
Pesta pernikahan Cyra yang di gelar sangat mewah dengan budaya Yunani. Cyra benar-benar seperti jelmaan seorang Dewi Yunani saat ini.
Wajahnya yang sangat cantik dengan manik biru dihiasi bulu mata lentik serta iris tebal dan bibir penuh terlihat merekah saat ia tersenyum memperlihatkan barisan gigi putih dan bening pada semua tamu yang mendoakan mereka.
Gadis itu tidak membutuhkan makeup tebal untuk mempercantik wajahnya yang hampir mendekati sempurna karena tanpa itupun Cyra sudah terlalu cantik.
Kakek dan neneknya yaitu raja Nerva dan permaisuri Pandora mempercayai bahwa kehadiran Cyra merupakan titisan Dewi Yunani yang terlahir kembali untuk kerajaan mereka.
Ditambah lagi Cyra mendapatkan seorang pangeran tampan seperti marsekal Farel membuat mereka makin bertambah bangga.
Itulah sebabnya Cyra sangat disayangi keluarga besar ayahnya apa lagi kekuatan Cyra yang sudah otomatis ada pada dirinya, tanpa diberikan oleh sang ayah, raja Davin.
Gadis pemberani ini yang memiliki kekuatan luar biasa akhirnya di ikat oleh seorang marsekal muda Yaitu Farel, pria blasteran Amerika dan Indonesia ini yang juga merupakan cucu kandung dari bangsawan keraton Solo, tidak bisa melukiskan kebahagiaannya bisa mendapatkan seorang princess Yunani ini.
Farel yang tidak kuat lagi menahan hasratnya yang ingin merasakan kenikmatan malam pengantin baru mereka, tidak sabar menunggu pesta usai.
Ia membisikkan sesuatu pada Cyra yang membuat gadis ini tersipu malu.
"Aku sangat menginginkanmu saat ini sayang, bisakah kita meninggalkan acara tidak berguna ini?"
Pinta Farel tidak sabaran.
Cyra mengangguk dan berpamitan pada ayah dan ibunya serta sang mertua, untuk segera menuju kamar pengantin mereka di hotel mewah yang merupakan milik kerajaan.
Di kamar itu, Farel menggendong tubuh istrinya agar berkoala kepadanya sambil melu**at bibir sensual Cyra yang sudah lama ia incar.
Ia tidak memperdulikan istrinya masih mengenakan gaun pengantinnya, yang jelas bibir Cyra yang sudah membuat ia gelisah menatap seharian karena Cyra yang terus-menerus mengumbar senyum pada setiap tamu undangan membuat Farel tidak suka.
Apa lagi para pria tidak sekedar memberikan selamat pada mereka tapi menikmati wajah cantik Cyra yang sudah menghipnotis mata mereka untuk tidak berpaling dari wajah Cyra.
Mereka akan segera berpaling kalau tatapan mata membunuh dari seorang Farel yang membuat mereka bergidik.
Puas mengusai bibir sang istri, Farel baru menurunkan tubuh istrinya. Gaun putih nan mewah yang cukup simpel dengan desain yang sangat elegan ini mulai terlepas dari tubuh jenjang yang menampilkan bagian pahatan yang sangat memukau perhatian sang suami.
Selama ini Farel tidak pernah melihat Cyra dan Celia mengenakan baju tipis maupun ketat, memperlihatkan lekuk tubuh indah mereka dan saat ini, ia menyaksikan harta terindah dan termewah sosok anggun Dewi Yunani ini.
"Kamu pantas disebut seorang Princess sayang."
Ucap Farel sambil mengecup setiap inci tubuh sang istri dari bagian tengkuk Cyra hingga punggung mulus itu yang sudah menebarkan bau harum yang menenangkan bahkan membangkitkan gairah sang suami.
Cyra membiarkan suaminya merasakan dulu tubuhnya tanpa ia membalas sentuhan yang sama pada tubuh kekar Farrel.
__ADS_1
Farel melepaskan pengait yang menutupi dua bukit kembar yang terlihat sekang , kenyal dan padat.
Memainkan squishy dengan remasan lembut hingga menjelajahi dengan mulutnya merasakan kenikmatan yang luar biasa hingga tangan lain ikut menjelajah tempat yang lebih berharga yang lainnya.
Tok..tok...
Ketukan pintu kamarnya membuat keduanya tersentak. Cyra segera masuk ke dalam selimut sementara Farel mengambil handuk untuk membalut tubuhnya.
Ketukan itu kembali terdengar dan kali ini lebih lama dan seakan sangat mendesak. Farel segera membuka pintu kamarnya dan mendapati kedua anak buahnya sedang memberitahu sesuatu yang sangat penting.
"Selamat malam Tuan Farel!
"Malam!"
"Anda di panggil oleh tuan presiden sekarang juga, ada tugas negara yang harus anda jalankan. Alasan tidak diterima dalam hal apapun!"
Ujar kedua anak buahnya yang diutus oleh jenderal tertinggi angkatan udara Amerika.
"Baik! Beri saya waktu sepuluh menit!" Pinta Farel.
"Helikopter sedang menunggu anda di atas atap gedung hotel ini."
Farel segera membuka kopernya dan mengeluarkan seragamnya. Cyra hanya melihat sang suami yang sedang bersiap dengan wajah menyimpan seribu tanya.
"Farel..kau!"
"Maafkan aku sayang! Ini resiko kamu menjadi istriku karena aku harus mengutamakan tugas negara sebagai istri pertamaku. Aku harap pengertianmu."
Ucap Farel sambil menatap tubuh polos istrinya.
"Tapi Farel ini malam pengantin kita, kamu bahkan belum mengambil hakmu sebagai suamiku."
Ucap Cyra dengan berlinang air mata.
Farel sudah terlihat rapi dan gagah dengan seragam kebesarannya sebagai perwira militer angkatan udara.
Tubuh Cyra yang polos itu di gendongnya dengan enteng. Farel membaringkan tubuh istrinya.
"Apa yang kamu lakukan, Farel?"
"Aku hanya ingin melihat dan merasakan hartaku."
__ADS_1
Farel melebarkan kaki istrinya dan menatapnya lebih lama tempat sensitif itu. Cyra merasakan kelembutan sentuhan suaminya dari lidahnya yang sudah menjalar di setiap tempat sensitif miliknya hingga Cyra mengerang kenikmatan merasakan getaran yang tidak pernah ia rasakan senikmat ini.
"Aku hanya bisa memberikanmu kenikmatan sementara, sayang, setelah tugasku selesai kita akan melakukannya yang lebih hot lagi. Kalau bisa tunggu aku di rumah kita yang ada di puncak new York Amerika."
"Farrel...! Cepat kembali untukku!"
"Hmm!"
Keduanya berciuman dengan saling berebut Saliva hingga Farel segera melepaskan ciuman mereka.
"Kenakan baju tidurmu dan tidurlah, sayang! See you baby. Muaacch."
Farel menutup pintu kamarnya dan segera berlari menuju atap hotel di mana helikopternya sudah menunggu.
Baling-baling raksasa itu nampak menderu dengan angin yang berhembus kencang menerbangkan sampah dedaunan yang terdapat di atap tersebut yang juga di jadikan tempat landasan pacu untuk ukuran helikopter melakukan pendaratan maupun take off.
Marsekal Farel naik ke helikopter dan siap membawanya ke bandara angkatan udara menuju gedung putih di mana presiden sedang menunggu dirinya.
Farel tidak tahu tugas apa yang akan diberikan oleh presiden untuk dirinya.
Sementara di kamar hotel, Cyra sedikitpun tidak bisa memejamkan matanya. Ia hanya bisa menangis dan terus menangis karena kebahagiaannya direnggut begitu saja oleh tugas sang suami sebagai abdi negara.
"Apakah seperti ini kehidupan para istri prajurit? mereka harus siap ditinggalkan suami mereka kapan saja tanpa peduli dengan kebutuhan mendasar para prajuritnya.
"Aku bahkan belum merasakan kenikmatan surgawi sebagai wanita dewasa apa lagi statusku yang sudah sah menjadi seorang istri. Dulu aku bersabar karena Tuhanku Allah dan sekarang aku harus bersabar lagi karena negara tercinta.
Setibanya di gedung putih, Farel langsung menghadap presiden yang sudah menunggunya.
Farel memberikan hormat dan duduk di kursi siap mendengarkan perintah.
"Terimakasih atas pengorbananmu yang telah meninggalkan malam pengantinmu demi tugas negara.
Kamu pantas mendapatkan princess Cyra dan aku pribadi sangat menyukai gadis itu. Selain dia sangat jenius dan berani dalam setiap langkah kebaikan yang ia ambil, gadis itu juga memiliki kekuatan.
Karena dia, aku mengangkat mu menjadi ajudan ku.
"Siap presiden!"
Farel memberi hormat pada pemimpin paman Sam tersebut. Ucapan kalimat terakhir sang presiden tentang istrinya, sama sekali ia tidak mengerti.
"Cyra memiliki kekuatan? Kekuatan apa...?"
__ADS_1