Kekuatan Cinta Cyra

Kekuatan Cinta Cyra
21. Pendekatan


__ADS_3

Siang itu, Celia dan Cyra kembali lagi ke restoran Khalid untuk makan siang di tempat itu.


Sebelum mengenal Khalid, kedua gadis itu memang sudah menjadikan tempat itu sebagai restoran langganan tetap mereka di bandingkan dengan restoran Timur Tengah lainnya.


Tuan Hakimi melihat dua gadis itu berkunjung ke restoran mereka, langsung masuk ke ruang kerjanya Khalid. Pangeran Arab ini sedang fokus dengan laptopnya tanpa pedulikan kehadiran tuan Hakimi.


"Permisi prince!"


"Ada apa Hakimi?"


Khalid masih fokus dengan pekerjaannya.


"Prince! Dua gadis itu sedang makan siang di restoran kita. Maksud saya nona Celia dan saudaranya."


Glekkkk....


Jari jemarinya Khalid langsung berhenti menari di atas keyboard laptop miliknya dengan senyum merekah saat mendengar nama unik gadis pujaannya.


Ia menggantikan layar laptopnya dengan rekaman CCTV yang menampilkan wajah cantik Celia. Wajah itu di zoom sedemikian dekat dan diamatinya secara intens.


"Jangan ambil bayaran dari mereka. Berikan menu terbaik restoran kita untuk mereka. Tahan keduanya jangan sampai tinggalkan tempat ini hingga aku keluar menemui keduanya!"


Titah Khalid dengan wajah berbinar.


"Baik prince."


Tuan Hakimi ikut senang melihat raut wajah bahagia tuannya hari ini.


Khalid berjalan mondar mandir di ruang kerjanya seperti gosokan panas sambil memikirkan cara untuk bisa menahan Celia agar bisa bersama gadis itu lebih lama.


"Apa yang harus kulakukan untuk menahan gadis itu supaya dia tetap di sini. A...iya buku. Gadis itu senang dengan buku.


Khalid segera keluar menemui Celia dan Cyra ketika sudah selesai makan.


Visual tampan Khalid tidak terlepas dari tatapan mata para pengunjung restoran mengikuti langkah tegap nan gagah membuat mereka mengagumi sosok pangeran Arab tersebut.


Celia yang duduk membelakangi arah datangnya Khalid tidak menyadari saat ini Khalid menjadi sorotan para gadis muda di restoran tersebut.


Cyra hanya bisa memberi isyarat dengan matanya pada Celia bahwa ada Khalid yang sudah berdiri di belakangnya putri raja Fatih ini.


Sebagian besar pengunjung merasa kecewa melihat Khalid menyampari dua princess itu bukan mereka. Khalid memberi salam pada keduanya lalu meminta ijin untuk bergabung.


"Apakah makanannya enak?"


Tanya Khalid basa-basi untuk membuka obrolan.


"Sangat lezat tuan Khalid." Ujar Cyra.


"Alhamdulillah. Apa kabar nona Celia?"


Khalid beralih pada Celia yang hanya menundukkan pandangannya sambil mengaduk minumannya karena gugup.


Ketika di tanya Khalid, mata mereka beradu seakan sedang menyampaikan kerinduan mereka lewat tatapan penuh makna itu.


Keduanya sama-sama mengalihkan wajah mereka ke sembarangan arah karena tidak sanggup menatap lebih lama manik indah keduanya.


Cyra yang melihat keduanya diliputi rasa rindu, memberikan kesempatan kepada keduanya untuk bicara.

__ADS_1


"Celia! Apakah aku boleh pergi sebentar?"


"Mau ke mana?" Ada urusan penting. Nanti aku balik ke sini lagi."


Ucap Cyra seraya mengambil tasnya.


"Tapi Cyra!"


"Aku tidak akan lama. Tuan Khalid aku titip saudara sepupuku bersamamu. Tolong jaga dengan baik gadis cantik ini."


Ucap Cyra lalu mengecup pipi Celia sambil berbisik.


"Jangan mencoba menolaknya karena kamu sudah berada di tangan yang tepat."


Ucap Cyra dalam bahasa Indonesia.


Jantung Celia makin berdenyut hebat tanpa irama semestinya. Ia harus minum berkali-kali untuk mengatasi kegugupannya.


Tidak seperti saat ia bersama Ryan, hatinya tidak sekacau ini sebelumnya. Peluhnya mulai bercucuran walaupun berada di ruang AC dengan suhu temperatur tinggi dan tidak sedang makan pedes.


Khalid yang melihat perubahan rona wajah Celia mengulum senyumnya dan makin gemas dengan wajah cantik Celia.


"Aku akan melamarmu Celia! Tunggu saja saat itu akan tiba sebentar lagi."


Batin Khalid yang ikut grogi juga berhadapan dengan Celia.


"Celia!"


"Tuan Khalid!"


Keduanya serentak membuka suara dan akhirnya terkekeh.


Ucap Celia mengalah.


"Apakah kamu tidak ingin melihat lagi buku di perpustakaan milikku? Mungkin ada buku yang yang lainnya yang belum kamu baca." Ajak Khalid.


"Benarkah? Apakah aku boleh berkunjung ke perpustakaan pribadimu?" Tanya Celia semangat kalau sudah urusan buku..


"Hmm!"


Khalid mengangguk lalu mengajak Cyra meninggalkan restoran itu.


"Kita mau ke mana? Bukankah perpustakaan milikmu bisa melalui pintu rahasia?"


"Kalau melalui pintu itu kamu tidak akan tahu pintu utamanya rumahku." Ucap Khalid.


Keduanya harus naik mobil untuk mencapai gebang utama istana khalid.


"Jika ada yang dekat kenapa harus memilih jarak yang jauh?" Keluh Celia.


"Yang dekat lebih riskan dengan fitnah sementara yang jauh akan melindungi kehormatanmu sebagai wanita mulia." Balas Khalid bijak.


Celia tersenyum karena Khalid begitu menjaga martabatnya sebagai wanita terhormat.


Sekitar dua kilo meter untuk bisa mencapai gerbang utama istana pangeran khalid yang begitu megah dengan banyaknya penjaga di dalamnya.


Gerbang itu di buka dan mobil Khalid meluncur perlahan melewati taman yang sangat indah baru menemui istananya yang berbentuk mengikuti bangunan timur tengah.

__ADS_1


Beberapa pelayan laki-laki yang menyambut mereka dan Khalid meminta mereka untuk menundukkan pandangan mereka agar tidak menatap wanitanya.


Langkah anggun dari tubuh jenjang Celia mengikuti langkah Khalid yang berjalan di depannya terlebih dahulu.


Itulah bedanya perempuan muslim yang tidak boleh berjalan di depan laki-laki karena setan berada di punggung perempuan untuk menggoda laki-laki.


Celia mulai curiga saat melihat foto keluarga besar Khalid yang merupakan keluarga Arab Saudi.


"Astaga! berarti saat ini aku sedang bersama dengan seorang pangeran."


Celia menghentikan langkahnya dan menatap foto itu lebih lama.


Khalid membalikkan badannya saat tidak mendengar langkah kaki Celia. Khalid mendekati gadis itu dan berdiri di sebelahnya.


"Mengapa anda tidak memperkenalkan diri anda sebagai pangeran, tuan Khalid?"


"Apakah kamu juga memperkenalkan dirimu sebagai princess Maroko?"


Deggggg...


"Kamu mengetahuinya dengan jelas siapa aku tuan Khalid?"


"Tanpa statusmu sebagai princess Maroko aku tetap menyukaimu Celia."


Celia tersenyum lalu melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan dengan tidak berjalan sejajar dengan tuan Khalid.


Di dalam perpustakaan itu sudah ada beberapa pelayan yang membersihkan tempat itu.


Mereka hanya memberikan hormat kepada Celia dan tetap meneruskan pekerjaan mereka membersihkan buku-buku yang sudah berdebu.


Celia sibuk mengambil buku yang ingin di bacanya di temani pangeran Khalid.


"Celia! Apakah kalian masih lama berada di negara ini?"


"Tidak tuan Khalid! Kami saat ini sedang menunggu acara wisuda. Setelah itu akan kembali ke negara kami masing-masing."


"Berarti Cyra bukan saudaramu?"


"Dia saudaraku tapi tanteku menikah dengan pangeran Yunani."


"Berarti kalian sepupu?"


"Hmm!"


Keduanya keluar dari perpustakaan sambil menenteng berapa buku untuk di baca.


Khalid mengajak Celia duduk di ruang keluarga dan keduanya membahas tentang silsilah keluarga mereka masing-masing


"Celia!"


"Hmm!"


"Apakah saat ini kamu terikat dengan seseorang? Maksudku pacar atau tunanganmu.


"Jika ada yang sudah mengikatku, apakah pantas aku berjalan dengan lelaki lain yang mengundangku di istananya ini?"


Khalid tersenyum puas mendengar jawaban Celia yang sudah memberinya kesempatan untuk mendapatkan hatinya.

__ADS_1


"Apakah kamu siap jika aku meminta keluargaku untuk meminangmu pada keluargamu di Maroko, Celia? Aku ingin kamu menjadi istriku."


Duaaarrr...


__ADS_2