“Gue mau ucapin makasih sama lo dan yang lain, tadi merawat gue,” Nana mengulurkan tanganya, sehingga plastik berisikan batagor tepat di wajah Agil.
Kedua mata Nana mendelik, kantong plastik ukuran kecil itu di lepaskan begitu saja sama Agil. Nana melihat ke lantai, semua batagor beserta sambal kacang berserakan di lantai.
“Yah sayang banget itu batagor,” ujar Toro mendekati Agil.
Gia berdiri, dia yang awalnya marah saat kedatangan Nana kini berubah sangat senang. Dia pikir Agil bakalan menerima pemberian Nana, dan akan menjadi saingan barunya ternyata salah.
Gia mendorong Nana dengan jari telunjuk dan jari tenganhnya,”Makanya jadi cewek jangan ganjen. Agil itu nggak suka cewek macam lo.”
“Kurang apa pelajaran yang gue kasih, sampai lo masih berani mendekati Agil.”
Kedua mata Nana berubah nanar, niat baiknya tidak di terima oleh Agil.
“Diam lo, lagian lo siapa sih ikut campur saja. Dan lo Agil, kalau nggak mau tolak saja jangan di buang-buang juga,” Zia menggandeng tangan Nana.
“Nggak usah sok galak, bawa pergi sana teman lo,” Hendra tidak terima Zia memaki Agil.
“Agil,” panggil Zola dari ambang pintu.
Nana menoleh lalu kembali melihat kearah Agil, Nana melihat dengan jelas perubahan wajah Agil. Wajahnya berbinar, senyum mengembang di bibirnya sampai pipinya mengembung.
“Gimana lo sudah merawat dia dengan baikkan?” tanya Zola dengan suara yang lembut.
“Sudah sembuh, itu sudah bisa menumpahkan batagor di lantai,” tunjuk Agil.
“Bagus, baru anak ganteng,” Zola mengacak-acak rambut Agil.
__ADS_1
Rasanya hancur banget mengetahui hal yang sebenarnya, ternyata Agil merawat dirinya itu bukan karena niatnya sendiri melainkan karena Zola. Sedangkan Gia merengut memandang keromantisan yang di ciptakan sama Zola dan Agil.
“Gue anterin pulang,” Agil menggandeng Zola.
“Kak gue bisa ikut bareng?” Gia masih saja berusaha meskipun tahu saingannya Zola. Gia berniat untuk merebut Agil dari Zola.
“Boleh dong, iya kan Gil. Kalian berdua mau ikut sekalina?” ajak Zola.
Agil tidak menjawab, ia justru keluar lebih dulu. Ia hanya ingin bersama Zola, kenapa jadi banyak yang ikut membuat dia menjadi badmood.
“Nggak Kak, makasih gue sama Zia mau membersihkan ini,” Nana menunjuk batagor di lantai.
“Ah sayang banget, lo namanya siapa?” Zola mengulurkan tangannya.
“Nana, dan ini teman gue Zia.”
“Ok, Nana bisa minta nomor teloponya?”
“Iya kak,”
*****
Sepanjang perjalanan dari lapangan basket sampai gerbang sekolah Nana manyun saja. Masih sakit hati karena perlakuan Agil.
“Na,” Zia menyengol lengan Nana.
“Ya.”
“Lo kenapa sih diam saja, mana manyun lagi?”
“Gue itu masih kesel banget, pingin gue tonjok tahu wajah Agil itu,” Dada Nana bergemuruh.
“Lo sekarang sudah tahu kan bagaimana dia, mending lo anggap saja apa yang di lakuin kemarin impas. Lagian dia melakukan itu juga karena Kak Zola.”
“Iya, gue nggak akan lagi melakukan itu. Bikin gue badmood saja,” Nana menendang kerikil keci kuat-kuat.
“Zia lo mau ikut gue atau lo mau pulang dulu?”
“Lo mau kemana?”
“Ke makam.”
“Gue pulang dulu deh. Jangan lama-lama ya Na agak mendung takutnya hujan.” “Iya.”
Nana mengambil sepeda yang terparkir di depan rumahnya, ia mengayuh sepeda santai. Angin sore hari ini sedikit menusuk karena langit mendung, sepertinya sebentar lagi hujan akan mengguyur bumi.
Nana memparkirkan sepedanya di tempat biasa, depan pintu masuk ke makam. Nana membawa bunga yang ia petik sendiri di rumahnya, bunga yang masih sangat segar.
“Ma, Pa tahu nggak Nana itu kesel banget sama satu cowok beserta teman-temannya. Mereka jail sama Nana, mana tadi batagor yang Nana kasih di lempar di lantai. Ma, Pa kasih kekuatan dong buat Nana, Nana mau pukul itu cowok sampai dia bertunduk di kaki Nana.”
Suara berisik kendaraan di area makam terjadi lagi, Nana yang sedang curhat sama mendiang ibu dan bapaknya sangat terganggu.
“Lagi-lagi mereka,” Katanya sambil berdiri.
__ADS_1