Kekuatan Cinta Cyra

Kekuatan Cinta Cyra
31. Penantian


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan presiden telah usai, Farel segera menghubungi istrinya. Pria tampan ini di berikan segala bentuk fasilitas untuk menunjang karirnya.


Farel memiliki ruang kerja sendiri bersebelahan dengan ruang kerja presiden di gedung putih tersebut.


Farel melakukan panggilan video call agar bisa melihat princess Yunani miliknya.


"Hai sayang!"


Sapa Farrel sedikit meledek istrinya dengan mengedipkan sebelah matanya diikuti kiss bye.


Wajah sembab itu hanya menunjukkan bibir manyunnya dan kembali mewek.


Tubuh jenjangnya yang saat ini sedang mengenakan lengerie hitam dengan tetap menatap wajah sang suami yang berusaha menahan kesedihannya dengan terus menarik kedua sudut bibirnya agar sang istri mau tersenyum padanya.


Cyra tidak bisa menipu dirinya sendiri kalau saat ini hatinya masih tidak bisa terima suaminya meninggalkan dirinya di malam pengantin mereka.


"Apakah kamu tidak ingin tersenyum pada suamimu ini, sayang?"


Cyra menggeleng kepalanya sambil berurai air mata. Dalam hatinya ia berkata..


"Aku tidak bisa Farel. Ini tidak mudah bagiku untuk menghadapi ini semua dan tolong jangan memaksaku."


"Cyra! Aku mau bertugas lagi sayang, apakah kamu tidak ingin memberikan ciuman padaku?"


Alih-alih untuk melakukan permintaan suaminya, ia malah menanggalkan lengerie memperlihatkan aset berharganya dihadapan sang suami.


Farel menarik nafas berat dan menghembusnya dengan lembut. Ia harus menenangkan juniornya di bawah sana yang lebih merespon lawan mainnya dari pada pemiliknya.


"Mengapa kamu yang merasa paling girang? apakah kamu tidak bisa kompromi dengan nasibku yang malang ini?"


Bujuknya pada juniornya yang makin kian membengkak dan mengeras di balik seragamnya yang menjepit kepalanya yang terasa linu.


Ingin rasanya dia menutup video call itu, tapi gadis itu akan makin tersinggung, kalau ia nekat menutupnya. Cyra melakukan gerakan erotis makin menggoda sang suami yang sudah tidak kuat dan hampir meledak menyaksikan setiap liukan tubuh yang membangkitkan syahwat.


"Apakah kamu ingin membunuh suamimu, sayang?"


Tanya Farel namun Cyra hanya memainkan satu jarinya dengan gerakan menggoda seperti sedang menjilati es krim.


Wajah Farel makin memerah. Biasanya ia bisa menahan diri melihat wanita telanjang, namun tidak pada istrinya sendiri. Miliknya lebih cepat bereaksi dan sulit di ajak kompromi.


Cyra mengetahui kalau suaminya tidak bisa lagi menahan hasrat birahinya yang membuncah, dengan teganya ia langsung mematikan sambungan video call itu membuat Farrel mendengus kesal.


"Apakah istriku sudah mulai setress karena keinginannya tidak kesampaian? Apakah seperti itu amarah seorang istri yang sedang ngambek parah?"


Batin Farel yang saat ini harus ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya.


Cyra segera cabut dari hotel itu dan kembali ke rumah kedua orangtuanya yang ada di pinggir pantai. Daffa dan David sangat senang melihat saudara kembar mereka kembali ke rumah mereka. Namun keduanya mencari kakak ipar mereka yang gagah itu saat Cyra turun dari mobil sendirian tapi tidak ada Farel.

__ADS_1


"Cyra! Di mana kakak ipar?"


"Sudah pergi."


Cyra melangkah ke dalam rumahnya, sementara saudara kembarnya menarik kopernya.


Kedua orangtuanya sudah mengetahui apa yang terjadi dengan putri mereka karena Farel sudah memberi tahu tentang tugasnya.


"Kamu sudah memilih jalanmu untuk siap hidup dengan seorang perwira, maka tidak boleh menyampaikan keluhan." Ucap Camilla bijak.


"Tapi tidak pada di malam pengantinku mami." Ucap Cyra ketus.


Sebentar lagi, anak buahnya farel akan menjemputmu untuk menetap di rumah pribadinya, bersiaplah sayang!"


"Hari ini...?"


"Apakah kamu tidak mau menghabiskan bulan madu kalian di rumah pribadi kalian?"


"Tapi Farel sedang bertugas mami, masa aku sendirian di rumah sebesar itu?"


"Sudah ada pelayan yang siap melayani kebutuhan kamu sayang."


"Yang aku butuhkan itu suamiku bukan mereka, mamiii..!" Rengek Cyra manja.


"Cih! yang jadi istri siapa, orang di salahin."


"Celia! kamu masih di sini? di mana Khalid ?" Seru Cyra begitu girang melihat lagi Celia.


"Di Amerika. Bukankah kamu pernah berdoa agar kita akan mendapatkan jodoh yang akan menetap di negara yang sama, hmm?"


"Oh iya benar, kenapa aku sampai lupa?" celetuk Cyra malu sendiri.


"Ayolah bersiaplah, nyonya Farel karena aku akan menumpang pesawat jet pribadi suamimu, bolehkan?" Pinta Celia.


"Cih! Rupanya pangeran Arab mu itu pelit sekali sehingga istrinya menumpang pesawat jet pribadi suamiku?" Sindir Cyra dengan candaan.


"Minyaknya tidak laku terjual jadi tidak bisa membeli pesawat untuk istrinya." Sahut Celia cekikikan.


Cyra akhirnya terkekeh dan melupakan kesedihannya. Keduanya langsung naik helikopter angkatan udara menuju pangkalan militer angkatan udara Yunani, di mana pesawat jet pribadi milik Farel sedang menanti dua princess ini yang harus di kawal ketat.


Celia sudah meminta ijin suaminya untuk menginap di rumah Cyra sampai suaminya off dari tugasnya.


Khalid tidak keberatan sama sekali asalkan istrinya mau pulang, jika ia menginginkan Celia.


Keduanya sepakat agar tidak melupakan kewajiban mereka masing-masing selama Celia menemani Cyra.


Farel yang baru memulai menjalankan tugas pertamanya menjadi ajudan presiden, menemani presiden ke negara London untuk menghadiri acara kenegaraan.

__ADS_1


Mata elangnya siap mengawasi setiap gerakan orang lain yang berada di dekat presiden dengan sangat waspada.


Walaupun banyak sneaker bertebaran untuk mempermudah pekerjaannya tapi tanggung jawabnya sebagai ajudan lebih di pertaruhkan karena tubuhnya sendiri yang harus siap menjadi tameng untuk presiden dari serangan musuh.


Earphone yang selalu terpasang siap mendengarkan semua laporan yang ia terima dari teman-temannya yang yang ikut mengamankan keberadaan presiden untuk menapaki jalan yang akan dilewati oleh presiden.


Farel sangat semangat mengikuti semua protokol kepresidenan selama menemani presiden dari berangkat hingga kembali ke negara mereka dengan aman.


Ia berharap setelah ini selesai ia langsung menemui istrinya yang setia menunggunya di rumah baru mereka saat ini.


"Aku harap kamu setia menungguku sayang dan menyambut ku saat aku pulang nanti." Batin Farel.


Pertemuan presiden dengan perdana menteri Inggris di dalam istana negaranya, cukup membuat pria berusia dua puluh tujuh tahun ini sedikit santai untuk memikirkan wajah sang istri.


Walaupun begitu, ia tetap waspada demi kenyamanan presidennya dalam pertemuan itu.


Beberapa jam kemudian, presiden sudah keluar dari gedung itu dan masuk lagi ke mobilnya setelah berjabat tangan dengan perdana menteri Inggris dan langsung menuju bandara.


Farel begitu bersemangat menemani lagi presidennya di dalam mobil dan mulai berbincang dengan presiden untuk membahas isi dari pertemuan tersebut. Usai membicarakan urusan negara kini keduanya membuka obrolan santai.


"Farel! Setibanya di bandara New York, kamu boleh menemui istrimu dan biarkan saya di kawal oleh yang lainnya."


Ucap presiden membuat Farel bisa bernafas lega.


"Terimakasih presiden."


Farel meneguk minumannya sambil membayangkan tubuh Cyra yang menjadi incaran kerinduannya saat ini.


Pesawat force one yang sedang terbang mengangkasa terlihat lancar tanpa ada gangguan cuaca.


Farel berharap penerbangan ini tidak akan menemukan kendala cuaca maupun serangan musuh di perlintasan zona negara lain hingga tiba di New York.


Hari itu Cyra harus merelakan sahabatnya Celia meninggalkannya demi menemui sang suami yang saat ini sedang merindukan istrinya.


Ia berjalan di perkebunan sendirian tanpa ingin di kawal oleh anak buah suaminya.


"Nona! Kami harus mengikuti langkah anda ke manapun anda berjalan karena ini perintah tuan Farel."


"Aku bisa menjaga diriku sendiri tanpa kalian. Pergilah dari hadapanku atau tubuh kalian akan aku pindahkan ke aliran sungai itu?"


Ancam Cyra pada anak buah suaminya yang bingung dengan kata-kata gadis ini.


"Maaf nona tapi kami hanya....!"


Deru baling-baling helikopter yang muncul dari kejauhan membuat ketiganya berhenti berdebat.


Wajah Cyra langsung sumringah melihat helikopter yang masih sebesar bola di matanya namun ia tahu helikopter itu sedang membawa sang suami kepadanya.

__ADS_1


Cyra berlari ke landasan pacu untuk menyambut pangerannya diikuti oleh kedua anak buahnya Farel yaitu Alex dan Jack.


__ADS_2