
Salju yang turun memenuhi setengah halaman dengan taman bunga yang sudah tidak lagi berbentuk.
Butiran putih itu lebih terlihat membentuk balok es yang diserut di atasnya. Dua tubuh polos di dalam sana masih memburu kenikmatan yang sedang mereka gapai.
Sudah beberapa kali sang istri melakukan pelepasan, namun sang suami seakan tidak peduli dengan kelelahan sang wanitanya hingga terus saja bekerja sendiri di atas tubuh jenjang itu.
Hingga keduanya mengerang bersama merasakan kenikmatan itu dengan senyum mengembang tanda kepuasan yang mereka raih bersama.
Saat hendak bangkit, Celia merasa sangat lemas seakan ingin pingsan. Pandangannya seakan memutar dengan perut terasa bergejolak ingin memuntahkan isinya di dalam sana.
Khalid yang melihat ekspresi wajah istrinya seakan sedang menahan sesuatu, menghampiri Celia yang sedang membekap mulutnya.
"Sayang! Apakah kamu baik-baik saja?"
Khalid ingin menghampiri tapi Celia sudah berlari duluan ke wastafel toilet. Celia mengunci pintu kamar mandi karena tidak ingin suaminya merasa jijik dengannya.
"Celia! buka pintunya! kenapa harus dikunci?" Omel Khalid sambil memutar-mutar knop pintu itu.
Celia segera membuka pintunya dengan tubuh yang tidak bisa lagi berdiri di atas pijakannya. Mata indah itu terlihat makin sayu dengan wajah pucat seperti kapas. Khalid langsung menggendong istrinya dan membawanya ke kasur king size.
"Astaga! Apakah aku terlalu lama menggempur tubuhnya hingga ia hampir mati lemas seperti itu?"
Batin Khalid lalu memberikan wewangian aroma terapi yang bisa membuat istrinya nyaman.
"Apakah kamu bisa menjauhi aku Khalid?"
"Ada apa sayang? Apakah tubuhku bau?"
Tanya Khalid sambil mencium aroma tubuhnya yang tidak merasakan bau apapun.
"Maafkan aku sayang! Tapi aku tidak bisa berdekatan denganmu. Apakah kamu bisa tidur di kamar terpisah denganku?"
"Apa..? Aku harus menjauh darimu? Ada apa Celia..? Kenapa kamu tiba-tiba aneh seperti itu padahal beberapa saat yang lalu kita baru habis bercinta?"
Protes Khalid yang tidak ingin jauh dari istrinya. Khalid mencoba merangkul tubuh Celia namun gadis ini kembali enek.
Hoek...Hoek..
Celia menghamburkan lagi ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi itu.
"Astaga! Kenapa hidung istriku jadi aneh seperti ini?"
Khalid akhirnya mengalah dan meninggalkan kamarnya menuju kamar tamu.
"Aku tidak percaya ini. Bisa-bisanya aku tidur sendirian padahal sudah punya istri." Sungut Khalid lalu menghempaskan tubuhnya dengan rasa kesal yang membuncah.
Celia keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega karena aroma tubuh suaminya sudah tidak terasa lagi.
"Kenapa aku menjadi sangat memalukan seperti ini? Apakah aku keterlaluan mengusir suamiku sendiri dari kamarnya?"
Celia menarik selimut tebal itu lalu tidur dengan tenang. Tubuhnya yang sangat lelah membuatnya lebih cepat terlelap dalam mimpi indahnya.
...----------------...
__ADS_1
Di saat sarapan pagi, Khalid sudah rapi dengan jas lengkap dengan dasinya. Ia menghampiri Celia yang sudah duduk di meja makan dengan wajah lesu.
"Sayang! Aku sudah buat janji dengan dokter untuk memeriksa keadaanmu." Ucap Khalid yang ingin mendekat.
"Stop! Jangan mendekat! Aku merasa mual lagi saat ini."
Titah Celia dengan mengangkat satu tangannya untuk mencegah suaminya mendekati dirinya.
"Sayang! Aku baru selesai mandi dengan menggosok sabun hampir empat kali dan aku memakai parfum yang paling kamu suka wanginya. Kenapa malah merasa mual lagi. Ada apa denganmu..?"
Tanya Khalid terdengar frustasi.
"Tolonglah Khalid! Aku tidak suka mencium aroma tubuhmu. Tolong ganti parfum lain yang lebih ringan seperti wangi bayi!"
"Apakah kamu ingin aku memakai parfum untuk baby?"
"Kalau kamu ingin dekat denganku, lakukan itu untukku!"
"Baiklah aku akan ke supermarket mencari parfum bayi. Aku berangkat ke restoran dulu dan jaga dirimu. Aku akan memanggil dokter langsung ke rumah saja kalau kamu tidak ingin aku menemanimu."
Ucap Khalid sambil melambaikan tangannya kepada Celia.
Celia hanya menatap suaminya dengan wajah yang terlihat sangat loyo.
Setibanya di restoran wajah Khalid terlihat cemberut membuat manajer Hakimi menegurnya dengan hati-hati.
"Apakah Anda baik-baik saja prince?"
"Tidak Hakimi!"
"Istriku tiba-tiba saja tidak ingin dekat denganku karena merasa aroma tubuhku sangat bau padahal parfum yang aku pakai adalah pemberiannya.
Dan parahnya dia selalu muntah kalau aku mendekat, ini sangat membuatku kesal." keluh Khalid.
"Apa mungkin nona Celia saat ini sedang hamil prince?" Ujar Hakimi.
"Apakah yang kamu katakan itu benar Hakimi?"
"Tentu saja prince. Karena istriku juga mengalami hal yang sama seperti nona Celia saat hamil anak pertama kami." Sahut Hakimi.
"Kalau begitu aku memanggil dokter spesialis kandungan untuk lebih memastikan keadaan istriku hamil atau tidak."
Ujar Khalid merasa bahagia.
Tiga jam kemudian, seorang dokter muda yang sangat cantik mendatangi kediaman Khalid untuk memeriksa princess Maroko tersebut.
Khalid yang ingin masuk ke kamarnya ditolak Celia hingga membuat pangeran Arab Saudi ini ini sangat kecewa.
Dokter Rihanna tersenyum pada Celia saat merasakan detak jantung calon janin lebih dari dua atau tiga calon janin.
"Apakah keluarga kalian keturunan kembar?"
"Iya dokter! Kenapa dokter bertanya seperti itu?"
__ADS_1
"Sepertinya anda saat ini sedang hamil anak kembar tiga."
"Apa...?" Aku hamil kembar?"
"Lebih dari kembar dua atau tiga nona Celia."
"Benarkah? Aku hamil dokter?"
Celia hampir tidak percaya atas kabar bahagia itu.
"Selamat nona Celia...! Untuk lebih jelasnya besok anda bisa mengunjungi poli kandungan di rumah sakit saya bekerja. Kebetulan besok saya praktek."
"Baiklah dokter Rihanna. Terimakasih sudah memeriksa keadaanku."
Keduanya bersalaman. Dokter Rihanna menghampiri pangeran Khalid yang sedang cemas menunggu.
"Selamat tuan Khalid. Anda sebentar lagi akan menjadi seorang ayah dan istrimu saat ini sedang hamil kembar dua atau tiga."
"Terimakasih dokter. Bayaran anda sudah saya transfer." Ucap Khalid tidak sabar untuk menemui istrinya.
Khalid meminta pelayannya untuk mengantar dokter Rihana ke depan pintu utama. Sementara ia sendiri langsung masuk ke kamarnya untuk meluapkan kegembiraannya kepada sang istri.
"Jangan mendekat!"
"Sayang Aku hanya ingin memelukmu."
"Tidak mau! Aku bisa muntah lagi kalau kamu nekat mendekat."
"Astaga! Apakah anakku sangat membenciku hingga kamu tidak sudi memeluk suamimu sendiri?"
"Tidak bisa! Aku hanya ingin tidur sendiri. Keluarlah! Bau tubuhmu mulai terasa olehku."
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu. Belum lahir saja mereka sudah mengerjai ku, bagaimana kalau mereka sudah lahir ke dunia ini.
Mereka seakan sedang mengusai istriku sampai aku sulit untuk mengecup bibirnya saja."
Gerutu Khalid Khalid kembali ke restorannya.
Sementara di villa miliknya tuan preseden Cyra dan suaminya saat ini harus menelan kecewa yang sangat mendalam hingga Cyra sulit memaafkan dirinya sendiri.
"Nona Cyra! Luka dalam yang anda derita berakibat buruk pada kandungan anda." Ujar dokter Celine.
"Apa maksudnya dokter?"
"Sepertinya anda tidak bisa menjadi seorang ibu." Tegas dokter Celine.
Deggg...
Cyra menggeleng kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak...tidakkk... Ini tidak mungkin. Kau tahu dokter..Aku dilahirkan dengan saudara kembar tiga dan kami adalah keluarga besar kembar..Mana mungkin anda mengatakan kalau aku tidak bisa menjadi seorang ibu..?"
Cyra menatap wajah suaminya yang terlihat syok tampak terpaku di tempatnya berdiri. Farel tidak sanggup berkata apapun karena berita ini adalah berita yang paling kejam yang ia pernah terima.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan Farel karena mengabarkan kabar buruk ini." Dokter Celine segera meninggalkan kamar Cyra yang masih diselimuti duka mendalam.