Kekuatan Cinta Cyra

Kekuatan Cinta Cyra
46. Kabar Buruk


__ADS_3

Memasuki usia kandungan sembilan bulan, adalah saat-saat penantian Cyra sebagai ibu muda, yang sedang mempersiapkan mentalnya untuk melahirkan si buah hati.


Suaminya Farel berjanji untuk pulang hari ini dan mengajukan cuti dua pekan agar bisa menemani Cyra melahirkan dan menunggu gadis ini sampai pulih dan sehat kembali sedia kala.


Sementara itu, kedua orangtuanya saat ini tidak bisa datang karena raja Nerva baru saja meninggal dunia. Cyra yang tidak bisa mengikuti prosesi pemakaman kakeknya itu hanya bisa mendoakan keluarganya dari jauh.


Dreeett...


Ponsel Cyra berbunyi. Ibu mil ini melihat panggilan video call dari suaminya. Farel yang sedang berada di luar negeri tampak tersenyum melihat wajah cantik istrinya yang sedang cemberut.


"Hai sayang!"


"Kapan kamu pulang?"


"Besok, sayang..!"


"Kalau nggak pulang juga aku akan mencari suami baru."


"Aku akan membunuh pria itu dan membuangnya ke laut." Ancam Farel.


"Apakah karena alasan posesif mu kamu memilih tempat ini untuk mengurung istrimu...?"


"Salah satunya. Dengan begitu aku merasa lebih tenang meninggalkan istriku tanpa takut ada yang menatapnya tanpa sepengetahuanku."


"Cih..! Kau slalu punya jawaban yang terdengar egois."


"Aku harus pintar menjaga milikku dengan baik. Karena kau adalah separuh jiwaku."


"Gombal mu terdengar segar walaupun begitu aku menyukainya, sayang. Cepatlah pulang sayang untuk menikmati jatah terakhirmu sebelum kamu harus berpuasa selama dua bulan!"


"Itu pasti!"


"Aku merindukanmu dan belilah makanan Korea Selatan untukku."


"Ok!" Bye...!"


Pesawat Farel sudah kembali mengudara setelah pertemuan kedua negara itu berjalan dengan baik.


Rupanya di tengah perjalanan terjadi cuaca buruk yang kurang bersahabat sehingga pesawat melakukan sambungan dengan menara pemandu lalulintas udara atau lebih dikenal dengan menara ATC.


Pilot berusaha mengikuti panduan itu dengan sangat hati-hati walaupun terhalang pandangan yang cukup gelap seakan masuk ke dalam terowongan kepulan awan gelap yang menghalangi pandangan mata mereka.


"Tuan presiden! Sepertinya pesawat kita tidak bisa melewati jalur yang seharusnya karena rute itu sedang mengalami badai yang tidak bisa dilewati. Jika di paksa pesawat akan meledak di udara."


Ucap ko-pilot melaporkan keadaan perjalanan mereka saat ini.


"Lakukan saja yang tebaik agar pesawat ini tidak sampai jatuh. Lebih baik melakukan pendaratan darurat di manapun asalkan kita tidak sampai jatuh."


Ucap Presiden bijak.


Pesawat berbelok arah menjauhi badai yang makin menyeramkan jika dilihat dari jendela. Farel duduk di tempatnya dengan berdoa sepenuh hati agar mereka bisa selamat dari badai itu.


"Ya Allah.. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah berkat Rahmat Mu.


Jika pesawat ini Engkau ijin jatuh, maka putraku akan menjadi seorang yatim dan istriku menjadi janda serta negaraku akan menjadi sengketa para petinggi yang haus akan kekuasaannya untuk menggulingkan presiden dengan mudah."


Ucap Farel sambil menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan lembut.


Sementara para petinggi militer di negara yang dikenal dengan adikuasa itu segera melakukan rapat dadakan membahas keselamatan presiden.


"Jika presiden tidak selamat, maka wakil presiden siap dilantik." Ujar salah satu petinggi militer.


"Jangan mengambil keputusan gegabah sebelum dua kali dua puluh empat jam."


Jawab penasehat presiden.


Rupanya meeting itu berjalan alot dengan tidak mau mengambil suara sebelum mengetahui keadaan presiden sebenarnya.


"Permisi tuan Shaun!"


ucap sekertaris presiden.


"Katakan informasi apa yang kamu ketahui!"


"Kita kehilangan kontak dengan force one."


Deggg...

__ADS_1


Wajah-wajah tegang itu tampak murung dan tidak bisa lagi berkata apapun. Debat mulai kembali berlangsung seru untuk menggeser kan kedudukan presiden saat ini.


Berita itu dengan cepat disiarkan di setiap stasiun televisi. Rupanya cuaca ekstrem bukan hanya terjadi di perjalanan pesawat force one tetapi juga kota New York tidak terlepas amukan alam malam itu.


Hal ini mengakibatkan sinyal sedikit susah di area perbukitan di mana istana yang saat ini Cyra tempati.


Cyra yang tidak bisa menghubungi Celia membuat ia sangat frustasi saat ini. Cika yang nampak gelisah di luar sana, dibawa masuk oleh Cyra ke kamarnya.


Cyra meminta pelayannya untuk memenuhi kulkasnya dengan makanan dan sebagian makanan cemilan lainnya dibawah masuk ke kamarnya.


Cyra mengumpulkan semua pelayannya untuk memberikan pengumuman untuk mereka.


"Cuaca malam ini sangat buruk. Diantara kalian harus bergantian berjaga. Mungkin malam ini lampu akan dipadamkan."


Ucap Cyra yang sudah waspada dengan apa yang akan terjadi.


"Baik nona."


Jawab mereka serentak.


"Kalau mau tidur, usahakan jangan tutup pintunya kecuali dalam keadaan darurat."


"Permisi nona Cyra!"


"Iya Alex..!"


"Aku ingin menyampaikan berita dari pos penjagaan militer."


"Ada apa Alex?"


"Aku harap anda tetap tenang setelah aku memberitahu hal ini."


"Katakan saja aku siap mendengarkan hal terburuk sekalipun." Ucap Cyra pasti.


"Nona! Dari berita yang saya dapatkan, badai terjadi di mana-mana dan warga kota sedang mengalami banjir bandang. Tapi, ...?"


Alex menghentikan ucapannya karena bagian ini yang sangat menyakitkan bagi Cyra.


"Kenapa kamu tiba-tiba diam Alex? Katakan saja semuanya, apa kamu sengaja membuat aku marah, hah?"


Deggggg....


Cyra hampir limbung mendengar ucapan Alex.


Para pelayan memegang tubuh Cyra yang sedikit gemuk saat ini karena kehamilannya.


"Nona!" Apakah nona mau ke kamar..?"


"Biarkan saya di sini dulu. Tolong kembali ke tempatmu Alex dan jangan lupa kalian harus bergantian berjaga dengan teman-temanmu di luar sana. Bawa makanan dan minuman untuk menemani kalian jaga."


Ucap Cyra yang masih bertanggungjawab pada anak buah suaminya.


"Baik nona. Semoga ada kabar baru dari force one agar tuan Farel cepat kembali ke istana bukit sebelum baby lahir."


Ucap Alex lalu kembali lagi ke tempatnya.


"Aaamiin. Terimakasih Alex!"


Cyra meminta Gwen mengantarnya ke kamarnya.


Pelayan lain mengunci pintu utama. Tidak lama lampu padam membuat pandangan mereka langsung gelap.


Pelayan segera menghidupkan genset. Ruangan kembali terang. Dan pelayan masuk ke kamar mereka.


Ketika Cyra sedang berjalan menuju kamarnya tiba-tiba saja terdengar tembakan beruntun dari luar membuat mereka seketika tercekat.


"Nona! Sepertinya kita mendapatkan serangan dari musuh."


ujar Gwen yang langsung melindungi Cyra.


"Cepatlah Gwen! Lebih baik kamu bersembunyi di kamarku"


Titah Cyra berjalan dengan tertatih menuju kamarnya.


Dooorrr....


Tembakan beruntun untuk menjebolkan pintu utama dan jendela dari berbagai arah membuat para pelayan panik.

__ADS_1


"Auhhght!"


Rupanya Gwen terkena peluru musuh tepat di bahunya. Cika yang ada di dalam hendak keluar namun di tahan oleh Cyra.


"Cika! Jangan keluar dan tetap di sini bersama mama!" Pinta Cyra pada macan itu.


Cyra memencet pintu cadangan berbahan baja anti peluru sesudah pintu kayu.


Gwen cukup terkejut pintu gesek otomatis itu ternyata ada. Selama ini dia hanya mendengar kecanggihan istana bukit yang dibangun dengan teknologi canggih namun akan berfungsi jika dalam kondisi darurat.


Di dalam sana, Cyra memencet remote control yang menutup jendela kamarnya dengan jendela gesek dari dalam sehingga menghalangi penjahat untuk masuk ke tempatnya.


"Sial..!"


Ternyata rumah ini sudah di lengkapi dengan baja pelindung anti peluru maupun ledakan.


"Kalau begitu bakar rumah ini dengan begitu perempuan ja**ng itu akan mati terpanggang di dalam sana."


"Bos inginkan gadis itu hidup-hidup bukan di suruh membunuhnya."


"Mana mungkin kita bisa menangkapnya kalau gadis itu punya kekuatan membunuh."


Ujar penjahat itu.


"Bunuh gadis itu atau bos yang akan membunuhmu. Dia tidak punya jalan keluar jika rumah ini kita bakar."


"Tapi bos!"


"Apa yang kamu takutkan, hah?"


Keadaan negara saat ini tidak aman dan pangkalan udara di bawah sana sedang menjaga istana presiden. Nasib presiden tidak bisa dipastikan hidup atau mati, begitu pula nasib suami perempuan jalan* itu di dalam sana."


"Sebaiknya hubungi tuan Michael untuk menanyakan apa yang harus kita lakukan kepada gadis itu?"


"Dasar bodoh! Saat ini sedang ada badai dan sinyal di tempat ini sudah putus, bagaimana bisa kita menghubunginya."


"Sebaiknya kita tunggu badai ini reda baru kita bisa menyerang tempat persembunyian gadis itu."


Perdebatan antar anggota tuan Michael di luar sana tidak kunjung mendapatkan keputusan. Sementara di kamar Cyra yang sedang menolong Gwen yang saat ini tertembak membuat ia melakukan operasi darurat pada gadis itu.


Rupanya Gwen adalah salah satu polisi wanita yang sedang melakukan penyamaran menjadi pelayan untuk melindungi Cyra yang ditugaskan oleh presiden.


Akhirnya peluru yang menembus lengan tubuh gadis itu bisa diangkat oleh Cyra susah payah. Usai melakukan operasi pada Gwen, Cyra tiba-tiba merasakan kontraksi hebat hingga gadis ini merasakan sakit yang luar biasa.


"Auhhght! perutku...!" Pekik Cyra sambil memegang perutnya.


Cika yang sedari tadi hanya memandang dua wanita di depannya dengan perasaan gelisah dan terus menggeram


"Cika! Diam lah! Kamu membuat kami makin gugup mendengar suaramu." Bentak Cyra kesal.


Cika kembali diam dan naik di atas tempat tidur Cyra yang sedang terbaring lemah.


"Nona! Apakah anda mau melahirkan?"


"Sepertinya begitu Gwen." Ujar Cyra nampak pucat.


"Nona! aku akan membantumu melahirkan. Aku mohon Nona harus kuat."


"Tanganmu pasti kebas karena baru habis dibius lokal, bagaimana kamu bisa menolongku?"


"Aku masih bisa menggunakan satu tanganku, nona! Aku harus melihat jalur lahir mu untuk melihat pembukaannya."


Gwen segera memeriksa keadaan kandungan Cyra dan pembukaannya baru tiga.


"Kita tunggu sebentar lagi, babynya masih mau bertahan di dalam. Nona Cyra harus kuat."


"Aku ingin suamiku ada di sini Gwen. Aku sangat takut saat ini."


Cyra terlihat menyerah karena kabar suaminya membuatnya tidak tenang daripada penjahat yang ada di luar sana.


Duaaarrr...


Ledakan yang cukup dahsyat terjadi di bagian atap rumah Cyra membuat keduanya tersentak. Cika bersikap waspada dan terus memperhatikan ke arah pintu.


Dentuman bom itu membuat Cyra kembali kontraksi. Gwen segera mempersiapkan peralatan untuk persalinan bosnya ini.


"Nona Cyra! Sudah saatnya bayinya mau keluar. Kita doa bersama sesuai dengan keyakinan kita masing-masing agar persalinannya lancar." Ucap Gwen.

__ADS_1


__ADS_2