
Setibanya di dalam helikopter, tubuh Cyra langsung di selimuti oleh Farel. Princess Yunani ini masih belum menyangka jika saat ini ia bisa selamat dari kematian.
Marsekal Farel memberikan minuman hangat untuk Cyra berupa teh dan juga roti yang memang sudah di siapkan.
Cyra makan dengan cepat karena benar-benar kelaparan setelah tiga hari tidak mendapatkan makanan sebelum ia di buang ke laut lepas.
Karena terlalu terburu-buru memakan rotinya, gadis ini akhirnya tersedak.
"Pelan-pelan nona Cyra! Tidak ada yang mengambil rotimu."
Ucap Farel sambil memukul pekan punggung Cyra lalu memberikan air pada gadis ini.
Cyra menangis tersedu-sedu di dalam helikopter itu. Ia merasakan bahwa saat ini dirinya terlihat sangat menyedihkan karena terlihat kelaparan di depan orang lain. Di tambah lagi ia juga sangat merindukan kedua orangtuanya saat ini.
"Kamu sudah selamat dari kematian nona Cyra dan kedua orangtuamu sedang menunggumu di darat. Sebentar lagi kita akan tiba dan kamu bisa bertemu dengan mereka. Tolong jangan menangis lagi, hmm!"
Farel memberikan lagi air hangat untuk Cyra agar perut gadis ini tetap hangat.
"Apakah aku tidak boleh menangis? saat hatiku sangat sedih hingga terasa sesak dadaku ini, apakah aku harus menahannya? air mata adalah suatu keberkahan dari Allah untuk membasuh luka hati manusia. Sekarang tolong ijinkan aku menangis. Tidak haramkan kalau aku menangis?"
Ucap Cyra sambil mewek.
"Astaga gadis ini! Dia bahkan seperti anak SD yang sedang ngambek saat di suruh belajar."
Batin Farel menahan tawanya.
"Baiklah tidak apa nona Cyra! Kamu boleh menangis sepuas hatimu!" Ucap Farel.
Cyra meneruskan lagu tangisannya. Kali ini suaranya lebih kencang dan Farel menyenderkan kepalanya Cyra untuk menangis di pundaknya.
Pria tampan ini bahkan tidak segan mengusap air mata Cyra. Ia tidak mau komentar lagi dan memilih mendengarkan tangisan Cyra sambil sesenggukan.
Tidak lama kemudian helikopter itu sudah mendarat di pangkalan angkatan udara Amerika.
Cyra menatap wajah tampan Farel sebelum helikopter itu benar-benar berhenti.
"Terimakasih tuan Farel. Suatu saat nanti kalau anda bebas tugas, aku akan mentraktir anda."
Ucap Cyra hanya menarik bibirnya memberikan senyum samar pada pria tampan yang sudah menolongnya ini.
Keluarga besarnya sudah menunggu kedatangan gadis ini dan mobil ambulans angkatan darat yang sudah siap dengan tim medisnya untuk memeriksa langsung keadaan gadis ini.
Tubuh Cyra langsung di sambut oleh ayahnya tuan Davin yang menggendong langsung putrinya untuk di baringkan di brangkar.
"Sayang!"
"Daddy!"
Keduanya berpelukan dan bergantian dengan Camilla.
sementara Celia dan Calista juga sudah menemui gadis ini terlebih dahulu sebelum di masukkan ke dalam mobil ambulans.
Mobil mewah yang membawa keluarga besar itu menuju rumah sakit mewah yang ada di New York City.
Farel pun turun dari helikopter itu untuk memberikan laporannya kepada pemimpinnya. Entah mengapa hatinya merasa ada yang hilang saat mobil ambulans itu membawa Cyra pergi.
__ADS_1
"Terimakasih marsekal Farel karena kamu sudah menyelamatkan princess Yunani. Raja Devino dan juga Raja Fatih dari Maroko memberikan salam hormat kepadamu."
Ucap Tuan Lyod.
"Apa...?" Jadi saya telah menyelamatkan seorang princess Yunani?"
"Hmm!"
"Astaga ini tidak mungkin!"
Ucap Farel antara takjub dan rasa tidak percaya kalau ia berhadapan langsung dengan princess dan bahkan sempat memeluk gadis itu yang tidak lain adalah princess Yunani.
"Apakah anda akan menjenguknya dirumah sakit, marsekal Farel?"
"Nanti saja! Aku mau pulang dulu ke rumah."
Ucap Farel langsung masuk ke mobilnya.
Ingin rasanya ia menemui Cyra saat ini, namun Cyra pasti membutuhkan me time dengan keluarga besarnya.
...----------------...
Cyra mendapatkan perawatan dua hari karena mengalami dehidrasi dan trauma atas peristiwa penculikan itu.
Gadis itu mendapatkan penanganan secara psikis oleh dokter ahli untuk mengembalikan mentalnya.
Kehadiran dua raja sekaligus di negara itu cukup menyita perhatian pemerintah setempat.
Pengawalan yang cukup ketat bukan hanya datang dari pihak dua kerajaan itu saja, namun juga melibatkan dua pihak kepolisan dan FBI yang dikerahkan untuk mengamankan kelurga besar kerajaan tersebut.
Kini mereka sudah berada kembali di apartemen. Cyra mulai terlihat ceria lagi dan sudah bisa di ajak bicara. Dua hari di rumah sakit rasa traumanya yang terus membuat ia menangis jika ditanya tentang peristiwa penculikan itu.
Tanya raja Davin pada putrinya.
Mereka memanfaatkan seorang bayi yang mereka berikan kepadaku, ayah. Aku tidak tahu jika itu adalah bagian umpan."
"Bukankah ayah sudah mengatakan kepadamu, jika kamu sedang sendirian tanpa keluarga ada di sisimu, kamu harus berdiri yang di belakangmu ada dinding atau benda lain selain manusia."
"Aku pikir ini dalam toilet, jadi tidak ada yang bisa berbuat jahat kepadaku. Tapi rupanya, tempat seperti itu menjadi incaran mereka kala tidak ada pengawal yang bisa masuk ke dalam tempat privasi."
Ujar Cyra penuh penyesalan.
"Tapi, mengapa kamu bisa pergi ke Mall sendirian Cyra? Bukankah kalian selalu ke manapun berdua?" Tanya Oma Andien.
Cyra dan Celia saling menatap dan sulit untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Semuanya memandang kedua gadis ini yang tidak tahu bagaimana cara untuk menjelaskannya.
Celia memberanikan dirinya untuk menjelaskan keadaan sebenarnya pada kedua orangtuanya walaupun ia harus mendapatkan omelan dari ibunya karena sudah lalai menjaga saudaranya walaupun Cyra sudah cukup besar dan punya kekuatan tersendiri untuk menjaga diri.
"Abi, ummi! Ada yang ingin Celia ceritakan sesuatu yang belum sempat Celia ungkapkan sebelumnya karena adanya kasus penculikan Cyra."
Ujar Celia hati-hati.
Ting ....tong..
__ADS_1
Celia menghentikan ucapannya saat mendengar ada tamu yang datang.
Ia pun segera membuka pintu utama apartemennya yang ia kira itu adalah tamu dari salah satu keluarga ayahnya yang ada di Amerika.
Betapa kagetnya Celia saat melihat ada seorang pria yang sangat tampan dan itu bukan kekasihnya pangeran Khalid.
Karena belum mengetahui siapa dua orang yang ada di hadapannya ini membuatnya harus bertanya dulu siapa gerangan dua pria asing yang bertamu ke apartemennya.
"Mereka bukan salah satu dari penjahat yang pernah menculik Cyra bukan?"
Batin Celia yang masih belum mau membukakan pintu untuk tamunya.
Melihat putrinya hanya berdiri mematung, akhirnya raja Fatih menghampiri Celia.
"Siapa nak yang datang?"
Tanya raja Fatih menemui tamunya dan ia baru ingat siapa lelaki tampan itu.
"Silahkan masuk marsekal Farel dan marsekal Liod!"
Pinta raja Fatih yang menyambut sendiri tamunya.
Mendengar kedatangan marsekal Farel, Cyra terlihat gugup karena sudah tiga hari ini ia hanya memikirkan pria tampan itu.
Saat ingin duduk, Farel memberanikan diri menghampiri Cyra yang sedang duduk di kursi roda karena kaki gadis ini masih begitu lemah untuk berdiri.
"Apa kabarmu nona Cyra!"
Senyum merekah dari sosok visual tampan milik Farel membuat jantung Cyra rasanya ingin meledak saat ini.
"Kenapa dia terlihat lebih tampan dari sebelumnya?"
Batin Cyra yang masih termangu menatap wajah tampan Farel.
"Alhamdulillah, saya sudah lebih baik Tuan Farel." Ujar Cyra tersipu malu.
"Silahkan duduk marsekal!"
Titah tuan Reza pada tamu mereka. Keluarga itu memperkenalkan diri mereka pada kedua pemuda angkatan laut ini.
"Kenalkan saya marsekal muda Farel yang kemarin bertugas menyelamatkan nona Cyra dari laut lepas. Maaf saya baru datang menengok putri anda tuan Davin."
Ucap Farel sambil mencuri pandang ke arah Cyra.
"Saya sebagai ayah kandungnya Cyra belum sempat mengucapkan terimakasih pada anda secara pribadi marsekal Farel."
Ucap Davin penuh kharismatik.
"Saya paham Tuan Davin!
Farel melihat wajah keluarga dari Oma dan opanya Cyra sepertinya bukan keturunan Arab maupun Eropa. Ia memberanikan diri untuk bertanya kepada tuan Reza.
"Maaf tuan Reza. Apakah tuan dan nyonya Andien adalah orang Indonesia?" Tebak Farel.
"Benar sekali marsekal Farel." Ujar Reza sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ibu kandung saya adalah asli Indonesia dan ayah saya keturunan Amerika. Alhamdulillah keyakinan keluarga saya adalah muslim ."
Ucap Farel membuat Cyra menarik nafas lega.