Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Geng Lucifer


__ADS_3

Bel istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu namun Nana belum beranjak dari kursinya. Ia masih sibuk mengeringkan bajunya.


“Na, ayo ke kantin,” ajak Zia.


“Lo ke kantin duluan gih, baju gue masih basah malu kalau di lihat orang,” Nana melihat Zia sebentar lalu sibuk lagi menggerak-gerakan kipasnya.


“Nggak kelihatan kali Na kalau jauh, emangnya lo nggak lapar. Habis ini matematika loh, pasti semakin menguras tenaga. Dua jam bayangin,” Zia meminta Nana membayangkan pelajaran matematika yang super rumit dan selalu saja menguras energi.


“Ya sudah,” Nana berdiri. Ia juga tidak mau kelaparan dua jam ke depan, ditambah ia juga sudah lapar, semua energinya telah terkuras saat membersihkan sampah yang sia-sia.


“Sen, gabung ya.” Nana dan Zia meletakkan makanan yang di pesannya bersamaan.


“Ok.”


Nana memesan bakso dan es teh, ia bergegas meracik bakso dengan saus, kecap dan sambal. Aroma bakso sangat menggoda sampai perutnya bunyi berkali-kali.


Nana menyicipi kuahnya saat teracik sempurna menurutnya, ia langsung melahap mienya terlebih dahulu. Setelah mie tinggal sedikit ia mulai memakan baksonya. Nana menusuk bakso berukuran bola pimpong dan segera melahapnya.


Nana memperlambat kunyahanya, ia seperti sedang diperhatikan oleh seseorang. Nana pun mengangkat kepalanya, tak lama langsung menundukannya lagi. Ia menutup wajahnya dengan tangan kirinya.


“Lo kenapa?” tanya Zia.


“Jangan menoleh,” pinta Nana.


“Ada apa sih, jangan bikin gue kepo deh.”


“Iya Na, ada apa sih?”


“Di belakang kalian itu ada Agil yang terus menatap gue,” ucap pelan Nana.


“Lo habis melakukan kesalahan ya?” tanya Sena.


“Memangnya kenapa?”


“Biasanya Agil itu tidak menatap orang kecuali sahabatnya atau target dia,” Jelas Sena.


“Gue bukan sahabatnya, berarti gue target dia dong,” Nana berubah panik


“Memangnya lo salah apa sih sampai dia menargetkan lo?”


“Tadi gue suruh dia beresin semua sampah yang diberantakin dia sama sahabatnya. Dan gue juga menginjak kakinya.” Nana menggigit bibir bawahnya.


“Lo sudah melebihi batas Na, gue takut lo jadi target kejailan mereka loh. Asal kalian berdua tahu ya, selain dia pemilik sekolah ini, Agil itu ketua geng Lucifer. Kalian tahu kan gen Lucifer?” tanya Sena.

__ADS_1


“Gue tahu, geng yang terkenal diseantero Jakarta ini kan, karena sering tawuran.” Zia sangat tahu karena beritanya sangat viral. Dimana-mana menjadi omongan.


Nana menatap Agil sekilas, pantas saja saat tadi ketemu seperti pernah melihatnya.


“Tadi lo bilang geng apa Sen?”  Nana memastikan sekali lagi.


“Geng Lucifer.”


“Mati gue.” Nana menepuk keningnya, ia menyerupu es tehnya sampai habis lalu kabur tanpa pamit sama Zia dan Sena.


“Na-Na lo mau kemana?” Zia memasukan batagor terakhirnya lalu lari mengejar Nana.


“Gue kok jadi di tinggalin sih,” keluh Sena.


...ΩΩΩ...


Nana menarik tas yang menyantel di kursi, ia langsung kabur ketika guru sudah meninggalkan kelasnya.


“Nana, tunggu,” panggil Zia sembari menarik tas Nana saat jarak sudah dekat. “Lo kenapa sih?”


“Zia, gue harus segera pulang sebelum ketemu sama Agil cs.”


“Kenapa?”


“Lo ingat nggak kemarin gue cerita tentang balapan liar itu?”


“Itu geng Lucifer, dan gue sudah membuat beberapa kesalahan, yang pasti mereka nggak akan melepas gue kan.”


Zia mengangguk-anggukan kepala, ia mengerti keadaan sahabatnya itu. Zia menggandeng Nana dan meneruskan larinya. Nana menghentikan larinya saat melihat motor geng lucifer berderet dekat gerbang.


“Zia, gue nggak bisa lewat depan,” Nana melepaskan pegangan tangan Zia.


“Nana, kenapa lo jadi ketakutan begini sih. Lewat tinggal lewat lagian ini kan sekolahan mereka nggak bakalan macam-macam. Percaya deh sama gue,” Zia meyakinkan Nana.


Nana memutar tubuhnya dan berbalik lari masuk ke dalam sekolahan, ia tidak bisa santai lewat begitu saja seperti yang di katakan Zia.


Ia sudah ketakutan apalagi ia tahu kalau Agil anak pemilik sekolah, bisa-bisa ia langsung di depak dari sekolah.


Dan parahnya lagi kalau ia sampai di blacklist dari semua sekolah. Imajinasi Nana memang terlalu jauh, efek dari sering menonton drama. Nana sudah ketakutan sendiri padahal Agil tidak melakukan apa-apa.


Nana sampai di pintu gerbang belakang yang tidak pernah di jamah anak-anak kecuali mau membolos atau datang telat.


Nana mendorong gerbang bercat coklat pudar yang mulai berkarat. Terlihat kalau sangat tidak terawat.

__ADS_1


Nana tersenyum namun tak lama senyumnya menghilang, ia melihat Agil bersender di tembok dengan kaki kirinya terangkat. Mata Nana langsung mengarah ke tangan Agil, terselip rokok diantara jari telunjuk sama jari tengahnya.


“Kenapa lo lihat-lihat," ucapnya. Selalu datar menusuk kedalam gendang telinga.


Nana kaget, ia terlalu fokus sampai suara Agil mengagetkannya. Ia berjalan mendekati Agil lalu mengambil rokok di tangan Agil. Nana menjatuhkannya di tanah lalu menginjaknya hingga mati.


“Heh, berani ya lo.” Agil kesal. Ia menunjuk wajah Nana sembari menurunkan kakinya Agil menarik tangan Nana dan mendorongnya sampai tembok.


Nana cepat mengambil permen dari saku bajunya, ia membuka plastik premen susu lalu menyuapkan ke mulut Agil saat membuka mulut untuk memakinya.


“Merokok nggak baik buat kesehatan, lo masih muda,” ucap Nana sembari jongkok untuk kabur dari kungkungan tangan Agil.


Agil yang bengong karena tingkah Nana sehingga kecolongan, Nana lolos begitu saja sebelum dia memberikan ancaman agar ia tak macam-macam dengan dirinya.


“Rese banget sih cewek, lihat saja gue bakalan kasih lo pelajaran,” Agil membuang permen sembarangan.


Nana duduk di kursi besi yang ada di halte, ia memegangi dadanya yang berdegup kecang. Ia sekarang benar-benar takut dengan Agil, tatapan tajamnya tadi seakan ingin membunuh dirinya dengan cepat. Entah ia memiliki keberanian dari mana bisa-bisanya ia membuang rokok milik Agil.


“Nana-Nana apa sih yang lo pikirkan tadi?” Nana mengacak-acak rambutnya. Sekarang  ia bukan  terhindar dari masalah malah semakin menambah masalah.


...ΩΩΩ...


Nana menunggu respon Zia setelah ia selesai menceritakan kejadian di gerbang belakang sekolah. Zia membenarkan posisi duduknya, ia menatap lekat-lekat sahabatnya itu. Kemudia ia menyentil keningnya keras-keras.


Nana menrisingi menahan perih, tangannya mengelus pelan keningnya, “Sakit tahu,” Nana manyun.


“Lo benar-benar gila, lo  benar-benar mau jadi target berikutnya."


Nana mengerutkan keningnya, “Emang target apaan?”


“Target bahan pembullyan, semua orang yang berurusan sama dia itu bakalan dikerjain habis-habisan. Lo tahu nggak kenapa geng mereka diberikan nama lucifer?”


“Nggak.” Nana menggeleng pelan.


“Lucifer itu adalah iblis, iblis paling kuat. Selain itu bisa dikatakan raja tega,” ucap Zia.


Nana bergidik, ia menaruh kepalanya di meja, “Gue harus bagaimana?”


“Ya nggak bagaimana-bagaimana, kalau lo di buly kan lo bisa lawan. Buat apa menyangdang sabuk hitam kalau nggak di gunakan.”


Nana mengangkat kepalanya, hingga ia duduk tegak, “ Gue memang sabuk hitam, tapi kan mereka nggak sendiri pastinya gue kalah. Mana badanya besar-besar lagi,” Nana kembali bergidik saat membayangkan kalau harus berkelahi dengan Agil cs yang memiliki tubuh tinggi atletis.


“Kemarin-kemarin nggak usah les karate, buang-buang duit," cicit Zia.

__ADS_1


“Eh, gue karate cuma buat jaga-jaga melindungi diri kalau kepepet," belanya.


Nana lebih memilih kabur kalau ada jalan, daripada harus berkelahi sama orang. Meskipun sabuk hitam namun ia sangat penakut.


__ADS_2