
Seperti biasa Farel yang sudah mulai bertugas lagi mendampingi presiden menjalankan tugas negaranya ke manapun pemimpin negara itu pergi.
Seperti itu juga yang dirasakan Cyra yang selalu di tinggal sendirian di istana suaminya tanpa kehadiran seorang anak ditengah kehidupan rumah tangga mereka.
Di tambah lagi saat ini Cyra sudah mengetahui kalau Celia hamil anak kembarnya dari pangeran Khalid. Itu saja cukup membuat Cyra merasa cemburu.
Celia sudah berusaha menghibur saudara sepupunya itu, namun hati Cyra seperti enggan mendengarkan nasehat Celia hingga ibu hamil itu menyerah.
Sudah hampir satu pekan Farel meninggalkan dirinya, namun Cyra menguatkan hatinya untuk tidak terlalu banyak mengeluh dan iapun sudah terbiasa dengan kesendiriannya.
Pagi itu Cyra ingin sekali mengetahui jalan keluar secara manual untuk bisa bertemu dengan orang-orang yang hidup dibawah kaki bukit yang ia tempati.
Kedua anak buahnya Farel yaitu Jack dan Alex menjadi sasaran empuk buat menghadapi kejahilan Cyra yang ingin mengetahui apa saja yang ada di balik kaki bukit yang tidak boleh ia datangi tempat itu.
"Apakah aku bisa jalan-jalan di sekitar kaki bukit itu?"
"Anda tidak bisa ke sana nona." Ujar Alex.
"Emangnya ada apa di sana? Kenapa tidak boleh? Bukankah para pelayan bisa tiba di rumahku melewati jalan manual itu?"
"Benar nona! Tapi itu tidak berlaku untuk anda."
"Tapi aku ingin mengetahui jalan rahasia itu. Tolong bawa aku ke sana atau aku akan menghukum kalian!"
Ancam Cyra terlihat serius.
Alex dan Jack saling berpandangan lalu keduanya mengangguk untuk mengarahkan Cyra ke jalan manual menuju kaki bukit.
Cyra tersenyum puas karena ia bisa mengetahui seluk beluk kehidupan di bawah kaki bukit.
Alex dan Jack mengajak Cyra turun ke sebuah tangga rahasia lalu berjalan di lorong sempit yang terhubung dengan tempat garasi mobil.
Di dalam sana, mobil jenis apa saja yang Cyra lihat ada di garasi tersebut. Ada sekitar empat arah jalan keluar yang terhubung dengan berbagai kota.
Cyra memilih untuk melewati jalan ke arah Utara.
"Nona! sebaiknya jangan mengambil jalur itu!"
Cegah Alex sebelum gadis ini mengarahkan mobilnya ke arah jalur Utara.
"Aku mau ke sana. Kalau kalian takut aku bisa pergi sendiri tanpa perlu dikawal kalian. Dasar pengecut!" Ucap Cyra sinis.
__ADS_1
"Nona! Nanti tuan Farel akan mengamuk kalau perintahnya kepada kami tidak kami turuti. Tolong mengerti posisi kami nona. Kami akan di hukum kalau menuruti permintaan nona."
Keluh Jack."
"Supaya kalian tidak dihukum, biar aku jalan sendiri."
Ucap Cyra yang langsung menjalankan mobilnya yang sudah ia panaskan mesinnya.
"Aduhhh...gawat! kenapa istri bos selalu saja nekat seperti itu. Apakah bos tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa tempat itu di kuasai suku bar-bar yang akan melakukan apa saja pada orang yang ditemuinya."
Keluh Alex yang tidak ingin mengambil resiko mengikuti Cyra.
Mobil mewah berwarna silver itu meluncur dengan cepat menuruni setiap lereng perbukitan yang berkelok mengikuti alur jalan yang naik turun hingga mencapai pemukiman penduduk yang tampak sepi dari aktivitas warga.
Desa itu lebih dianggap desa hantu karena terlihat sangat angker dan menakutkan.
Cyra terus membawa mobilnya mengelilingi desa itu makin jauh ia masuk ke sebuah istana di mana berdiri sebuah bangunan megah berbentuk kastil.
Baru saja mobilnya masuk ke tempat itu, entah dari mana manusia-manusia berpenampilan seperti zombie yang terlihat sangat menjijikkan mendekati ke arah mobilnya.
Gadis pemberani ini sedikitpun tidak takut dengan orang-orang zombie ini. Ia malah tertantang untuk lebih nekat masuk ke dalam jalan yang mengarah ke kastil dengan menambah kecepatan gas mobilnya.
Rupanya orang-orang zombie itu hanya bagian dari halusinasi karena Cyra sudah masuk ke daerah terlarang hingga pikirannya di kelabui hal-hal yang berbau mistis.
Kastil itu tampak rapi dan sangat terawat. Di dalam sana sudah terdengar musik country yang gegap gempita dengan suara tarian tango yang sudah mendominasi di dalam ruangan yang cukup luas itu.
Bau minuman alkohol begitu terasa menyesakkan hidung bagi yang tak terbiasa meminumnya. Gadis- gadis yang berpakaian bikini nampak menari dengan gaya erotis yang mengundang syahwat lelaki yang bertepuk tangan di selingi tawa yang menggema.
Wanita-wanita malang itu dieksploitasi sedemikian rupa oleh beberapa lelaki yang memanfaatkan tubuh mereka.
Sungguh pemandangan yang sangat liar namun mengenaskan bagi Cyra yang masih terpaku di tempatnya berdiri menyaksikan setiap adegan seperti film-film dewasa berbau pornografi.
Tak sanggup melihat perlakuan manusia bar-bar ini memperlakukan wanita demikian kejinya, Cyra memejamkan matanya lalu berdoa untuk mengeluarkan kekuatannya menghancurkan tempat pesta liar itu.
Saat ia membuka matanya dan ternyata tempat itu tidak ada manusia satupun yang ada hanya sofa, meja bar dan tungku perapian dan juga sebuah piano tua.
"Ke mana orang-orang itu? apakah aku sedang berhalusinasi? tempat apa ini?"
Tubuh Cyra mulai meremang. Ada rasa takut yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya.
"Ini seperti sebuah istana tak berpenghuni, tapi mengapa di dalam kastil ini sangat rapi dan terawat?
__ADS_1
Apakah ini juga bagian dari halusinasi? Pantas saja semua orang pada takut untuk ke sini. Rupanya terkenal dengan keangkerannya."
Gumam Cyra lirih.
Istri dari Farel ini masih saja penasaran untuk mengunjungi ruangan lainnya.
Sementara di istana suaminya, Jack dan Alex begitu gelisah menunggu Cyra yang sudah dua jam belum juga kembali.
"Apa yang harus kita lakukan Jack?"
Tanya Alex yang sulit menghubungi Cyra dengan ponsel miliknya.
"Kita akan dihukum sama tuan Farel kalau nona Cyra tidak balik ke istana." Ujar Jack.
"Nona Cyra tidak mungkin balik hidup-hidup karena tempat itu sangat menyeramkan."
"Lantas apa yang akan kita laporkan pada tuan Farel saat ia menanyakan keberadaan istrinya?"
"Sebaiknya kita mencarinya dia di kampung itu." ujar Alex.
"Kamu cari saja sendiri. Aku tidak akan masuk ke pemukiman maut itu."
"Apakah kamu mau dihukum gantung oleh tuan Farel, hah?"
"Lebih baik aku dihukum oleh tuan Farel karena berhadapan dengan manusia biasa dari pada aku masuk ke pemukiman angker itu dan mati perlahan-lahan di sana."
Ujar Jack paling takut berurusan dengan hal gaib.
Alex nampak terdiam dan tidak ingin lagi memaksa Jack karena ia sendiri takut untuk masuk ke wilayah tersebut. Mereka sudah siap dengan segala resiko yang ada, jika harus menerima hukuman dari Farel.
Di kastil itu, Cyra memasuki tiap kamar yang sangat rapi dengan gaya klasik seperti kamar tidur para putra-putri bangsawan.
Beribu pertanyaan berkecamuk di pikirannya karena belum pernah dengar tempat ini. Apakah ini sebuah istana legenda yang terlupakan oleh masyarakat ataukah ia hanya berada di alam lain yang akan sulit untuk kembali.
Cyra duduk di ranjang yang cukup besar seperti tempat tidurnya sang raja dan permaisuri. Namun matanya seketika terbelalak melihat sebuah lukisan wajah seorang putri yang sangat cantik yang menyerupai dirinya dan seorang pangeran tampan sedang melingkar tangannya ke pinggang sang gadis.
Cyra menghampiri lukisan itu dan berusaha memegang lukisan itu. Tapi ia seperti terbawa dalam situasi di mana seorang pangeran sedang mengajaknya berdansa.
"Akhirnya kau kembali untukku, sayang!"
Degggg....
__ADS_1
CYRA membalikkan tubuhnya dan melihat seorang pria yang sangat tampan bermata biru dengan perawakan gagah persis yang ada di lukisan yang tergantung di dinding itu.
"Kau...!"