Kekuatan Cinta Cyra

Kekuatan Cinta Cyra
52. Ternyata Kau..!


__ADS_3

Claudia sudah berkumpul dengan keluarga besarnya dan bermain bersama si kembar empat yaitu keponakannya yang sudah mulai bisa berjalan dan itu sangat membuatnya gemas.


Putra putri dari pasangan Celia dan Khalid ini tumbuh besar bersama dengan putranya Farrel dan Cyra. Tidak jarang Cika yang selalu mengawasi ke lima baby yang sedang bermain di rumahnya Cyra.


Ketiganya sedang duduk makan bersama di rumahnya Cyra sambil mengawasi anak-anak di taman belakang bersama Cika yang begitu senang mendapatkan teman barunya begitu banyak.


Celia mulai menggoda saudara kembarnya ini yang masih betah menjomblo.


"Kamu sudah pantas menjadi seorang ibu. Kenapa masih betah melajang Laudia?"


"Karena belum ada yang cocok di hati. Bukan masalah nikahnya tapi perasaanku yang tidak bisa membuat aku memaksakan diri secepatnya menikah dengan pria manapun yang tidak begitu aku sukai Celia , walaupun mereka memiliki segalanya."


Ucap Laudia sapaan akrab Claudia di keluarga besarnya.


"Iya juga sih, Laudia. Orang seperti kita tidak punya motif tertentu untuk mendapatkan pasangan, kecuali ibadah kepada Allah. Apa yang kita inginkan sudah Allah berikan kepada kita semuanya." Ucap Cyra.


"Menjadi seorang princess, dengan fisik Alhamdulillah hampir mendekati sempurna diikuti kejeniusan, itu sudah banyak nilai lebihnya. Sekarang hanya pasangan yang ideal itu yang menjadi prioritas mu saat ini Laudia." Balas Cyra.


"Abi sudah mendapatkan jodoh terbaik untuk Laudia, jadi putriku ini harus menerimanya tanpa ada penolakan."


Ucap raja Fatih membuat ketiganya tersentak.


"Abi! Aku tidak mau dijodohkan Abi." Tolak Laudia.


"Menunggu kamu punya pilihan sendiri, itu kelamaan Laudia, sekarang Abi minta besok malam kamu harus bersiap untuk bertemu dengan seorang pemuda, putra dari sahabat Abi."


"Astaga Abi, secepat itu? Apakah Abi tidak bisa menunggu setahun dua tahun ini, Laudia mendapatkan sendiri jodoh Laudia...?" Bantah Laudia.


"Sebelumnya juga kamu berjanji kepada Abi sebulan dua bulan lagi Laudia akan memperkenalkan kekasih Laudia.


Sekarang ganti setahun dua tahun, nanti keburu keponakanmu menyusulmu menikah duluan." Imbuh raja Fatih.


'Tapi setidaknya ta'aruf dulu Abi, jangan langsung menikahkan kami. Baik menurut Abi belum tentu baik menurut Laudya Abi."


"Abi hanya ingin yang terbaik untuk kamu sayang. Cinta itu bisa hadir saat kamu bisa menempatkan ego mu di bawah kakimu sambil belajar memahami bagaimana perasaan tumbuh karena hadirnya Rahmat Allah di dalam jiwamu bersama pasangan halalmu."


Imbuh raja Fatih membuat Laudia terdiam.


Claudia masuk ke kamarnya. Ia tidak rela di jodohkan oleh ayahnya sementara beberapa hari ini, hatinya sudah terpaut pada pemuda Qatar yang membuatnya sulit tidur.


"Kenapa hatiku lebih condong kepadanya? Aku terlalu bodoh, kenapa saat ia ingin mengantarku pulang, aku malah menolaknya padahal kami bisa berkenalan dan langsung menjalin hubungan. Tapi, apakah dia akan menyukai aku?"


Claudia mendengus kesal dan memilih pulang ke apartemennya. Claudia memang tidak mau menginap di rumah Celia. Ia ingin bebas tinggal di apartemen agar tidak timbul fitnah.


Sementara di hotel, pangeran Ghanim, pemuda tampan ini menolak perjodohan dari orangtuanya.


"Ayah! Bukankah kata ayah kita ke sini hanya untuk bertemu dengan orang-orang penting untuk kerjasama dua negara dalam urusan bisnis gas."


"Itu tetap di lakukan Ghanim. Lagian yang akan ayah jodohkan kamu adalah putri dari raja Maroko.

__ADS_1


Ghanim! Kamu boleh menolaknya kalau tidak menyukai gadis itu. Kami tidak memaksamu nak."


"Baiklah. Kalau itu perjanjiannya aku terima. Semoga gadis itu tidak menyukaiku karena aku tidak menyukainya." Tukas Ghanim.


"Ayah jamin kamu akan menyukainya. Mereka itu keluarga kembar dari pihak ibunya. Ayah kepingin punya cucu kembar agar kerajaan kita kuat."


"Astaga! jadi ayah ingin menjodohkan aku dengan princess Maroko itu karena ingin memiliki keluarga kembar? yang benar saja ayah."


"Bukan itu! Karena ayah ingin ikatan dua kerajaan ini akan besar dan bertambah kuat, jika kalian berdua menikah. Semoga saja kamu menyukai princess Maroko itu."


"Pasti wajahnya sangat jelek dan dia beruntung mendapatkan aku yang sangat tampan. Harusnya aku kemarin langsung melamar gadis Indonesia itu tanpa harus berurusan dengan perjodohan ini."


Ucap prince Qatar ini kesal.


Keesokan malamnya, Claudia sudah berdandan cantik dan siap menemui calon suaminya. Sementara Abi dan ummi nya sudah menunggu di restoran milik menantu mereka Khalid.


Di sana juga ada Celia dan Cyra beserta keluarga kecil mereka masing-masing ikut dalam acara perjodohan itu. Khalid meminta Celia untuk mengenakan gamis Arab lengkap dengan cadarnya.


Khalid tidak ingin orang lain menikmati kecantikan istrinya lewat mata mereka yang selalu jelalatan. Hanya Cyra saja yang memakai hijab untuk pertama kalinya karena menghormati tamu dari keluarga tantenya Calista sebagai kerajaan Arab Qatar.


Farel yang melihat istrinya mengenakan hijab untuk pertama kalinya membuatnya sangat suka.


"Ternyata aku lebih tenang melihat kamu memakai hijab sayang. Dengan begitu aku tidak perlu kuatir ada yang melirik mu."


"Ini hanya untuk menghormati tamunya Tante Calista Farel. Aku belum siap untuk menggunakan hijab sayang."


"Setidaknya kalau ada acara formal seperti ini, lebih baik kamu gunakan hijab sayang."


"Kalau hanya untuk melakukan sebuah kebaikan, kenapa harus menundanya dengan memikirkan untuk mendapatkan hidayah?"


"Tapi,...!"


"Ini perintah sayang dan bukan permintaan." Tutur Farel membuat Cyra hanya menarik nafas jengah.


"Baiklah, aku akan coba." Ucap Cyra dengan wajah gusar.


Di situ juga sudah hadir kedua orangtuanya pangeran Qatar yang akan dijodohkan dengan Claudia.


Kini mereka hanya menunggu kehadiran Claudia yang belum datang juga dari apartemennya.


"Apakah Claudia akan datang Abi?"


Tanya Calista yang tidak enak hati dengan calon besannya.


"Tenang saja sayang. Abi yakin dia tidak akan mengecewakan kita. Claudia anak yang baik. Dia tidak akan membuat kita malu." Ucap raja Fatih.


"Tapi ponselnya tidak diaktifkan Abi. Bagaimana cara kita menghubunginya, apakah dia jadi datang atau tidak."


"Insya Allah, Abi sangat mengenal putri Abi itu sayang."

__ADS_1


Ucap raja Fatih hendak keluar untuk menunggu putrinya di depan restoran.


"Itu putriku sudah datang." Ucap Calista begitu bahagia.


Baru saja Fatih berdiri, tiba-tiba derap langkah kaki dengan bunyi sepatu high heels milik Claudia memasuki ruangan restoran dengan langkah yang sangat elegan membuat sang pemuda terpana dan juga syok.


"Bukankah itu gadis yang membawa koper saya..?"


Gumam pangeran Ghanim lirih.


Ghanim segera berdiri dan begitu antusias yang langsung menyambut Claudia


Claudia yang melihat pangeran Ghanim pun sama terkejutnya dengan Ghanim karena ia tidak menyangka jodohnya adalah pemuda tampan yang ia impikan beberapa hari ini.


Claudia mengangguk hormat pada Ghanim dengan tersenyum manis kepadanya.


Sementara kedua orangtua mereka saling berpandangan melihat keduanya sudah kenal.


"Ternyata kau adalah princess Maroko..? bukankah kamu bilang asalmu dari Indonesia?" Protes pangeran Ghanim yang merasa di tipu oleh Claudia.


'Karena ibuku berasal dari Indonesia. Dan aku tidak begitu suka kalau aku adalah seorang princess." Ucap Claudia.


"Kenapa kamu tidak bangga dengan statusmu sebagai princess Claudia?"


Tanya Ghanim penasaran.


"Karena aku tidak mau pria di luar sana menyukai aku karena statusku bukan karena kepribadianku." Sahut Claudia.


"Hei...! Apakah kalian sudah mengenal satu sama lain?" Tanya ayah dari Ghanim.


"Gadis ini yang telah aku ceritakan kepada ayah."


"Astaga! Ternyata kalian memang berjodoh. Ok, tunggu apa lagi sebaiknya kita mempercepat pernikahan mereka sebelum terjadinya fitnah." Ucap ayah Ghanim.


"Baiklah. Besok kami akan kembali ke Maroko untuk melangsungkan pernikahan di sana sesuai adat Maroko." Ucap raja Fatih.


Claudia dan Ghanim terlihat bahagia karena mereka adalah pasangan yang menjadi harapan keluarga dalam ikatan perjodohan.


"Kalau sudah jodoh mau lari ke mana, pasti akan tetap terjadi."


Ucap Celia pada saudara kembarnya yang sudah duduk bersebelahan dengannya.


"Laudia! Bagaimana kalian bisa saling kenal?


"karena aku salah membawa kopernya."


"Tapi sekarang kamu sudah membawa hatinya."


Ledek Cyra membuat tiga gadis ini cekikikan.

__ADS_1


Perjodohan itu dilanjutkan dengan pertunangan malam itu juga.


__ADS_2