Kekuatan Cinta Cyra

Kekuatan Cinta Cyra
33. Liburan Bersama!


__ADS_3

Tugas selanjutnya Farel saat memasuki musim dingin yaitu mendampingi keluarga presiden untuk berlibur ke luar kota.


Liburan kali ini bertepatan dengan acara Natal. Itu berarti ia akan menemani sang presiden dalam waktu yang cukup lama untuk mereka.


Satu Minggu ditinggal lagi oleh sang suami membuat Cyra tidak betah. Sebagai pengantin baru yang tidak pernah puas bercinta lebih dari tiga kali sehari, membuat Cyra mengajukan protes keras pada suaminya.


"Apakah kamu tidak punya hari libur juga? Bukankah hampir seluruh dunia setiap umat Kristen merayakan hari Natal? itu berarti semuanya menikmati liburan mereka bersama sang keluarga.


Kenapa suamiku malah memilih liburan bersama orang lain daripada dengan istrinya?"


Sungut Cyra makin geram dengan status baru suaminya sebagai ajudan presiden.


"Sayang! Bisa aku bicara sebentar saja tanpa kamu sela pembicaraanku? " Pinta Farel lembut.


"Baiklah! Katakan!"


Pinta Cyra sambil menahan geram.


"Aku diijinkan oleh presiden untuk mengajak istriku yang sangat cantik ini untuk ikut berlibur bersama keluarganya."


Jelas Farel sambil mengecup bibir istrinya.


Ekspresi wajah Cyra mulai berubah. Dari merengut sekarang berbinar.


"Benarkah? Hmm.. Ternyata tuan presiden mu itu sangat baik dan perhatian juga dengan keluarga staffnya. Terimakasih marsekal muda Farel, tuan suamiku tercinta yang sangat tampan ini. Muuachh!"


"Cih! kau hanya akan memujimu kalau sudah diberi hadiah kejutan."


Ucap Farel sambil mengacak rambut panjang Cyra.


"Aku sudah secantik ini kenapa malah mengacak rambutku sayang."


Protes Cyra sambil cemberut.


"Ayo kita jalan-jalan, mumpung hari ini aku libur."


Ajak Farel yang sudah terlihat tampan dengan busana kasualnya.


Farel terlihat geli dengan sikap Cyra yang selalu saja seperti bunglon sesuai dengan suasana hatinya.


Farel memang belum berapa mengenal karakter Cyra karena perkenalan mereka yang begitu singkat dan jarang bertemu lalu tiba-tiba menikah.


Banyak sekali sifat asli Cyra yang baru terlihat saat mereka sudah tinggal bersama.


Keduanya menaiki helikopter hanya untuk belanja keperluan mereka.


"Kenapa kita tidak menggunakan mobil saja kalau hanya sekedar belanja Farel?"


"Karena akses jalan di sini tidak terlalu bagus untuk berkendaraan."


Ucap Farel memberi alasan.


"Tapi aku belum pernah bertemu dengan warga lain di sekitar tempat tinggal kita." Bantah Cyra.

__ADS_1


"Tidak ada yang boleh mengetahui tempat tinggal kita selain pelayan yang melewati akses manual sayang."


"Kelihatannya kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, apakah ini berhubungan dengan data rahasia negara?"


"Begitulah!"


Jawab Farel singkat tanpa memberikan penjelasan yang berarti pada istrinya.


Keduanya sudah tiba di salah satu pusat perbelanjaan di swalayan besar di tengah kota New York. Cyra mengambil beberapa daging olahan masakan berupa daging sapi, ayam dan ikan yang berlebel halal.


Sementara Farel mengambil bahan makanan kering dan lainnya yang sudah Cyra catat untuk kebutuhan dapur mereka. Hari ini Cyra memang sengaja belanja sendiri dan masak sendiri untuk suaminya.


Ia sudah merencanakan untuk hidupnya yang ingin melayani sendiri semua kebutuhan suaminya tanpa mengandalkan pelayan, terutama masak makanan berat selama suaminya berada di rumah.


Kebetulan hari itu Cyra memberikan cuti untuk pelayannya selama dua hari. Ia ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan suaminya tanpa ada yang melihat.


Cyra sudah memakai celemek nya dan mulai membersihkan daging, ikan dan ayam serta sayuran-sayuran yang sudah ia potong. Kali ini ia memasak daging bistik, ayam goreng dan ikan bakar serta sayur sup untuk mereka berdua.


Farel menikmati wajah Cyra yang sedikit bermandikan peluh dengan beberapa helai rambut yang jatuh menghiasi leher jenjangnya dan sebagian pelipisnya.


Ia berharap masakan itu cepat matang dan ia ingin bercinta dengan sang istri di atas meja makan itu.


"Sayang!"


"Hmm!"


"Jangan menghidangkan makanannya dulu di meja makan!" Ucap Farel sambil memeluk istrinya dari belakang saat Cyra mengaduk sayur sup.


"Kenapa Farel? Apakah kamu tidak lapar?"


Ucap Farel terdengar fulgar di telinga Cyra yang mulai bergairah.


Cyra segera mematikan kompor dan mengutamakan permintaan sang suami karena ia juga menginginkannya.


Jadilah meja makan itu arena bertempur untuk menyalurkan hasrat keduanya.


...----------------...


Memasuki hari Natal salju sudah mulai turun. Farel memastikan mantel istrinya agak lebih rapat dengan syal yang hampir menutupi setengah wajahnya Cyra.


Keduanya berangkat ke gedung putih menjemput sang presiden yang akan melakukan perjalanan ke luar kota di villa pribadi mereka.


Cyra begitu senang bisa mendampingi suaminya bertugas walaupun di lapangan nanti, suaminya akan lebih banyak bersama dengan sang presiden daripada dengan dirinya.


Presiden yang sudah mengenal Cyra tersenyum pada gadis itu. Keduanya saling bersalaman dan menanyakan kabar mereka masing-masing.


Farel tidak menyangka hubungan istrinya dengan sang presiden terlihat akrab.


"Bagaimana kabar Oma Andien dan opa mu Reza, Cyra?"


"Berkat doa presiden semuanya dalam keadaan sehat." Ucap Cyra ramah.


"Saya minta maaf atas insiden kecil yang terjadi di malam pengantin anda, nona Cyra!"

__ADS_1


Ucap presiden penuh sesal.


"Tidak apa tuan presiden. Ini sudah bagian dari resiko saya sebagai istri dari seorang perwira.


Kalau diuji seperti ini, saya lebih memahami bagaimana nasib perempuan lain saat mereka ditinggal suami mereka ketika sedang bertugas. Tapi, ada satu hal yang saya ingin pinta kepada anda tuan presiden!"


"Apa itu nona Cyra? Katakan saja jangan sungkan!"


"Saya ingin saat saya mela..?"


"Apakah keluarga anda sudah siap berangkat, tuan presiden?"


Tanya Farel memotong percakapan istrinya dan presiden yang masih membahas hal lainnya.


"Baik. Kita berangkat sekarang!"


Titah presiden lalu masuk ke dalam mobilnya.


Di mobil itu, rupanya presiden tidak menumpang bersama istri dan dua putranya dalam satu mobil. Mereka berangkat dengan mobil terpisah.


Presiden dan marsekal Farel satu mobil sendiri, sementara Cyra, keluarga inti presiden dan beberapa mobil pengawal berjalan beriringan keluar dari gedung putih.


Cyra tidak mempermasalahkan pengaturan protokol kepresidenan di acara liburan mereka, yang jelas ia bisa selalu bersama suaminya saat ini.


Laju mobil tidak bisa kencang karena salju yang cukup tebal menghalangi perjalanan mereka dengan jarak pandang yang sedikit terbatas.


Cyra terus mengirim pesan kepada suaminya agar tidak merasa bosan karena ia berada di dalam mobil sendirian dengan sopir kepresidenan.


Tiba-tiba ada kecelakaan terjadi di mana mobil milik keluarga presiden tergelincir saat menghindar dari rusa yang sedang menyebrang jalan.


Mobil itu berada di tepi jurang di mana badan mobil sudah berada separuh di atas jurang.


Semua iring-iringan mobil itu spontan menginjak rem secara mendadak agar terhindar dari tabrakan beruntun.


Presiden langsung keluar dari mobil ingin melihat keadaan istri dan anaknya. Farel langsung mencegah saat presiden berteriak dan ingin mendekati mobil yang sedikit lagi hampir masuk ke dalam jurang.


"Apakah mobil itu tidak bisa di tarik ke pinggir?"


Tanya presiden panik.


"Tidak bisa presiden karena keadaan tanah sudah mulai retak terlihat dari bongkahan salju yang sudah membentuk es." Sahut Farel.


"Tolong lakukan sesuatu untuk menyelamatkan keluargaku!" Pinta presiden histeris.


Cyra yang baru tiba di tempat kejadian karena mobilnya berada ketiga dari belakang dari sepuluh mobil itu.


Presiden langsung melihat ke arah Cyra. Ia mengetahui kalau Cyra punya kekuatan.


"Cyra! Aku mohon selamatkan keluargaku!"


Pinta presiden sambil mengatupkan kedua tangannya dan berlutut di hadapan Cyra.


Farel yang belum mengetahui bahwa istrinya memiliki kekuatan, merasa bingung dengan permintaan presiden yang dirasanya aneh.

__ADS_1


"Mengapa meminta tolong kepada istriku?"


Batin Farel sambil menautkan kedua alisnya.


__ADS_2