
Cyra melihat seekor bayi macan sedang terluka pada kakinya hingga tidak bisa berjalan.
"Kenapa binatang ini sampai ke sini, padahal di bawah sana banyak ranjau."
Cyra mengangkat tubuh bayi macan itu lalu di gendongnya. Alex dan Jack sangat syok melihat Cyra menggendong bayi macan membuat mereka langsung mundur menjauhi Cyra.
"Nona! Itu bukan anak kucing tapi itu adalah anak macan."
"Yang bilang ini anak kucing, siapa? kamu kira aku tidak bisa bedakan macan dan kucing. Lihatlah! dia sedang terluka."
Cyra menghampiri Alex dan Jack menunjukkan luka bayi macan itu, namun dua lelaki ini langsung mundur ketakutan.
"Kalian sangat menyebalkan. Pantesan kalian berdua di suruh menjaga ku daripada di minta bertugas di lapangan. Kalian tidak lebih dari seorang pecundang."
Umpat Cyra menatap tajam wajah Alex dan Jack.
"Ambilkan perlengkapan palang merah untukku!"
"Baik nona!"
Cyra membaringkan tubuh bayi macan itu dan mulai mengobatinya. Cyra menyuntikkan obat bius sebelum mengobati macan itu. Ia lalu menjahit hewan liar itu dengan perlahan.
"Apakah sangat sakit, sayang?" Tanya Cyra pada bayi macan itu.
"Nona! Dia bukan manusia, kenapa mengajaknya bicara."
"Binatang juga mengerti bahasa manusia. Kita yang tidak mengerti bahasa dia. Hanya nabi Sulaiman yang mengerti bahasa binatang. Kita hanya mengerti dia dengan intuisi kita.
Ucap Cyra sambil menjahit luka bayi macan itu hingga selesai.
"Sudah selesai sayang. Kamu istirahat saja. Nanti aku akan memberikan kamu daging."
Cyra menidurkan bayi macan itu di sofa dekat taman.
"Kalian berdua buatkan kandang yang besar untuk temanku itu!"
"Tapi nona, apakah anda akan memeliharanya?"
"Iya, aku memang ingin memeliharanya, apakah kalian keberatan?"
Tatapan membunuh itu langsung menghunus tajam pada keduanya.
"Baik nona! Kami akan membuat kandang untuknya."
Jack dan Alex tidak lagi ingin memberikan komentar apapun pada Cyra karena gadis itu tidak akan mau mendengarkan mereka.
Cyra menatap wajah macan betina itu yang masih terpengaruh dibawah pengaruh obat bius.
"Kita akan menjadi teman. Kamu harus tetap di sini bersamaku. Aku akan merawatmu. Aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa nyasar di istanaku."
Cyra menyuruh pelayannya untuk menyiapkan daging untuk disajikan kepada teman barunya.
"Keluarkan daging di kulkas dan rendam sampai lunak dan tolong siapkan ke wadah khusus untuk Cika."
"Hahh...? Untuk siapa nona ...?" Tanya pelayan itu ketika Cyra menyebut nama bayi macan.
"Cika! Teman baruku ini. Namanya Cika."
Ujar Cyra sambil membelai tubuh bayi macan itu.
"Ba..baik nona!" Ujar Gwen gugup.
"Kenapa sekarang tingkahnya nona Cyra makin aneh. Tempo hari berkunjung ke desa angker. Sekarang dia menyelamatkan seekor macan dan besok apa lagi yang akan ia lakukan."
__ADS_1
Gerutu Gwen pada teman-temannya.
"Biarkan saja dia seperti itu. Hanya tuan Farel yang bisa menjinakkan istrinya." Ujar Anne.
Keduanya sibuk menyiapkan daging untuk teman baru Cyra.
Jack dan Alex membawa sangkar untuk teman barunya Cyra. Cyra mengatur tempatnya Cika dengan menaruh jerami kering yang cukup banyak untuk teman barunya sebagai tempat istirahatnya.
Tidak lama bayi macan itupun siuman. Cyra menyiapkan daging untuk temannya yang langsung di lahap oleh Cika. Semua pelayan ikut menyaksikan anggota baru istana bukit itu.
Cika nampak cuek menikmati dagingnya tanpa peduli orang memperhatikannya. Cyra begitu senang melihat Cika terlihat lebih kuat saat ini.
Tidak terasa malam mulai datang. Cyra memasukkan Cika ke dalam sangkarnya dan dia membersihkan dirinya untuk melakukan ibadah sholat magrib.
Cyra menunggu suaminya menghubunginya. Namun benda pipih itu belum juga bergetar.
"Kalau kamu masih diam saja, besok aku akan mengirimmu di tempat sampah. Kau sama sekali tidak berguna."
Ancam Cyra sambil melirik sinis ke ponselnya yang saat ini tidak bergerak.
Dreetttt....
"Ternyata kamu sangat takut aku mengancam membuang mu."
Ucap Cyra lalu mengambil ponselnya.
Cyra tersenyum melihat wajah suaminya yang sedang melakukan video call dengannya.
Iapun segera menggeser tanda hijau itu menerima panggilan suaminya. Keduanya saling memberikan salam sebelum memulai obrolan.
"Sayang...!"
"Hmm!"
Cyra tersentak. Ia lupa kalau saat ini ia tengah hamil dan harus mengurus dirinya. Ia terlihat gugup untuk memberikan jawaban pada sang suaminya.
"Nanti saja kalau mau tidur. Aku akan minum obat dan susunya."
"Tidak! Aku ingin kamu makan dihadapanku, minum susu dan minum vitaminnya!" Titah Farrel.
"Kau itu cerewet sekali. Mereka belum menyiapkan untukku."
"Bukalah pintu kamarmu! Pelayan sedang mengantarkan semua kebutuhan perutmu."
"Astaga! Apakah kamu sudah menghubungi mereka lebih dulu daripada aku istrimu?"
"Karena kamu selalu berkilah, makanya aku sendiri meminta mereka melayani mu."
"Cih! Kau selalu saja penuh dengan perhitungan!"
"Sayang! Kamu sekarang sudah menjadi ibu. Jadi jaga kesehatanmu!"
"Cepatlah pulang! Agar ada yang mengingatkan aku untuk rutin meminum susu ibu hamil."
"Iya sayang! Aku harap nanti aku pulang kamu tidak melakukan hal aneh-aneh."
"Hmm!"
"Sekarang lebih aneh, sayang karena aku sedang memelihara bayi macan."
Batin Cyra sambil tersenyum penuh arti.
"Cyra..!...Cyra...! Hallo sayang! Apakah kamu masih mendengarkan aku..?"
__ADS_1
Panggil Farrel yang melihat istrinya sedang melamun sendiri.
"A..iya! Maaf sayang..! Aku lagi senang saat ini."
"Apa karena kehamilanmu...?"
"Itu salah satunya..!"
"Apakah ada yang lain lagi...?"
"Hmm!"
"Apa...?"
"Aku punya kenalan baru." Ujar Cyra tanpa ingin menjelaskan lebih detail.
"Apakah kamu kenal orang itu melalui medsos...?"
"Tidak ..tapi ia ada di rumah kita sekarang."
Wajah Farrel nampak tidak suka mendengar teman baru istrinya. Ia segera menutup telepon itu tanpa pamit pada istrinya.
"Lha... Kenapa malah di matikan..? Apakah saat ini dia sedang cemburu kepadaku..? Dia pemarah sekali...?"
Cyra menikmati makan malamnya lalu minum susu ibu hamil dan obat.
Farel menghubungi kedua anak buahnya. Ia ingin menanyakan kepada kedua anak buahnya tentang teman baru istrinya.
"Alex! Apakah kamu tahu siapa teman baru istriku...?"
Deggggg....
"Aduh mampus..!"
Alex menepuk jidatnya karena bingung menjelaskan pada bosnya apa yang dilakukan Cyra hari ini.
"Hei!!! Kenapa kamu tidak menjawab ku, hahh!"
"Maaf tuan..! Sebaiknya anda menanyakan sendiri pada istrinya tuan. Kami tidak mau mendapatkan hukuman dari nona Cyra."
Ujar Alex nekat menolak perintah Tuannya.
"Baiklah. Kalau kamu tidak memberitahuku. Bersiaplah untuk mendapatkan hukuman dariku!"
Farrel mematikan ponselnya dan terlihat sangat geram dengan perlakuan istri dan juga anak buahnya.
"Ini juga masih lama tour luar negeri. Awas saja Cyra.. Jika ada cowok yang berani menggoda mu dan kamu terkesan padanya, aku akan membunuh pria itu!"
Farrel mengepalkan kedua tangannya.
Sebelum tidur Cyra memastikan kembali keadaan teman kecilnya itu sedang apa saat ini.
"Ternyata kamu sudah tidur sayang! Assalamualaikum teman! Saat ini aku adalah saudaramu dan tolong jangan pergi dariku."
Ucap Cyra lalu meninggalkan Cika dengan menggembok kandang itu.
Satu pekan kemudian, Farel sudah balik lagi ke istananya. Rasanya ia sudah tidak sabar menemui istrinya.
Cyra memakai dress putih yang lebih panjang dan tidak ingin mendekati helikopter suaminya. Iapun melambaikan tangannya saat suaminya berlari menghampirinya.
"Siapa teman barumu itu, sayang?"
Tanya Farel saat keduanya sudah memberikan ciuman mereka.
__ADS_1
Deggggg