
Badai di luar sana masih setia dengan amukannya yang tidak ingin reda. Keadaan yang terlihat makin mencekam membuat ketakutan yang dirasakan oleh para pelayan yang sedari tadi bertahan di dalam kamar mereka dengan mulut terkunci.
Gwen yang saat ini sedang memberikan instruksi kepada Cyra untuk meminta gadis ini mengejan.
"Ayolah nona Cyra! Ini sedikit lagi, bayimu mau keluar. Jangan berhenti ditengah jalan seperti ini atau kamu akan kehilangan dia."
Ujar Gwen sambil mengumpulkan semangatnya dengan menahan nyeri pada lengannya yang sudah mulai terasa karena habis obat biusnya.
"Aku tidak kuat lagi Gwen. Ini sangat sakit." Keluh Cyra.
"Kalau mau mati, matilah sendiri, jangan ajak bayimu bersamamu."
Gwen mulai kesal dengan Cyra yang terlihat putus asa karena kehilangan suaminya.
Cyra mengumpulkan lagi tenaganya lalu mengejan sekuat mungkin sambil memanggil nama suaminya.
"Farellllll....!"
Sontak saja Farel yang masih dalam pesawat itu merasa mendengar teriakan istrinya.
"Cyra, sayang...!"
Pesawat force one masih mencari celah untuk kembali lagi ke lintasan jalur udara untuk bisa melakukan kontak dengan ATC.
"Presiden!"
Ko-pilot berbicara dengan presiden tentang keadaan pesawat.
"Ada apa?"
"Bahan bakar pesawat makin menipis. Sepertinya pesawat ini tidak bisa masuk ke landasan pacu di bandara setempat saat tiba di New York."
"Lantas apa solusi kalian?"
"Mendarat di atas permukaan laut."
"Lakukan sesuai prosedur darurat! Aku percayakan nyawa kami kepada kalian berdua." Imbuh tuan presiden.
Farrel hanya mengangguk setuju kepada ko-pilot yang sudah mendapatkan ijin dari presiden. Ko-pilot kembali lagi ke tempatnya dan melaporkan lagi pada pilotnya untuk mengukur waktu tempuh dan bahan bakar yang tersisa hingga mereka tiba di kota new York dengan selamat.
Sementara Cyra yang sudah berhasil mengeluarkan bayinya dengan selamat, tersenyum haru menatap wajah bayinya yang sangat tampan itu.
Gwen menggunting tali pusar bayi dan mengikat tali pusar bayi kuat dan membungkusnya dengan kassa.
Tangis bayi yang memecahkan keheningan malam itu dengan Cika yang hanya menatap tubuh mungil itu dengan wajah sendu.
Bayi merah itu diberikan ke Cyra yang langsung menyusui bayinya dengan air mata berlinang.
"Baby! Selamat datang sayang!" Cyra mengecup pipi bayinya dengan lembut.
Rupanya di luar sana, musuh masih saja melempar bom di kediaman Cyra membuat retakan di atas atap terlihat jelas oleh Cyra.
Takut membuat bayinya celaka, Cyra mengambil kain gendong dan selimut untuk bayinya. Ia membersihkan sendiri bayinya dari noda darah yang menempel ke tubuh bayinya karena tangan Gwen yang sudah lemas dan kembali terjadi pendarahan.
Setelah merapikan bayinya ia bicara pada Cika dengan penuh kesedihan.
"Cika! Tolong selamatkan bayiku dan bawalah dia ke tempat yang aman. Aku sangat percaya kepadamu karena kamu akan menjaga putraku.
Sembunyikan bayiku di tempat yang menurutmu aman. Jika keadaan aman, kuharap kamu pulang lagi ke sini dengan membawa bayiku."
Ucap Cyra lalu mengikat bayinya ke tubuh Cika yang sekarang sudah tinggi.
Cyra memasukkan botol susu yang berisi susu formula untuk bayinya. Ia tidak tahu bagaimana cara macan ini memberikan susu itu pada bayinya. Cyra pasrahkan semuanya pada Tuhannya.
Cyra mengajak Cika di ruang kamar ganti yang tersambung dengan kebun belakang yang tidak terlihat dari musuh.
"Baby jangan menangis dan jangan menyusahkan saudaramu, Cika!"
Cika menatap wajah cantik nan sendu milik Cyra yang menatapnya dengan penuh harap. Ia seakan mengucapkan kalau aku akan menjaga bayimu dengan nyawaku.
Selimut anti air itu yang dibungkus dengan kain gendongan menyerupai kantong kanguru di leher Cika.
__ADS_1
Macan itu langsung berlari dengan hati-hati mencari perlindungan yang aman untuk bayinya Cyra.
Cyra kembali mengurus Gwen yang saat ini makin melemah. Kamu duduk di dalam ruang ganti ini dan ini makanan untuk kamu bisa bertahan hidup. Aku akan menyuntikkan obat morfin agar kamu tidak terlalu merasakan sakit.
"Nona Cyra! Kamu mau ke mana?"
"Aku akan membunuh mereka semua."
Ucap Cyra lalu keluar dengan gagah untuk menyerang lawan.
Dari balik pintu yang sudah terbuka lebar ia mengeluarkan kekuatannya dengan mendorong para anggotanya tuan Michael hingga terpental beberapa meter.
"Itu.. dia, wanita itu di sana!"
Tunjuk salah satu anak buahnya tuan Michael.
Suara tembakan membabi-buta itu mengarah ke tubuh Cyra. Dengan sekali dorong, peluru itu seperti mainan bagi Cyra yang kembali berbalik menyerang musuh.
Cyra bertempur dengan para anggota tuan Michael dalam kegelapan di tengah badai.
Rupanya pasukan anggota tuan Michael begitu banyak dan tidak ada habisnya untuk menyerang Cyra.
Cyra mundur perlahan karena tenaganya yang sudah terkuras karena baru melahirkan bayinya. Ia bersembunyi sesaat untuk mengumpulkan tenaganya.
Melihat wujud Cyra yang menghilang, membuat para anggota kembali mendekati rumahnya Cyra yang sebagian sudah hancur karena di bom.
Mereka berjalan dengan senjata yang siap menembak Cyra jika gadis ini muncul.
"Datanglah kepadaku, aku akan membuat kalian seperti daging cincang."
Ucap Cyra yang sengaja mengumpulkan semua anggota tuan Michael dan langsung di bablas habis olehnya.
Di tempat berbeda, pilot pesawat force one sudah dapat tersambung dengan menara ATC.
"Lapor...! Saya pilot force one mengabarkan keadaan kami di sini baik-baik saja."
Suara riuh rasa bahagia di gedung putih itu menyambut haru kabar keselamatan presiden dan awak pesawat lainnya.
"Bagaimana dengan force one?" Tanya Bagian menara ATC.
"Lakukan pendaratan darurat di atas permukaan laut.Tim evakuasi akan menjemput kalian dengan para tenaga medis."
Pesawat force one siap melakukan pendaratan darurat dengan penuh dramatis. Sayap pesawat yang mulai terbakar dengan ekor pesawat mulai retak karena hantaman petir yang sempat menyambar pesawat itu.
Para angkatan laut dengan Speedboat mereka menjemput presiden dengan beberapa orang sneaker siap mengawasi keselamatan presiden.
Badai mulai perlahan reda. Lampu listrik kembali dinyalakan. Farel turun dengan cepat dari tangga perosotan dari bahan parasut mengikuti presiden yang sudah lebih dulu turun.
Presiden dan Farel masuk ke dalam salah satu Speedboat angkatan laut yang ditugaskan untuk menjemput mereka. Beberapa helikopter mulai berdatangan untuk mengawal presiden sampai ke darat.
Karena ingin cepat sampai ke gedung putih, presiden meminta helikopter untuk membawanya ke sana karena keluarganya sedang menunggunya di sana.
Gwen yang ada di dalam ruang ganti milik bosnya melihat ponselnya kembali ada sinyal. Ia segera melapor ke pos angkatan udara tentang kondisi istana marsekal Farel yang diserang oleh musuh.
Bagian pangkalan udara militer segera menghubungi Farel. Para anggota pangkalan udara itu segera mengirim bantuan menuju istana bukit.
Di istana bukit sendiri Cyra dengan semangat nya menyerang para musuh yang sedang menggempurnya habis-habisan.
Tuan Farel yang mendengar istrinya dalam keadaan bahaya langsung membawa sendiri helikopter menuju istananya dengan perasaan kacau balau saat ini.
"Cyra! Aku mohon kamu dan kandungan mu tidak terjadi apa-apa, sayang." Gumam Farel kalut.
Serangan dari udara yang dilakukan oleh pasukan angkatan udara melumpuhkan musuh yang ada dibawah sana.
Cyra yang melihat bantuan mulai datang membuatnya sangat bahagia. Ia kembali mundur untuk bersembunyi dan membiarkan sisa dari anggotanya tuan Michael yang akan diurus oleh pasukan suaminya.
Hampir pukul empat pagi badai itu mulai tenang. Marsekal Farel turun dari helikopternya berlari cepat menuju istananya.
"Cyra...!"
"CYRAAAAA....!"
__ADS_1
Teriak Farel mencari istrinya dari semua ruangan. Bau anyir dari mayat yang bergelimpangan di istananya membuatnya harus menutup hidungnya.
"Cyra sayang..! Aku pulang."
Rupanya Cyra ditemukan di taman belakang rumah tidak sadarkan diri.. Marsekal Farel menggendong tubuh istrinya membawa lagi ke helikopternya.
"Tuan Farel!!" Panggil marsekal Liod.
"Tuan Liod! Istriku pingsan. Tolong bawa kami ke rumah sakit!" Pinta Farel.
"Baiklah. Aku akan mengantar kalian ke rumah sakit."
Helikopter itu kembali take-off menuju rumah sakit. Tubuh Cyra yang mengalami demam tinggi membuatnya terlihat sangat lemah. Farel baru menyadari satu hal kalau perut istrinya saat ini sudah kempes.
"Apakah istriku baru melahirkan? Lalu di mana bayi kami berada?" Gumam Farel makin bingung sendiri.
Helikopter mendarat di atas atap rumah sakit dan tubuh Cyra segera di bawa ke ruang IGD untuk segera ditangani pihak medis.
"Tuan Farel!"
"Iya dokter...?"
"Apakah istrimu baru melahirkan secara normal?"
"Iya dokter."
"Rahimnya mengalami pembengkakan karena suatu akibat yang membuat tenaganya terkuras habis entah karena apa."
Deggggg....
"Apakah masih bisa diobati dokter?"
"Kami akan menyelamatkan nyawanya. Terlambat sedikit saja, keadaan istri anda tidak akan tertolong."
Ucap Dokter Clara.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk istriku dokter...!"
Pinta Farel penuh harap.
"Apakah bayinya baik-baik saja, tuan Farel?"
"Aku juga belum tahu di mana bayiku berada. Anggota ku sedang mencarinya karena sebagian rumahku hancur parah."
"Apakah karena badai..?"
"Bukan. Karena diserang oleh penjahat."
"Astaga...! Apakah penjahat yang mengambil bayimu...?"
Deggggg.....
Farrel tersentak mendengar penuturan dokter tentang bayi mereka.
"Itu tidak mungkin dokter. Aku tidak mau berpikir negatif tentang bayi kami. Itu sangat membuatku kesal."
"Ok.. Semoga bayimu aman bersama seseorang yang sedang menjaganya."
"Terimakasih. Semoga seperti itu."
Sementara itu Cika yang sedang membawa bayinya Cyra berada di sebuah gua yang cukup nyaman untuk mereka tempati. Bayi itu terus menangis membuat Cika terlihat gelisah.
Ia mencari sesuatu yang ada di dalam selimut bayi itu. Dengan susah payah ia mengigit botol itu dan menyuapkan ke mulut bayinya Cyra. Dalam sekejap bayi itu menghabiskan susunya dan kembali tertidur.
Cika keluar dari gua itu setelah memastikan bayi itu tidur dengan tenang. Dari atas lereng bukit ia melihat fajar mulai menyingsing dengan cuaca yang sudah mulai tenang.
Ia kembali lagi ke dalam gua dan menjaga sang bayi tanpa ingin tidur.
Sementara itu Gwen yang saat ini sedang di sandera oleh Jack menanyakan keberadaan bayinya Cyra.
"Katakan! Di mana bayi perempuan iblis itu atau aku akan ledakkan kepalamu dengan peluru ini!" Ancam Jack.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Silahkan tembak aku pengkhianat!"
Umpat Gwen lalu meludahi wajah Jack..