
Keluarga besar Cyra rupanya tidak ingin kembali ke negara mereka kecuali saudara kembarnya Cyra dan Celia kembali lagi ke negara mereka masing-masing.
Andien dan suaminya menemani Celia yang saat ini mengurus bayi kembar empatnya di bantu orangtuanya, Calista dan Fatih.
Sementara Camilla dan Davin merasa betah menemani putri mereka yang saat ini sedang hamil delapan bulan.
Farel yang saat ini sedang bertugas mendampingi presiden, membuatnya hanya memiliki sedikit sekali waktu untuk menemani istrinya.
Namun itu tidak dipermasalahkan lagi oleh Cyra saat ini karena kehadiran orangtuanya dan juga Cika yang membuatnya lebih semangat menjalani masa kehamilannya yang sebentar lagi akan melahirkan.
Walaupun begitu, ada bahaya yang saat ini sedang mengintai Cyra dan Celia. Rupanya tuan Michael yang dikira sudah mati ternyata selamat dari maut itu.
Ia mengerahkan lagi anak buahnya yang tersisa untuk membalaskan dendamnya pada kedua gadis itu.
Rupanya musuh sedang mengintai istana kedua gadis itu setiap saat. Terutama Cyra yang saat ini menjadi target utama mereka untuk membalas dendam pada gadis pemberani itu.
Rupanya di dalam istana kedua princess itu ada penyusup yang menjadi mata-matanya tuan Michael. Keduanya memang ditugaskan untuk mempelajari seluk beluk kediaman Cyra dan Celia.
Bukan rahasia lagi para pelayan dan pengawal Cyra sudah mengetahui jika istrinya Farel ini memiliki kekuatan.
Mereka hanya sedang menunggu gadis ini lengah dan keadaan aman terkendali.
Jika salah satu mata-mata yang ada kediaman Cyra itu memberi perintah pada Tuan Michel untuk menyerang, maka keamanan Cyra saat ini sedang terancam.
Pagi itu Davin sedang mengajak Cika menyusuri area istana perbukitan di temani oleh Alex. Rasa penasaran Davin tentang desa angker yang diceritakan putrinya membuatnya ingin mengetahui tempat itu.
"Apakah di sana jalan menuju desa angker itu?" Pancing Davin pada Alex.
"Bukan di situ tuan ! Tapi area perkebunan sayur itu."
"Apakah pintu gerbang untuk ke empat arah itu sangat aman untuk bisa mencapai istana bukit?"
"Kira-kira begitu Tuan!"
"Apakah aku bisa memeriksanya?"
"Tapi tuan! kami tidak diperkenankan untuk mengantar tamu keluarga ini untuk menuju ke area terlarang itu."
"Bagaimana kalau pintu gerbang itu menjadi jalan masuk untuk penjahat yang bisa saja membunuh putri dan menantuku?"
"Itu tidak akan terjadi tuan karena setiap sudutnya tidak bisa di lewati oleh orang manapun kecuali tempat pangkalan militer yang mempunyai akses masuk ke istana bukit. Itupun harus punya kartu aksesnya seperti milik saya."
Ujar Alex seraya memperlihatkan kartu miliknya pada tuan Davin.
"Baiklah. Jika kamu yakin tidak ada pengkhianat yang berani menyusup ke istana bukit, aku merasa lebih tenang sekarang.
__ADS_1
Tapi jika kamu bohong dan pintu rahasia di bawah sana bisa dibobol, nyawamu yang menjadi taruhannya!"
Ancam Davin membuat Alex meremang ngeri.
Keduanya kembali berjalan dengan Cika yang setia mengawal ayah dari majikannya itu. Perasaan Davin yang tidak bisa dibohongi membuatnya memeriksa semua tempat yang ingin dia ketahui setiap sudut bukit yang sangat luas itu.
Davin mengajak Cika berlari dengan kecepatan seperti bayangan yang tidak bisa terlihat oleh Alex yang makin gugup ditempatnya berdiri.
Ilmu kesaktian yang dimiliki Davin hampir sepadan dengan kekuatan yang dimiliki Cika yang berlari dan melompat untuk menerkam suatu bayangan mangsa yang dibuat Davin pada teman putrinya itu.
Puas bermain-main dengan Cika, Davin tidur ditengah lapangan hijau dengan Cika yang duduk disebelahnya.
"Cika...!" Aku yakin kamu bisa mengerti bahasa ku. Aku mohon jika aku sudah pulang kembali ke negara ku, tolong jagalah putriku dan juga cucuku.
Nyawa mereka dalam tanggung jawab mu selain aku serahkan urusan keduanya kepada Allah."
Pinta tuan Davin sambil mengelus tubuh Cika yang hanya bisa mengedipkan matanya.
Sementara itu, Farel yang sedang mengawal presiden saat ke duanya sedang berkunjung ke Belgia.
Di dalam pesawat force one itu, Farel menanyakan hal yang berhubungan dengan politik yang saat ini sedang marak terjadi.
"Tuan presiden!"
"Yap..!"
"Itu berlaku di negara manapun. Kamu harus pintar-pintar memilih orang kepercayaan mu. Dalam politik, siapa saja bisa jadi musuhmu. Jangankan orang lain, saudara yang lahir bersamamu saja bisa jadi pengkhianat."
"Wah! Kalau itu sih presiden, tidak hanya berlaku di dunia politik, di bumi ini akan terjadi pertumpahan darah hanya karena keegoisan yang mereka bina dalam diri mereka." Timpal Farel.
Keduanya lalu terkekeh dan melanjutkan obrolan lain mengenai keluarga mereka masing-masing.
"Kedua putraku sekarang sedang mencari gadis yang memiliki kekuatan seperti istrimu Cyra.
Walaupun kekuatan itu bukan seperti yang Cyra miliki tapi lebih kepada ketangguhan perempuan itu dalam bela diri semisalnya itu.
Anak-anakku sampai saat ini masih mengagumi Cyra karena merasa Cyra adalah pahlawan mereka."
"Cyra saat ini sudah punya teman baru di rumah kami, tuan presiden."
"Maksudmu istrimu sudah melahirkan?"
"Belum. Usia kandungannya masih delapan bulan."
"Lantas, siapa teman baru Cyra?"
__ADS_1
"Seekor macan!"
Deggggg...
"Apaaa...!" Sentak presiden tak menyangka istri ajudannya ini memelihara anggota penguasa hutan rimba itu.
"Begitulah tuan presiden. Itulah keunikan istriku. Apa yang aku larang itu yang akan ia lakukan. Dan parahnya, aku sulit memarahinya. Wajah melasnya membuat aku tidak tega menyakitinya."
"Terimalah itu sebagai ujian mu, Farel. Mungkin seorang laki-laki sangat gagah dan berani saat berhadapan dengan musuhnya. Tapi saat sudah berhadapan dengan istrinya, dia hanya anjing ompong yang tidak bisa menggonggong."
"Aku berharap, Cyra melahirkan saat aku libur, tuan presiden."
"Oh iya! Itu permintaan Cyra dan syarat utama aku harus memberikan kamu cuti, apapun alasannya, ia tidak mau mendengarkannya."
"Memang dasar istriku, presiden. Ia selalu saja memanfaatkan kesempatan untuk bisa mendapatkan keuntungan untuk dirinya."
Tidak lama kemudian, pesawat mereka mendarat ke negara yang dituju. Penyambutan presiden yang dilakukan oleh presiden tuan rumah negara itu saat tuan presiden turun bersama ajudannya Farel.
Di istana bukit, nampak drone yang tidak di kenal melewati area kawasan di istana bukit. Cyra yang melihat dua drone yang tidak dikenal itu, merasa geram juga. Ia mengira itu adalah kerjaan para anggota militer yang sedang menguji drone itu mengitari kediamannya.
Ia sengaja mengerjai drone itu dengan mendorong drone itu hingga terpental dan jatuh ke bawah bukit mengenai ranjau dan seketika itu juga meledak.
Mendengar ledakan yang terjadi di bawah bukit membuat panik para anggota di bawah sana yang langsung menyisir tempat itu yang di kira para pengintai.
"Kalian kira bisa mengerjai aku dengan drone itu. Dasar mesum! Akan aku adukan perbuatan kalian pada suamiku!" Ancam Cyra geram.
Camilla dan suaminya seketika keluar menemui Cyra yang sedang duduk berdua dengan Cika.
"Ada ledakan apa itu, Cyra?"
"Oh itu mommy! Para anggota militer dibawah sana sedang latihan perang."
Ucap Cyra sambil menahan geli.
"Astaga! Mengagetkan saja."
Ucap Camilla lalu kembali ke kamarnya.
Sementara itu Davin mengambil teropong milik menantunya melihat di bawah bukit banyak anggota militer. Ia mengira apa yang dikatakan oleh putrinya adalah benar.
Dreetttt...
Ponsel Davin kembali berbunyi. Ia segera menerima panggilan dari putranya Daffa.
"Ada apa sayang..?"
__ADS_1
"Daddy... Opa Nerva sedang sakit parah. Opa meminta Daddy untuk pulang."
"Astaga...! Baiklah Daddy dan mommy akan segera pulang." Ucap Davin dengan wajah berubah sendu.