
Dokter pribadi pangeran Khalid segera memeriksa keadaan Cyra. Istri dari Farel ini dipindahkan ke kamar tamu karena akan melakukan pemeriksaan pada bagian perut.
Dokter Rihanna tersenyum saat mengetahui gadis ini sedang hamil.
"Sepertinya nona Cyra sedang hamil dua Minggu. Tapi untuk lebih jelasnya ke rumah sakit saja supaya bisa mengetahui dengan cara USG. Ini hanya prediksi sementara saja."
Farel melebarkan matanya menatap Celia yang ada di kamar itu dengan wajah berbinar.
"Celia! Apakah aku tidak sedang bermimpi...?" Tanya Farel sambil mengusap mulutnya.
"Apakah kamu butuh disuntik supaya kamu merasa ini nyata?" Ledek Celia.
"Ini suatu keajaiban buat kami Celia. Cyra hampir putus asa dan hidupnya terasa hampa kala ia divonis mandul oleh dokter. Tapi aku terus menghiburnya agar membebaskan dirinya dari kemelut yang ada supaya hatinya selalu bahagia.
Dan ternyata, dengan hati merasa senang, akan berpengaruh pada tubuh yang sehat begitu pula rahimnya yang siap dibuahi oleh benihku." Ungkap Farel bahagia.
"Setiap ujian yang dihadapi dengan kesabaran dan ikhtiar diikuti keyakinan, maka Allah akan membalasnya dengan rejeki dari pintu manapun dengan tidak disangka-sangka."
Imbuh Celia ikut bahagia mendengar saudara sepupunya itu hamil.
Dokter Rihanna menuliskan resep, memberi nasehat dan segera meninggalkan kediaman pangeran Khalid.
Celia mengantarkan dokter Rihanna sekalian menanyakan keadaan kandungan Cyra.
"Dokter! Apakah saudaraku juga mengandung anak kembar?"
"Mungkin saja begitu, tapi saya tidak ingin memastikan sesuatu tanpa ada pemeriksaan lebih lanjut." Balas dokter Rihanna.
"Baiklah dokter. Terimakasih!"
Celia melambaikan tangannya saat mobil dokter Rihanna meninggalkan pekarangan rumahnya.
Entah mengapa, Celia merasa gelisah dengan jawaban dokter Rihanna yang terdengar abu.
Ia merasa kehamilan Cyra dalam masalah. Hanya saja dokter Rihanna tidak ingin menjelaskan tanpa didukung oleh alat medis.
"Ya Allah! semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan kandungan Cyra."
Doanya penuh harap.
Cyra baru mengerjapkan matanya setelah sekian lama pingsan. Ia menatap wajah suaminya tepat di hadapannya.
"Astaga! Kenapa aku sudah ada di atas tempat tidur dan ini rumahnya siapa...?"
Tanya Cyra sambil memindai ke seluruh ruangan itu.
"Kamu itu baru siuman dari pingsan. Sekalinya sadar langsung amnesia."
__ADS_1
Celetuk Farel dengan ledekan nya yang khas.
"Cih! Kau itu tidak ada romantisnya sama sekali." Umpat Cyra segera bangkit dibantu Farel.
"Nyonya Farel! Mulai sekarang anda di larang untuk melakukan hal-hal konyol lagi karena saat ini anda sedang mengandung."
Ucap Farel membuat Cyra terhenyak.
"Hei! Kau bicara apa? Kamu sedang menghinaku ya..?"
"Suamimu berkata benar Cyra." Timpal Celia yang sudah membawa minuman buah segar untuk Cyra.
"Aku hamil..beneran aku hamil, Celia?"
Cyra seakan tidak percaya dengan dua pernyataan dari kedua orang yang paling ia cintai.
Celia dan Farel saling menatap lalu tersenyum kepada Cyra dengan anggukan pasti.
Cyra langsung mengembangkan lengannya untuk memeluk Farel dengan penuh haru.
"Farel akhirnya aku bisa hamil. Aku bisa meneruskan keturunanmu. Ini sangat ajaib. Tuhanku Allah sangat baik, Alhamdulillah ya Allah.
Celia aku ingin bersedekah. Kita harus membagikan makanan untuk anak-anak panti asuhan di daerah sini."
Ujar Cyra yang sudah lama melupakan kegiatan rutinnya saat bersama dengan Celia dulu, ketika keduanya masih gadis.
Disaat bahagianya datang, di saat yang sama Farrel menerima panggilan dari gedung putih untuk bertugas mendampingi presiden.
"Sayang! Aku harus mengantar kamu pulang ke istana karena aku harus kembali ke gedung putih." Ucap Farel lalu pamit pada Khalid dan Celia.
"Farel! Kita bahkan belum sempat melihat rumah yang bersebelahan dengan Celia." Keluh Cyra.
"Nanti saja sayang! Yang penting kita adalah calon pembelinya dan Khalid akan mengurusnya, iyakan Khalid.
"Ok."
Keduanya segera pamit. Celia ingin menahan Cyra untuk menginap di rumahnya namun ia segan melakukannya karena Farel tidak begitu peka dengan perasaannya Cyra.
Mobil keduanya sudah di jemput oleh helikopter yang mengikuti mereka untuk bisa mendarat di tempat yang cukup lapang mengangkut keduanya.
Ponsel Farel kembali berbunyi dan kali ini langsung dari presiden.
"Farel!"
"Siap presiden!"
"Apakah kamu sedang bersama istrimu?"
__ADS_1
"Benar presiden! Kami barusan berkunjung ke rumah kerabat dan sekarang mau kembali ke istana bukit."
"Apakah Cyra bisa ikut berkunjung ke Belgia bersama kita?"
Farel tercenung mendengar permintaan preseden. Ia tidak mau mengulangi kesalahannya yang sempat membuat Cyra celaka.
"Maaf presiden! Saat ini istriku Cyra sedang hamil dan dokter melarangnya untuk berpergian jauh."
"Wah selamat untuk kalian berdua. Semoga kehamilannya lancar hingga persalinan." Ucap tuan presiden.
"Terimakasih tuan presiden. Tolong beri waktu saya satu jam. Saya akan tiba di gedung putih dua jam lagi dari sekarang."
Pinta Farel sambil melirik wajah datar Cyra.
Helikopter segera mengangkut keduanya menuju istana bukit. Cyra seakan tidak peduli dengan kepergian tugas suaminya saat ini karena terkalahkan rasa bahagianya saat ini. Keduanya tidak bisa bicara karena masih berada di dalam helikopter.
Tiba di istana bukit, Farel lebih dulu turun, baru kemudian menggendong tubuh istrinya begitu hati-hati. Helikopter itu tetap berada di landasan pacu menunggu Farel berpakaian rapi.
"Sayang! Aku tidak bisa menemanimu terlalu lama, paling sepekan lagi aku baru balik ke sini. Aku harap kamu dan calon baby tetap sehat."
Ujar Farrel sambil mengganti bajunya di bantu Cyra.
"Presiden selalu saja menganggu kita di saat yang tidak tepat. Dia menganggu kita di malam pergantian kita dan kini di saat aku mendapatkan hadiah dari Allah dan dia seenaknya merusak momen bahagiaku. Untuk saat ini aku memakluminya, tapi saat aku lahiran nanti, aku tidak akan mengijinkan kamu meninggalkan aku. Tidak akan pernah."
Ucap Cyra tegas.
"Aku tidak akan mengambil tugas itu demi kamu Dan bayi kita."
Gumam Farel mengecup bibir istrinya.
"Cih! Kau bahkan tidak punya waktu untuk mencium ku lebih lama." Sinis Cyra.
"Sayang..! Aku butuh senyum kamu, bukan wajah garang dan kata-kata sinis."
Pinta Farel dengan tangan melingkar di pinggang sang istri.
Cyra menarik kedua sudut bibirnya dan membisikkan kata-kata yang manis berbau ancaman untuk suaminya.
"Jangan terlalu lama meninggalkan aku atau kamu akan menemui aku di tempat satwa liar. Aku akan mencari mereka menjadi temanku. Bagaimana sayang kamu siap..?"
"Aku akan mengikatmu di ranjangku, jika kamu melakukan itu lagi. Bagaimana kamu suka bukan..?"
"Pergi sana..! Sampaikan salam ku pada tuan presiden. Jangan pernah lebih dari seminggu membawa suamiku atau gedung putih itu akan aku runtuh kan!" Ancam Cyra terlihat serius..
Farel berlari menuju helikopter yang siap mengantarkannya ke gedung putih lalu terbang menghilang di balik awan.
Cyra berdiri sesaat di luar lalu mendengar suara auman dari sela pepohonan memancingnya untuk melihat ke tempat sumber suara tersebut.
__ADS_1
Wajah Cyra langsung menegang dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Astaga itu...?"