Kekuatan Cinta Cyra

Kekuatan Cinta Cyra
43. Jangan Gila Sayang!


__ADS_3

Cyra tersenyum melihat suaminya sedikit mendesaknya untuk memperkenalkan teman barunya.


"Siapa dia Cyra?"


"Aku harap kamu tidak mengusirnya setelah melihatnya, sayang?"


"Apakah kamu ingin ia menetap di sini bersama kita? Apakah dia kerabat mu..?"


Tanya Farrel tanpa berhenti.


"Kamu bisa menanyakan dia langsung tanpa aku harus menjawabnya. Dan aku mohon jangan berbuat kasar kepadanya dan membuatnya panik!"


Ancam Cyra di selingi rasa cemas kalau suaminya akan menolak ia merawat Cika.


"Sekarang kamu harus menutup matamu kalau ingin bertemu dengannya."


"Kenapa harus menutup mataku? apakah temanmu itu sangat jelek..?"


"Aku takut kamu nanti akan kaget melihatnya. Jadi lebih baik matamu ditutup sebelum bertemu dengannya.


"Astaga sayang! Kamu makin membuatku takut."


Ucap Farel sambil menggandeng tangan istrinya.


Cyra meminta memanggil cika yang sedang bermain di taman.


"Cika...! Sayang sini..!"


Cika berlari dan langsung naik ke tubuh Cyra.


"Sekarang bukalah matamu, sayang!"


Farel segera membuka penutup matanya dan matanya melebar dengan mulut setengah terbuka hingga tubuhnya terhuyung ke belakang karena saking syok nya melihat istrinya sedang menggendong bayi macan yang sedang menatapnya.


"Astaga, sayang!"


Ucap Farel sambil menggeleng kepalanya.


"Sayang! Ini Cika teman baruku. Cika, ini suamiku. Dia sangat tampan bukan?"


Ucap Cyra sambil menyodorkan tangannya Cika agar bersalaman dengan suaminya yang masih menautkan alisnya tetap termangu di tempatnya berdiri.


"Cyra! Jangan gila sayang! Temanmu itu adalah seekor macan..?"


"Dia bayi macan Farel bukan macan."


"Tapi dia akan tumbuh menjadi macan dewasa sayang dan itu sangat bahaya."


"Salaman dulu sama temanku dan jangan membuat ia panik melihat wajahmu yang tidak menyukainya." imbuh Cyra.


Farel mencoba menyalami teman kecil istrinya ini. Cyra mengecup Cika lalu meminta Cika untuk kembali bermain.


"Cika kamu main dulu, aku mau melayani suamiku dulu. Jack! Ajak Cika main dan anggaplah dia seperti kucing. Kalau hatimu punya cinta dia akan suka padamu."


Ucap Cyra lalu menggandeng suaminya ke kamar mereka.

__ADS_1


"Ba..baik nyonya!" Jack hanya bisa pasrah menuruti perkataan Cyra.


"Sayang dari mana kamu temukan dia ? Apakah kamu ke tempat satwa liar lagi yang di bawah kaki bukit..?"


"Cih..! Aku saja belum tahu itu di mana.. Apakah kita akan ke sana...?"


Goda Cyra sengaja ingin membuat suaminya kesal.


"Cih..! Kau selalu saja menantang ku. Katakan bagaimana bisa kamu menemukan Cika?"


Cyra menceritakan bagaimana ia bisa menemukan Cika dalam keadaan terluka pada suaminya.


"Sepertinya dia mencoba menerobos masuk kawat berduri hingga bisa terluka dan melewati ranjau yang tertanam di bawa sana." Ucap Cyra dengan analisa kecilnya.


"Jika dia menginjak ranjau maka akan terjadi ledakan besar dan tubuh kecilnya ini seketika akan menjadi kornet." Timpal Farel.


"Apakah kamu menyukainya..?"


"Tidak! Jangan memaksaku agar aku menyetujui kamu merawatnya."


"Farel! Tolonglah, dia masih bayi dan aku jatuh cinta kepadanya."


"Melebihi cintamu padaku dan calon bayi kita...?"


"Tentu saja beda sayang. Dia seekor binatang yang butuh kasih sayang, ijinkan aku merawatnya Farel. Jika dia sudah besar kamu boleh mengembalikannya di satwa liar. Tapi, aku tidak mau dia diburu oleh satwa liar lainnya."


"Baiklah. Kamu boleh memeliharanya, tapi perhatikan kehamilanmu. Besok kita ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan kandungan mu." Ujar Farrel.


"Terimakasih sayang! Ijinkan aku melihatnya tumbuh bersama dengan calon bayi kita sampai hatiku mengijinkan dia kembali ke habitatnya."


"Hmm!"


"Sayang! Apakah kamu tidak masalah merawatnya saat kamu sedang hamil? bukankah itu sangat merepotkan kamu, nantinya?"


"Aku janji sayang menjaga janinku dan Cika dengan sebaik mungkin."


"Lalu bagaimana denganku..? Apakah aku juga mendapatkan perlakuan istimewa darimu..?"


"Kamu yang utama sayang."


Keduanya menikmati makan siang mereka sambil memperhatikan Cika yang sedang bermain dengan kucing milik Jack.


...----------------...


Dua bulan kemudian, Cyra dan Farrel baru sempat memeriksakan kandungan istrinya di rumah sakit yang sama dengan Celia.


Pasangan ini belum mengetahui apakah saat ini, mereka akan dikaruniai bayi kembar atau tidak. Rupanya Cyra hanya hamil satu bayi. Ia tidak seberuntung Celia yang hamil kembar empat.


Walaupun begitu Cyra dan suami sudah sangat bersyukur karena satu saja sudah menjadi anugerah terindah dari Allah untuk mereka.


Usai melakukan pemeriksaan secara intensif, kedua pasangan ini tidak langsung pulang ke kediaman mereka, karena saat ini Cyra sedang ngidam masakan Indonesia.


Khalid yang sudah mengetahui restoran Indonesia yang terkenal di new York mengajak Cyra dan Celia ke restoran Indonesia tersebut.


Restoran yang kaya akan kuliner Indonesia itu disajikan lauknya seperti warteg. Cyra sangat ngiler melihat semua lauk yang membuat lidahnya sangat tergiur.

__ADS_1


Mereka memesan sesuai yang mereka inginkan. Perut Celia yang sudah makin bertambah besar dengan usia kandungan memasuki delapan bulan, tidak begitu membutuhkan porsi makanan yang begitu banyak.


Celia yang ingin melahirkan bayinya secara normal selalu menjaga pola makanannya. Khalid yang ingat akan niat pasangan iparnya ini menanyakan rumah yang akan Farel beli.


"Farel, Cyra. Apakah kalian jadi tinggal di kota?" Tanya Khalid.


"Sepertinya kami tidak jadi tinggal di kota, tapi kami akan tetap membelinya untuk investasi, iyakan sayang?"


Ucap Cyra sambil melirik suaminya yang sedang menikmati makan siang.


"Memang kenapa kalian tidak jadi tinggal di kota Cyra?"


Tanya Khalid.


"Karena sesuatu yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku harus tetap bersamanya entah sampai kapan."


Ucap Cyra membuat Celia dan Khalid hanya bisa saling menatap sambil mengangkat bahu mereka.


"Bukankah awalnya kamu memang ingin pindah di kota Cyra, emang apa yang menahan keinginanmu pindah ke kota?"


Tanya Khalid yang ingin jawaban jelas dari Cyra.


"Awalnya memang seperti itu, tapi ada hal yang sangat menarik yang membuatku tidak tega meninggalkan dirinya."


Jawaban ambigu Cyra membuat pasangan ini semakin tidak mengerti.


"Siapa yang tidak bisa kamu tinggalkan Cyra?" Tanya Celia meneguk minumannya.


"Anak macan!"


Celia hampir saja menyemburkan air yang di minumnya di meja makan itu. Dengan reflek ia memiringkan tubuhnya lalu batuk berkali-kali.


Uhuk...uhuk..uhuk..


Khalid segera mengusapkan punggung istrinya. Ia juga sama kagetnya dengan Celia. Walaupun hanya sebatas ipar, ia tahu bagaimana sifat Cyra yang lebih dikatakan tomboi jika berurusan dengan hal-hal yang berbau ancaman. Gadis ini sangat nekat dan mengikuti intuisinya dan tidak pedulikan keselamatan dirinya.


"Apakah kamu sudah gila Cyra..? Itu binatang buas. Apakah kamu tidak takut dia akan menyerang mu saat kamu lengah?"


"Aku bisa menghukumnya kalau dia berani menyerang pada orang yang sudah menolongnya."


Sahut Cyra sambil mengunyah makanannya.


"Cyra...! Dulu kamu selalu membuatku kuatir dan tegang setiap saat tinggal bersamamu dan sekarang perasaan itu sudah berpindah pada suamimu Farel. Apakah kamu setuju Farel, Cyra memelihara bayi macan?"


"Kami sudah buat kesepakatan untuk itu Celia. Jadi, saat ini biarkan ia bersenang-senang dengan teman barunya." Sahut Farel.


Cyra menunjukkan foto-foto kebersamaannya dengan sahabat kecilnya pada Celia. Melihat itu, Celia tiba-tiba merasakan kontraksi pada perutnya.


"Auhhght..! Ya Allah... perutku sakit sekali Khalid.


"Sayang...! Apakah kamu mau melahirkan?"


"Iya sayang, aku sudah tidak kuat."


Khalid segera menggendong istrinya ke mobil.

__ADS_1


Farel yang menyetir mobil itu kembali lagi ke rumah sakit yang tadi mereka datangi.


__ADS_2