Kekuatan Cinta Cyra

Kekuatan Cinta Cyra
40. Tempat Rahasia!


__ADS_3

Farel mendiamkan istrinya yang sedang berjalan dengan tubuh yang masih lemas usai berhadapan dengan para hantu yang mengikutinya sedari pagi hingga menjelang sore.


Mungkin saat ini wajahnya sangat pucat tak terlihat oleh Farel karena penerangan di sekitar ruang bawah tanah itu terlihat temaram.


Sampai tiba di atas istananya, Farel tetap bungkam dengan memasang wajah datarnya. Apa yang ia lakukan semata-mata untuk menghukum istrinya yang tidak mau mendengar larangannya.


Para pelayan yang melihat pasangan ini tidak berani melihat apa lagi menegur keduanya.


Cyra sudah tahu hukuman apa yang akan ia terima nantinya saat sudah berada di kamar.


"Sekarang kamu mandi dan sholat. Pasti kamu sudah melewati beberapa waktu sholat."


Titah Farrel sambil membantu Cyra membuka baju gadis itu.


"Farrel! Maafkan aku! Aku hanya ingin tahu tempat yang tidak boleh aku datangi tanpa ada yang mau menjelaskan kepadaku."


Ucap Cyra yang sudah menyalakan shower untuk membersihkan tubuhnya.


"Jika aku menjelaskannya kepadamu, apakah kamu mau mendengarkan aku untuk tidak mengunjungi tempat itu lagi?"


"Baiklah. Aku janji tidak akan ke sana lagi, atau tempat manapun yang tidak boleh aku datangi. Sekarang beritahu aku dari empat pintu dengan jalur berbeda, mana yang lebih aman di kunjungi dari bagian arah selatan, timur dan barat, ada apa saja di sana?"


Tanya Cyra saat suaminya membantu mengkeramas rambutnya.


"Jangan ke arah selatan karena di situ bernaung satwa liar."


"Barat ..?"


"Tempat pelacuran!"


"Timur...?"


"Jalur pangkalan angkatan udara yang menyimpan banyak senjata dan peralatan untuk rakitan bom."


Degggg....


"Tempat ini..? Semuanya menakutkan bagiku. Kenapa kamu memilih tempat ini untuk dibangun istana di atasnya?


Aku tidak mau tinggal di sini lagi. Ini sangat menakutkan bagiku."


"Itulah sebabnya aku tidak ingin kamu mengetahui apapun tempat ini agar kamu tidak menjadi penakut seperti ini."


"Lebih baik aku tinggal di apartemen ku di pusat kota New York daripada menghabiskan hidupku di tempat ini yang tidak ada membawa manfaatnya sama sekali.


Aku terisolir dari kehidupan sosial. Aku tidak punya teman selain para pelayan rumah ini dan dua anak buahmu yang idiot itu. Aku harus berpergian dengan helikopter. Aku tidak bisa membawa mobil sendiri." umpat Cyra.


Farel merasa apa yang dikatakan oleh istrinya adalah benar. Jika Cyra hanya bertahan di istana ini, maka gadis ini tidak akan bergaul dengan siapapun.


Apa lagi ia jarang pulang dan istrinya adalah wanita nekat yang selalu mau tahu apapun walaupun sudah dilarang.


"Kamu mau kita beli rumah atau apartemen?"


"Rumah."


"Baiklah kalau kamu ingin tinggal di kota, aku akan mencari rumah untukmu tapi ingat satu hal. Jangan terlalu mencampuri urusan hidup orang lain.


Jangan mengeluarkan kekuatanmu yang akan membahayakan dirimu. Cukup untuk keluarga presiden untuk pertama dan terakhir."

__ADS_1


"Hmm!"


Farel memakaikan jubah mandi ke tubuh Cyra. Keduanya sepakat untuk melakukan sholat magrib bersama dan menikmati makan malam.


Usai makan malam, Cyra akhirnya menceritakan apa yang ia lihat di hutan di bawah kaki bukit ini.


"Farel,..!"


"Iya sayang!"


"Aku bertemu dengan seorang pria di dalam kastil yang ada di hutan itu."


"Kastil...? Pria ..? Itu hanya sebuah hutan angker dan tidak ada apapun di sana kecuali penghuni jin."


Ucap Farel lalu merapatkan tubuh istrinya dalam dekapannya.


"Aku benar-benar bertemu dengannya Farel. Dia menceritakan tentang kehidupannya yang menyedihkan dan akhir cerita cintanya yang berakhir dengan tragis."


"Jadi kamu bertemu dengan rajanya iblis itu ....?"


"Aku tahu Farrel mereka adalah bangsa jin dari kumpulan para Qorin manusia yang menetap di alam mereka. Aku sudah di bawa ke alam mereka.


Mereka memang ada tapi tidak semua manusia melihat keberadaan mereka dengan kasat mata kecuali memiliki ilmu tertentu yang bisa melihat mereka." Ucap Cyra.


"Baiklah. Apa yang pria itu ceritakan? Apakah dia menyebutkan siapa dirinya padamu?"


"Iya Farel. Ia memperkenalkan dirinya kalau ia bernama raja Louise Alexander Grayson."


Deggggg....


"Apakah kamu pernah mendengar nama itu Farel..? Dia seorang raja yang sangat tampan dan kamu tahu.. apa yang aku temukan selain raja itu ...?"


"Tidak..!"


"Istrinya adalah ratu Agatha sangat mirip denganku dan raja itu merasa aku adalah ratunya yang menemuinya kembali setelah sekian lama mereka berpisah kerena ratunya bunuh diri setelah menjadi korban perkosaan oleh para suku bar-bar.


Deggggg....


Lagi-lagi Farel membenarkan cerita Cyra karena neneknya menceritakan hal yang sama padanya dalam hatinya.


...----------------...


Keesokan harinya, Farel dan Cyra mendatangi beberapa rumah yang sudah mereka temukan di internet.


Walaupun semuanya terlihat bagus, namun Cyra tidak langsung menjatuhkan pilihannya sebelum menelusuri bagaimana kehidupan para tetangganya.


Cyra ingat pada saudaranya Celia. Ia ingin hidup bertetangga dengan saudaranya itu daripada yang lainnya.


"Sayang! Aku punya ide. Kenapa kita tidak mencari rumah disekitar tempat tinggal Khalid dan Celia saja?"


"A..iya! Kenapa kita tidak berpikir sejauh itu. Apalagi komplek tempat tinggal Khalid rata-rata para imigran dari timur tengah. Baiklah kita berkunjung ke saudaramu Celia."


Ucap Farel semangat.


Cyra langsung menghubungi Celia menanyakan apakah ada rumah yang dijual di sekitar pemukiman mereka.


"Ada rumahnya keluarga Khalid yang di jual saat ini, Cyra. Mereka ingin kembali ke Arab Saudi." Ujar Celia.

__ADS_1


"Syukurlah, akhirnya aku bisa bertetanggaan denganmu." Ucap Cyra.


"Baiklah. Kalian di mana sekarang? Aku tunggu kalian di rumah. Kebetulan aku masak makan siang sendiri. Cepatlah. Aku makan siang bersama kalian. Kebetulan ada Khalid juga di sini." Ucap Celia antusias.


"Paling sepuluh menit lagi kami akan tiba di rumahmu Celia. Kamu masak apa?"


"Masak makanan Indonesia. Aku lagi kangen sama masakan ummi yang selalu masak makanan Indonesia."


"Wah pasti enak, apakah kamu masak rendang Celia?"


"Lho ko kamu bisa tahu aku masak rendang?"


"Sudah kecium olehku dari sini."


Ujar Cyra yang sudah masuk ke halaman istana pangeran Khalid.


Celia menahan tawanya karena ia sudah tahu Cyra sudah tiba di rumahnya.


"Gadis ini selalu saja mengerjai aku."


Ucapnya langsung keluar menemui tamunya.


"Cih..! Dasar kamu seperti kucing garong saja sudah mengetahui aku datang."


Omel Cyra dengan sindiran kasarnya namun terasa geli di pendengaran Celia .


Keduanya berpelukan dan Cyra mengecup perut besar Celia yang sudah berusia lima bulan.


"Kau itu tidak sabaran sekali hingga tidak mau menungguku untuk bisa hamil bareng seperti ibu kita, Celia." Ucap Cyra.


Farel yang melihat perut Celia yang sangat besar merasa heran.


"Apakah hamil kembar tiga sebesar ini perutnya?"


Tanya Farel penasaran.


"Bukan kembar tiga, tapi empat." Ucap Khalid.


"Semoga Cyra cepat hamil dan punya bayi kembar empat sama seperti Celia."


Ucap Farel di aaamiin kan semuanya.


"Jangan terlalu percaya diri Farel! Bukankah kamu sudah tahu kalau aku...!"


Celia langsung mencubit lengan Cyra untuk tidak meneruskan kata-katanya.


"Seorang wanita beriman itu tidak pernah mempercayai prediksi dokter untuk hidupnya. Belajar untuk tetap mempercayai ketetapan Allah melalui rahmat-Nya." Imbuh Celia


"Lebih baik kita makan siang bersama setelah itu kita ke rumah sebelah karena rumah yang kalian ingin lihat bersebelahan dengan rumah kami." Ucap Khalid.


Usai makan siang bersama, Cyra pamit mau ke toilet. Celia mengantar Cyra menuju toilet khusus tamu. Tapi baru beberapa langkah berjalan, tubuh Cyra tiba-tiba oleng membuat Celia seketika menjerit.


"Cyraaaa!"


Farel langsung menghampiri istrinya yang sudah pingsan dalam pelukan Celia. Farel membawa tubuh Cyra ke sofa yang ada di ruang keluarga itu.


"Astaga,! apa yang terjadi dengan Cyra..? Selama ini dia tidak pernah pingsan." Keluh Celia.

__ADS_1


__ADS_2