
Liburan bersama dengan keluarga presiden akhirnya berakhir. semuanya sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing.
Marsekal Farel dan Cyra kembali ke tanah perkebunan mereka dengan duka yang masih menggelantung di wajah keduanya.
Tidak ada lagi tawa ceria sang istri apalagi ocehannya yang terdengar renyah disertai candaannya yang membuat suaminya selalu gemas padanya.
"Sampai kapan kamu akan terus menghukum dirimu seperti ini Cyra? sementara aku tidak menuntut apapun padamu.
Justru aku masih ingin berpacaran denganmu tanpa ada sainganku yang akan memperebutkan dirimu ketika dia sudah hadir."
Ucap Farel menghibur istrinya.
"Aku seperti wanita yang tidak berguna lagi untukmu Farel. Jika menikah hanya untuk mencari kepuasan batiniah lantas apa artinya bagiku kalau tidak ada yang bisa ku ajak bicara saat suamiku menunaikan tugas negara." Ucap Cyra sedih.
"Kenapa memikirkan sesuatu yang jelas belum terbukti. Mungkin dengan setiap saat kita bercinta, ada keajaiban lain yang akan di tampakkan Allah dengan rahmat-Nya." Imbuh Farel bijak.
"Tapi kalau ikhtiar kita tidak membuahkan hasil, bukankah itu sangat menyakitkan Farel?"
"Kalau setiap ikhtiar diselipkan dengan harapan seakan memaksa Allah seperti apa yang kita inginkan, bukankah kamu sedang mengeraskan hatimu seakan menolak ujian itu dengan sesuatu yang kamu inginkan, bukakan itu sama saja kamu sedang mengatur Allah?"
"Maafkan aku Farel! Tapi aku menginginkan agar bisa melahirkan anak-anak darimu."
Tangis Cyra kembali pecah membuat Farel juga merasa rapuh.
"Aku juga menginginkan hal yang sama sayang, sama sepertimu. Tapi saat ini bukan Allah tidak mau kasih, tapi iman kita sedang diuji."
Timpal Farel menasehati istrinya.
"Kenapa harus dengan ujian anak? kenapa bukan dengan ujian lainnya?"
"Kita ini milik Allah, suka-suka Allah hidup kita mau diapakan sama Dia. Kenapa kamu jadi tawar menawar dengan Allah, sayang?"
"Aku hanya berharap saja, apakah itu tidak boleh?"
"Tidak boleh kecuali petaka yang akan membahayakan nyawa seseorang, kita mungkin bisa menawar pada Allah untuk ditangguhkan seperti halnya sakit dan vonis kematian, mungkin kita bisa berharap."
Cyra lagi-lagi meratapi nasibnya yang malang. Dia tidak sanggup membayangkan jika harus menghabiskan hidupnya menjadi wanita mandul.
"Cyra! Lihatlah rumah ini! Dia lebih menyedihkan dibandingkan kamu. Kalau pemiliknya sudah tidak bergairah lagi untuk tinggal di dalamnya, wajah rumah ini terlihat sangat muram. Mau sampai kapan kamu seperti ini sayang..?"
Tanya Farel saat Cyra selalu menolak untuk bicara dengannya dan lebih banyak mengurung diri di kamar ditemani air matanya yang begitu setia menghiasi wajah cantiknya.
__ADS_1
"Cyra! kamu orang beriman. Apakah kamu akan terima dan percaya begitu saja kepada vonis dokter dengan segala keterbatasan ilmunya, jika di bandingkan dengan kehebatan Allah yang maha luas dengan segala keajaiban yang akan Dia berikan kepada kita?
Kembalikan semua urusan ini kepada Pemilik Ujian ini, sayang! Dengan begitu hatimu akan damai."
Deggggg...
Farel memeluk istrinya yang masih merasa down saat mengingat kembali vonis dokter pada dirinya.
Mendengar ucapan suaminya, Cyra merasa mendapatkan tamparan keras untuk menyadarkan pikirannya dengan godaan setan yang telah menuntun dirinya pada perasaan putus asa.
"Mungkin kamu pernah mendengar tentang cerita nabi Zakaria tentang istrinya yang di vonis mandul oleh dokter atau tabib di jamannya. Tapi saat nabi Zakaria mengetahui Mariam hamil tanpa seorang suami, di situlah ia memohon kepada Allah, agar di karuniai seorang keturunan untuknya.
Seketika Allah menjawab dengan cepat doanya. Di mana usia istrinya yang sudah mencapai seratus tahun dan secara klinis sudah di vonis mandul oleh dokter. Saat itu kalau berpikir secara logika tidak ada kemungkinan istrinya akan bisa hamil.
Tapi Allah mengabulkan permohonan Zakaria dengan menamai puteranya langsung dari Allah dengan nama Yahya.
Dengan tanpa seorang suami Mariam bisa diberikan seorang anak, apalagi mereka suami istri. Doa Zakaria yang mengatakan pada Tuhannya bahwa ia tidak pernah putus asa dalam doanya." Lanjut Farel.
"Apakah kita akan diberikan kemudahan yang sama oleh Allah, sayang?"
"Tanam keyakinan itu pada dirimu. Tidak ada yang mustahil disisi Allah jika ia berkehendak pada hambaNya."
Cyra tersenyum mendengar nasehat yang paling menenangkan dari suaminya. Ia tidak menyangka wawasan agama Islam yang di miliki Farel cukup membuatnya kagum.
"Apakah kamu ingin kita mandi bersama?"
Tawar Farel dengan strategi perangnya yang ingin mendapatkan keuntungan dari tubuh sang istri.
Cyra mengerti akan permintaan halus itu yang artinya, "mari kita bercinta sayang!"
...----------------...
Sementara itu Khalid yang saat ini tidak bisa mendekati sang istri hanya bisa menunggu masa ngidam Celia cepat berlalu.
"Prince! Kenapa tidak mengikuti saran princess Celia untuk memakai parfum bayi atau sejenis minyak kayu putih khusus untuk bayi dengan begitu istri anda akan mau....?"
Tuan Hakimi begitu kaget ketika yang dia ajak bicara sudah kabur begitu saja saat dia sedang memberikan saran pada suami dari Celia ini.
"Lha. Ke mana orang ini? baru saja bicara denganku sudah kabur saja."
Tuan Hakimi hanya bisa berdecak senang sambil menggelengkan kepalanya. Pria yang seusia dengan pangeran Khalid ini ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan pasutri bangsawan itu.
__ADS_1
Khalid segera konsultasi dengan apotik untuk mendapatkan wewangian yang sangat disukai oleh ibu hamil muda. Bagian apotik memberikan beberapa wewangian yang lebih identik dengan bau harum seorang bayi.
Setibanya di rumah, suami dari Celia ini membersihkan tubuhnya dengan menggunakan sampo bayi, sabun bayi, minyak kayu putih untuk bayi dan parfum yang sangat ringan khusus bayi.
Setelah mematut tampilannya di depan kaca, Khalid merasa saat ini ia adalah pria yang sangat tampan di dunia ini. Ia keluar menemui istrinya yang sedang membaca buku di perpustakaan keluarga.
Ketika melewati para pelayannya, Khalid berusaha tampil percaya diri walaupun sekujur tubuhnya tercium aroma wangi bayi yang begitu pekat.
Para pelayan nampak heran dan juga merasa geli dengan ikhtiar pangeran satu ini yang ingin mendapatkan lagi istrinya setelah hampir dua pekan tidak menyentuh sang istri.
"Apakah pangeran kita sudah jadi bucin gara-gara ingin berdekatan dengan isterinya?"
Tawa mereka pecah saat Khalid sudah menghilang dari pandangan mereka.
"Kasihan seorang pangeran yang sangat disegani oleh siapapun tidak bisa berkutik dengan satu orang wanita." Timpal yang lainnya.
"Jangan salah! Jika tingkah pangeran bisa seperti itu yah pantas dan wajar karena yang ia dapatkan bukan gadis abal-abal yang dipungut di luar sana dengan nilai yang bisa di tebak untuk memuaskan syahwat para lelaki hidung belang."
Timpal pelayan Laila yang sudah senior di antara para pelayan muda ini.
Pintu perpustakaan itu di buka dengan perlahan oleh Khalid diikuti salam yang keluar lembut dari bibirnya.
Celia menyambut salam dari suaminya dengan wajah heran bercampur tanya ketika mencium harum semerbak aroma bayi yang sudah menyeruak masuk ke dalam perpustakaan itu.
"Celia, sayang!"
Sapa Khalid berdiri dengan gugup di tempatnya karena takut akan ada penolakan lagi dari sang istri.
"Sayang! Apakah kamu memakai wewangian bayi?"
"Apakah kamu menyukai, Celia ?"
Tanya Khalid ragu.
Celia begitu terharu dengan perjuangan sang suami hanya ingin dekat dengannya.
Celia menghamburkan tubuhnya dalam pelukan sang suami. Khalid menyambut tubuh istrinya dengan penuh haru sambil mengucapkan banyak pujian syukur kepada sang penciptaNya.
"Alhamdulillah ya Robby."
Khalid merenggangkan pelukannya sedikit untuk mencium seluruh wajah istrinya dan sekarang berakhir pada bibir ranum itu sambil mengusap perut sang istri yang sedikit membengkak bagian bawahnya.
__ADS_1
Ciuman panas itu kembali terjadi di ruang perpustakaan itu setelah sekian lama mereka berpuasa.