
Berat mobil Limosin itu makin miring, hingga tercipta retakan yang cukup parah sekitar tanah yang terbalut batu es dari bekuan salju.
Sebagian tanah dengan bongkahan batu dibawahnya perlahan mulai runtuh sedikit demi sedikit, hingga tidak mampu lagi menahan beban di atasnya.
Teriakan histeris keluarga presiden membuat siapapun yang mendengarnya terasa ngilu.
"Kita tidak punya waktu untuk memanggil bala bantuan menolong ibu presiden dan dua anaknya di dalam sana."
Ucap rekan kerja Farel dengan analisanya.
Tuan presiden makin memelas pada Cyra yang sedang melihat situasi antara lebarnya jalan dan hutan di seberang jalan itu yang belum ia tahu apakah ada legokan
lembah curam atau tidak, jika ia menarik mobil itu dalam posisi horizontal.
Satu mobil itu saja, panjangnya sudah menutupi satu jalan yang tidak begitu lebar itu. Cyra berpikir keras agar bisa menyelamatkan keluarganya presiden secepatnya.
"Berikan ruang jalan yang cukup lebar untuk mobil ini bisa mundur!"
Titah Cyra pada para sopir yang masih berdiri bengong mendengar perintahnya.
"Apakah aku juga yang harus memindahkan mobil kalian semua, hah!"
Bentak Cyra memperlihatkan sifat arogannya membuat semuanya bergerak cepat.
Setiap gerakan mobil yang makin menurun, begitu pula jantung tuan presiden yang ikut jatuh dengan perut terasa bergejolak lemas.
Cyra memejamkan matanya dan memohon pertolongan Allah dengan membaca surah Al-fatihah. Ia lalu menarik nafas panjang lalu menghembusnya perlahan.
Setelah jalanan sekitar kosong, dengan cepat Cyra menarik mobil itu dengan kekuatannya membuat wajah Farel dan teman-temannya syok bercampur kagum.
Bagaimana tidak, mobil Limosin hitam itu dengan ringannya diangkat Cyra seperti mobil derek yang sedang mengangkat mobil dari jurang.
Mobil itu di letakkan perlahan di atas jalan raya dengan posisi horizontal memenuhi ruas jalan
Ia menggerakkan lagi posisi mobil itu kembali lurus sesuai dengan deretan mobil lainnya.
"Apakah itu istriku Cyra?"
Tanya Farel pada presiden yang juga merasa tak percaya dengan apa yang ia saksikan.
Selama ini, ia hanya mendengar gadis ini memiliki kekuatan, tapi belum pernah melihatnya sendiri.
"Bagaimana mungkin presiden, kalau istriku punya kekuatan yang tidak aku ketahui?"
Tanya Farel merasa ini hanya sebuah mimpi baginya.
Ibu presiden dan kedua anaknya langsung turun memeluk presiden dengan rasa haru, begitu mobil itu sudah terparkir sempurna.
"Daddy...!" Pekik ketiganya secara bersamaan menghampiri tuan preseden.
Tangis presiden pecah menemui keluarganya karena saking harunya.
Ada beberapa pengawal yang mencoba merekam aksi Cyra, namun istri dari Farel ini membuat semua ponsel mereka retak layarnya hingga tidak bisa menangkap gambar.
Cyra langsung lemas setelah memindahkan mobil itu hingga hidungnya keluar mimisan. Farel menangkap tubuh istrinya yang hampir jatuh dan menggendong tubuh itu lalu bawa ke dalam mobil.
__ADS_1
Farrel segera mengambil sapu tangannya untuk menahan darah sang istri.
"Sayang hidungmu berdarah."
Ucap Farel dengan tangan gemetar.
"Aku tidak pernah mengangkat benda seberat itu. Aku hanya bisa mendorong benda berat dan mengangkat benda kecil.
Tenagaku sepertinya terkuras semuanya, Farel."
Gumam Cyra lirih dengan tubuh yang makin melemah.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit Cyra, aku tidak sanggup melihatmu seperti ini."
Farel menahan tangisnya agar tetap tegar di hadapan Cyra.
"Tidak usah sayang! Sebentar lagi baikan. Aku tidak mau merusak acara liburannya tuan presiden."
Ujar Cyra sambil batuk kecil beberapa kali.
Farel memberikan air mineral untuk Cyra. Gadis ini meneguknya dengan perlahan karena dadanya terasa sangat sakit.
Presiden dan keluarganya kelihatan sudah mulai tenang, menghampiri Cyra dan Farel yang masih berada di dalam mobil.
"Kamu tetap di dalam mobil saja sayang! biarkan aku saja yang melihat keadaan Cyra dan Farel." Titah suaminya.
"Baiklah. Sampaikan rasa terimakasih ku pada nona Cyra. Aku berhutang nyawa padanya." Ucap Nyonya Emily sambil
mengusap air matanya.
Tuan presiden mendatangi mobil Cyra dan masuk ke dalam mobil itu. Para pengawal presiden masih setia menjaga presiden dan keluarganya agar tetap aman.
"Dia hanya lemas saja presiden."
"Apakah butuh bantuan dokter?"
"Tidak perlu tuan preseden. Aku hanya butuh suamiku karena obatku ada pada perhatian dan cintanya."
Sahut Cyra membuat presiden mengulum senyumnya di tengah kegetirannya.
"Aku dan keluargaku berhutang nyawa padamu Cyra. Istriku sangat berterimakasih kepadamu. Baiklah, kamu boleh menemani istrimu, Farel." Ucap presiden.
"Terimakasih atas pengertiannya tuan presiden. Kita boleh melanjutkan lagi perjalanannya tuan presiden!"
Pinta Cyra diangguki tuan presiden.
Sepuluh mobil jenis Limosin hitam kembali bergerak. Mobil milik ibu presiden hanya di isi sopirnya saja. Keluarga presiden satu mobil dengan presiden. Dua anaknya masih syok berat dan terlihat lemas.
"Sabarlah sayang, sebentar lagi kita akan sampai di villa."
Ujar presiden pada kedua putranya.
Di dalam mobil, Farel memeluk Cyra untuk memberikan kenyamanan pada gadis itu. Ia tidak ingin menanyakan kekuatan Cyra. Saat ini Cyra hanya butuh ketenangan. Saking lelahnya Cyra sampai tertidur.
Salju turun makin tebal menutupi sebagian ruas jalan hingga petugas jalanan harus membersihkan jalanan itu dengan mobil snowbot s1, yang memiliki 1,5 jam waktu berjalan dan dapat menangani salju hingga setebal 12 inci (30 cm) dalam sekali lintasan.
__ADS_1
Dalam sekejap mobil itu sudah bisa melaju dengan cepat dalam kecepatan stabil menuju villa pribadi tuan presiden. Sekitar setengah jam kemudian mereka sudah tiba di Villa.
Begitu tiba di villa, Farel langsung mencari kamar mereka di antar oleh pelayan villa. Dokter yang sudah menunggu sejak tadi segera memeriksa keadaan Cyra yang terlihat mengalami keadaan yang sangat serius.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"
"Sepertinya istri anda mengalami luka dalam hingga terjadi pendarahan dari dalam yang menyebabkan ia mimisan. Untuk lebih jelasnya sebaiknya tuan bawa istri anda ke rumah sakit.
Tapi sepertinya malam ini akan terjadi badai salju hingga tidak memungkinkan helikopter sekalipun bisa tiba di wilayah sini."
Ujar dokter Rico di sambut Farel dengan bogem mentah.
"Kau bukan Tuhan, jadi jangan pernah mendahului sesuatu perkara yang belum terjadi!"
Ucap Farel dengan mata melebar hingga dokter Rico ketakutan dan segera meninggalkan kamar Farel.
Farel menutup pintu kamarnya lalu meninju pintu itu dengan keras.
"Sial! Niat untuk menolong orang lain, malah istriku sendiri jadi tumbal."
Farel merasa sangat sesak melihat keadaan istrinya makin kian pucat.
Persiden juga tidak merasa tenang dengan keadaan Cyra setelah mengetahui kabar itu dari dokter Rico. Ia mendatangi lagi kamar Farel karena merasa sangat bersalah.
Permintaannya yang dianggapnya suatu hal yang wajar bagi Cyra malah mencelakakan gadis itu.
"Farrel! Apa yang harus aku lakukan untuk menolong istrimu?"
"Tidak usah kuatir presiden, istriku hanya butuh istirahat. Maaf presiden saya tidak bisa bicara dengan anda terlalu lama karena Cyra saat ini tidak ingin jauh dari saya."
Ucap Farel menghindari pertanyaan presiden.
"Baiklah. Beritahu aku kalau butuh sesuatu."
Ucap presiden lalu meninggalkan pasangan itu.
Farel langsung menghubungi ayah mertuanya yang mungkin tahu sesuatu untuk mengobati Cyra.
"Ada apa Farel, mengapa suaramu terdengar sedih seperti itu?" Tanya Davin curiga.
"Ini tentang Cyra, Daddy."
"Ada apa dengan putriku?"
Farel menceritakan tentang keadaan sebenarnya pada ayah mertuanya. Raja Davin begitu syok mendengar putrinya saat ini sedang terluka.
"Apa yang harus aku lakukan Daddy?"
"Ada sejenis ramuan herbal yang ada di dalam hutan. Celia mengetahui jenis tanaman itu. Cyra juga mengetahuinya hanya saja putriku tidak tahu khasiatnya."
Ucap Davin dengan menyebutkan nama latin pohon herbal itu.
"Uhuk...uhuk..uhuk!"
Farel membalikkan tubuhnya sambil bicara dengan mertuanya.
__ADS_1
Melihat Cyra yang sedang batuk lalu menyemburkan darah segar membuat Farel menjerit.
"Cyraaaaa....!" Farel melempar ponselnya menangkap tubuh Cyra yang langsung pingsan.