
Cyra berlari menghampiri suaminya yang sudah melompat dari helikopter yang masih memutarkan baling-balingnya.
Farel menjatuhkan tas kerjanya dan membuka kedua lengannya untuk menyambut Cyra yang ingin menghamburkan tubuhnya dalam pelukan suaminya.
Tubuh itu langsung di tangkap oleh marsekal muda ini sambil memutar beberapa kali dan langsung melabuhkan ciuman mesra diantara keduanya.
Jack dan Alex tidak ingin tersiksa batin mereka, keduanya memilih berlari menghindari adegan dewasa yang akan memporak-porandakan jiwa jomblo mereka.
Begitu pula sang pilot kepresidenan langsung menerbangkan kembali helikopternya sambil menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kecut.
Ciuman itu terhenti dengan sendirinya setelah keduanya cukup puas melepaskan kerinduan mereka.
Sambil menggendong sang istri dengan kedua tangan Cyra yang sudah melingkar ke leher kokoh itu, berjalan dengan langkah yang tetap tegap nan gagah membuat beberapa pelayan langsung menghindar karena malu sendiri.
Burung-burung gereja juga tidak ingin menyaksikan dua makhluk ini yang sebentar lagi akan beradu peluh menuju singgasana mereka.
"Terimakasih kamu sudah menempati rumah ini menjadi nyonya Farel Alexa."
"Terimakasih juga sudah pulang untuk istri keduamu ini."
Sindir Cyra langsung dihisap hidungnya oleh Farel.
"Kamu harus dihukum sayang karena sudah berani menggodaku saat aku bertugas!" Ucap Farel gemas.
"Aku hanya ingin kamu cepat pulang dan semua pikiranmu hanya tertuju padaku. Dan semoga hari ini adalah milikku tanpa ada godaan lagi panggilan dari siapapun karena kali ini Aku tidak akan membiarkan kamu pergi atau mereka akan ku buat hancur!"
Ancam Cyra yang dikira Farel sebagai bentuk candaan.
"Insya Allah! Aku janji hari ini adalah milikmu untuk tiga hari ke depan."
"Hanya tiga hari?"
"Karena aku harus rolling shift dengan temanku untuk mengawal presiden."
"Menyebalkan sekali tuan presiden itu! aku harus berbagi kamu dengannya."
Ucap Cyra lalu membantu suaminya menanggalkan jas dari tubuh sang suami.
"Apakah kamu mau mandi bersama denganku?"
Tanya Farel yang ingin di manjakan oleh istrinya.
Cyra mengangguk senang karena Ingin bermain air bersama dengan sang suaminya. Ciuman itu kembali terjadi di dalam bathtub yang sudah penuh dengan air hangat dan banyak bisa di dalamnya yang siap merendam tubuh keduanya.
Farel menyabuni tubuh istrinya dengan penuh kelembutan, begitu juga Cyra pada tubuh sang suami.
Ketika tangan Cyra menemukan titik termahal milik sang suami, ia meminta untuk memanjakan milik itu yang ingin dilihatnya bagaimana perkasanya bentuk itu berdiri tegak dihadapannya.
__ADS_1
Mendengar itu, Farel mengakhiri acara mandi mereka dan mengangkat tubuh istrinya langsung ke kamar mereka karena ini adalah pertempuran perdana mereka sebagai suami istri.
Tubuh keduanya sudah dikeringkan dengan handuk. Suara nafas yang terdengar berat antara keduanya tidak mampu lagi meredakan gelora yang sudah membumbung tinggi di puncak ubun-ubun keduanya.
"Apakah aku boleh melakukannya?"
Tanya Kiran dengan sengaja menyentuh miliknya Farel yang sudah membengkak di bawah sana.
Farel menahan nafasnya saat Cyra makin berani mengusap bagian itu.
Farel mengeluarkan suara mendesis menikmati tangan Cyra yang sudah mengelusnya dengan lembut.
"Apakah aku boleh bermain-main dengannya, Farel?"
Tanya Cyra dengan suara bergetar.
Deggggg...
"Apakah kamu bisa melakukannya?"
Batin Farel yang meragukan istrinya yang belum pernah melakukannya dengan pria dewasa. Farel kelihatan gugup sama gugupnya dengan Cyra saat ini.
"Mungkin kamu akan kaget jika melihatnya yang lebih besar dari ini nantinya, sayang karena ini belum seberapa ukurannya. Ini akan terlihat lebih besar sesaat lagi."
"Tapi mungkin ini muat di mulutku, Farel. Aku ingin menjilatinya seperti es krim."
Jantung Farel makin menggebu-gebu mendengar permintaan Cyra. Tanpa pikir panjang, Farel yang sudah terbawa suasana mengangguk senang dengan tawaran istimewa dari istrinya untuk melayaninya.
Apa yang dikatakan oleh Farrel memang benar adanya. Cyra terbelalak melihat benda sebesar itu yang tidak mungkin muat di mulutnya.
"Kamu boleh melakukan apa saja kepadanya. Aku ingin merasakan nikmatnya seperti kamu menjilati es krim. Lakukan sayang, dia milikmu!"
Pinta Farel yang sudah tidak tahan saat Cyra mulai membelainya dengan lembut.
Cyra melakukan permintaan Farel tapi, itu tidak membuat Farel puas. Ia ingin merasakannya yang lebih dari sekedar jilatan dan ciuman.
"Lahap sayang!" Perintah Farel sambil membelai lembut surei panjang berwarna coklat pirang milik istrinya.
"Tapi mulutku tidak cukup memasukkannya."
"Lahap dengan perlahan dan kamu akan terbiasa." Bujuk Farel setengah memaksa Cyra.
Cyra segera memasukan benda padat itu dengan ukuran yang cukup mencengangkan dirinya.
Dalam sekejap semuanya masuk sempurna dan Kiran mulai memaju mundurkan kepalanya untuk memberikan sensasi hebat pada sang suami, walaupun ia harus tersedak beberapa kali.
Farel menikmatinya hingga mencapai puncak kenikmatan hanya dengan melalui permainan mulut Cyra.
__ADS_1
Farel mengakhiri permainan miliknya di mulut istrinya dan beralih memanjakan milik istrinya.
Permainan Farel yang sudah terlatih karena mengenal titik-titik kelemahan seorang wanita. Cyra di buat mabuk berat berkali-kali dengan mengerang nikmat.
Saat keduanya sudah tidak mampu lagi menahan birahi mereka. Keduanya memutuskan untuk melakukan penyatuan tubuh mereka.
Farel menekan lebih kuat dengan mendorong pinggangnya hingga semuanya masuk dengan sempurna.
Cyra menahan rasa sakit, perih dan juga geli yang menggelitik di dalam sana dengan mengigit bibir bawahnya. Darah segar itu memenuhi tempat sempit itu hingga mengalir di seprei putih itu.
Rasa bangga Farel yang benar-benar mendapatkan seorang princess Yunani ini, yang tidak tersentuh sama sekali walaupun menghabiskan setengah hidupnya di tengah budaya barat dengan pergaulan bebas tanpa terkendali.
Keduanya melakukannya dengan perlahan merasakan tiap hentakan lalu mempercepat adukan pinggul itu hingga mendapatkan kenikmatan surgawi sesungguhnya.
Peluh keduanya tidak lagi terbendung menyongsong hari bahagia mereka. Farel menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri lalu memberikan kecupan manis itu di bibir sang istri sebagai bentuk terimakasihnya.
Walaupun rasa lelah menghinggapi keduanya namun tidak sebanding dengan kebahagiaan dengan tingkat kepuasan yang tak terlukiskan.
"Semoga benihku cepat tumbuh di dalam sini dan dia akan membantuku menjagamu jika aku sedang bertugas mengabdi pada negara."
"Aku ingin kalian berdua di sampingku, tidak peduli bagaimana nantinya."
Ucap Cyra yang belum bisa memaafkan malam pertama mereka yang kelam.
"Apakah kamu ingin aku berhenti dari pekerjaanku dan menemanimu terus di sisimu, hmm?"
Cyra merasa bingung dengan pertanyaan itu. Bagaimanapun juga untuk mendapatkan setiap bintang kehormatan tidaklah mudah bagi Farel di dunia militer yang sangat ia cintai.
Cyra tidak mungkin menguburkan mimpinya Farel hanya karena keegoisannya. Jika masalah uang, ia mungkin tidak akan kekurangan, tapi kebanggaan saat meraih pencapaian karir adalah sebuah kehormatan besar dalam hidup Farel.
"Aku tidak keberatan jika kamu melakukan untuk negara, tapi jangan pernah berkhianat kepada negaramu dengan bergabung pada orang-orang yang ingin melakukan konspirasi apapun untuk mengkhianati kepercayaan bangsa ini demi kepentingan pribadi." Ucap Cyra.
"Terimakasih sayang atas pengertianmu. Aku yakin kamu adalah wanita hebat."
Ucap Farel lalu ingin mengulangi lagi permainan mereka.
Tok...tok...
"Jangan membuka pintu itu! karena hari ini adalah milikku."
Cegah Cyra menatap tajam wajah Farel membuat suaminya sedikit bergidik.
"Tidak sayang."
Farel melanjutkan lagi permainan panas mereka. Dan Cyra pun tersenyum puas penuh kemenangan. Ia dengan sengaja mendorong dua tubuh anak buahnya Farel yang menganggu mereka, hingga terpental.
"Auhhght!"
__ADS_1