Kekuatan Cinta Cyra

Kekuatan Cinta Cyra
27. Misi Terakhir


__ADS_3

Cyra dan Celia merayakan pertunangan mereka dengan acara yang unik. Kedua gadis siap menjadi istri untuk pangeran mereka.


Celia yang di lamar di atas geladak kapal dan Celia dilamar di atas tanah perkebunan. Cincin bertahta berlian itu tersemai indah di jari jemarinya kedua gadis ini.


"Cyra!"


"Hmm!"


"Apakah kamu akan pulang ke Yunani mengikuti kedua orangtuamu?"


Cyra bingung untuk mengatakan misi terakhir mereka untuk mengungkapkan satu kejahatan yang dilakukan oleh tuan Walton untuk menduduki jabatan menteri di gedung putih.


"Entahlah Farel. Saya belum bisa memutuskan karena belum tahu Celia masih mau tetap di sini atau kembali ke Maroko bersama kedua orangtua kami masing-masing."


"Benarkah? berarti aku masih bisa bertemu denganmu?"


"Insya Allah!"


"Cyra!"


Marsekal Farel menggenggam tangan lembut gadis itu lalu mengecupnya sesaat.


"Iya Farel!"


"Apakah aku boleh mencium bibirmu?"


"Deggggg....!"


"Permintaan itu khusus untuk seorang suami pada istrinya, Farel dan status kita bukan suami istri."


Balas Cyra penuh makna penolakan yang sangat cantik tanpa menyinggung perasaan sang kekasih.


Farel hanya tersenyum kagum lalu memencet hidung Cyra dengan gemasnya.


"Harusnya aku langsung ke KUA untuk menikahimu bukan untuk mengikatmu hanya sebatas tunangan saja tapi tidak bisa menyentuhmu sama sekali. Apa lagi bibir ini."


Farel mengusap bibir Cyra dengan jempolnya. Matanya keduanya beradu sambil memperhatikan bibir mereka masing-masing.


Nafas itu tiba-tiba memburu dengan jantung yang sudah tidak bisa di bilang baik-baik saja.


"Cyra! Hanya sedikit saja, sayang. Aku ingin merasakannya. Tolonglah!"


Farel masih berharap pada Cyra dengan suara yang terdengar berat seakan menahan sesuatu.


"Yang kamu rasakan saat ini bukan lagi cinta Farel tapi syahwat mu yang sedang di kendarai setan untuk merusak kemurnian cintamu padaku. Apakah kamu ingin memuaskan budak na*sumu, hmm?"


Ucap Cyra berusaha menyadarkan Farel yang sedang dikuasai setan saat ini.


"Sayang! kita tidak melakukan hubungan intim tapi kita hanya berciuman saja."


"Jangan mengikuti langkah-langkah setan Farel, dari yang kecil bisa menyebabkan petaka yang besar.


"Tapi kita tidak melakukan hubungan intim, sayang. Hanya ciuman saja."

__ADS_1


Farel masih mau berdalih.


"Jika kita bersabar dalam kemaksiatan, itu jauh lebih baik, Farel. Sesungguhnya setan itu sangat lemah. Jika kita menolak godaannya.


Walaupun setan tidak pernah putus asa lalu angkat koper untuk pensiun selamanya karena gagal menggoda kita."


Keduanya terkekeh.


Penyesalan selalu datang terlambat dan aku tidak mau merasakan perasaan itu."


Tolak Cyra dengan tegas.


Farel akhirnya mengalah memahami perasaan gadis ini. Walaupun ia merasa kecewa tapi hati kecilnya tidak memungkiri bahwa gadis inilah yang ia butuhkan.


Jika seorang wanita sudah bisa menjaga dirinya saat ia masih belum terikat pernikahan, maka kesetiaan akan menjadi jaminan langgengnya rumah tangga asal dijalankan karena ibadah kepada Allah.


Cyra juga tidak menyalahkan farel yang tidak mampu mengusai syahwatnya karena sudah biasa dengan gaya hidup bebas dan di besarkan di dunia barat.


"Cyra! Apakah kamu marah padaku?"


"Aku akan marah jika kamu memaksaku. Dan aku bisa melempar mu di puncak bukit itu."


Ucap Cyra namun Farel tidak mengerti ucapan gadis ini hanya bisa tersenyum.


Farel menarik pergelangan tangan Cyra untuk melihat istananya.


"Aku sengaja membangun rumah di atas bukit ini untuk keluarga kecilku nanti dan itu akan aku wujudkan bersamamu. Aku ingin kita membesarkan anak-anak kita di sini." Ucap Farel.


Keduanya masuk ke ke dalam rumah bergaya Eropa itu. Cyra terlihat senang sudah mendapatkan impiannya dengan tinggal di rumah di atas bukit.


Sekarang dia akan menikah dengan seorang perwira angkatan udara dan akan menghabiskan waktunya di sini.


...----------------...


Cyra dan Celia saat ini sedang berlibur bersama keluarganya di Florida sebelum bertolak ke negara mereka masing-masing.


Hal ini dilakukan untuk menjebak tuan Walton dan beberapa temannya yang akan di lantik menjadi menteri pertahanan keamanan dalam beberapa hari lagi.


Keduanya sedang menyusun strategi untuk menyerang markas tuan Michael terlebih dahulu sebelum mendatangi gedung putih.


Cyra mengendarai mobil sport merah anti peluru menuju markas tuan Michael. Dalam beberapa jam mobil itu sudah berhenti di tempat terakhir pembuangan sampah barang bekas tumpukan mobil tak terpakai.


Di sinilah markas tersembunyi milik tuan Michael bersebelahan dengan limbah industri rumah tangga.


Di sebuah pintu gerbang yang terlihat tidak terawat dari luar namun menyimpan kebusukan di dalam sana yang tidak terendus oleh media dan mungkin juga aparat hukum.


"Apakah ini markas mereka,


Cyra?"


"Sepertinya begitu Celia. Mereka pintar memilih tempat ini agar tidak diketahui oleh orang lain."


"Apakah kamu ingin masuk ke dalam, Celia?"

__ADS_1


"Bagaimana kita masuk kalau pagar itu di gembok?"


"Apakah kamu lupa aku bisa membukanya dengan mudah?"


Cyra menyeringai licik.


Dalam sekejap pagar itu sudah tidak berbentuk lagi alias penyok.


Cyra menancapkan gas mobil memasuki gerbang utama itu dengan mobilnya seperti ingin terbang.


Para penjaga melepaskan tembakan ke mobil yang sudah di lapisi anti peluru itu. Cyra mendobrak pintu markas itu, hingga mobilnya masuk ke dalam ruang markas di mana beberapa para anggotanya tuan Michael sedang berlatih.


Cyra turun dari mobil dengan menyerang balik para lawan dengan kekuatannya. Wajah-wajah para prajurit tidak lagi meremehkan gadis yang mereka kira sudah mati di laut lepas.


Setiap peluru yang melesak ke arahnya, malah berbalik ke arah anggota tuan Michael yang berlari seperti tikus got saat di hujami timah panas itu menembus tubuh mereka. Bau amis darah berceceran di mana-mana dengan tubuh tumbang tergeletak begitu saja di lantai putih itu.


Senjata para anggota di rampas oleh Cyra dan di satukan menjauhi mereka membentuk formasi lingkaran siap mengejar anggota tuan Michael yang masih tersisa.


Cyra hanya memusatkan pikirannya untuk membuat babak belur para sampah masyarakat itu.


Dengan amarah yang menyala-nyala, markas yang berisi berbagai jenis senjata dan amunisi siap di ledakan oleh Cyra.


"Kalian telah membuatku hampir mati saat itu dan tidak ada satupun yang iba padaku.


Sekarang rasakan bagaimana rasanya menghadapi kematian dengan api yang akan memanggang tubuh kalian seperti babi guling."


Wajahnya terlihat murka melihat para anggota yang sedang memohon kepada-nya untuk di lepaskan.


"Nona...! Tolong jangan lakukan itu pada kami! kami mohon jangan bunuh kami nona!"


"Apa..? Aku tidak mendengar ucapan kalian. Bukankah kalian menertawakan aku saat tuan kalian menyiksaku?"


"Nona! Kami punya keluarga yang harus kami hidupi, tolong jangan bunuh kami!"


Lolongan suara ketakutan terdengar menyayat hati Celia yang masih duduk mematung di dalam mobil menyaksikan aksi pembalasan Cyra.


"Apakah kalian menolongku saat aku di siksa oleh tuan kalian, hah?


Dan kau Simon dan juga temanmu Hans, demi uang kalian melempar aku ke laut lepas bahkan kau juga ingin mengirim aku ke neraka, bukan?


Sekarang aku yang akan mengirim kalian ke neraka. Sampai bertemu dengan para iblis yang sudah menantikan kalian di sana."


Cyra masuk kembali ke mobilnya lalu berjalan mundur agar bisa meledakkan tempat itu dengan amunisi.Dalam sekejap gedung itu sudah terbakar dengan suara ledakan yang begitu dahsyat membentuk kembang api menghiasi langit malam.


Mobil Cyra sudah kembali ke jalanan ibu kota menuju apartemen mereka.


"Selamat tinggal kejayaan mu, Tuan Michael. Tidak ada lagi anggota mu yang akan menjadi anjing pemburu mu untuk mencari mangsa baru yang kau inginkan."


"Cyra! Apakah kita tidak berada di dalam masalah lagi setelah membunuh mereka?"


"Bukan kita yang berada di dalam masalah Celia, tapi kita yang akan menyelesaikan masalah. Penjara terlalu murah untuk sampah para anggota gangster itu. Satu lagi tugas kita yaitu mengungkapkan kejahatan tuan Walton dan tuan Michael."


"Baiklah Cyra! Semoga setelah ini, kita tidak lagi berurusan dengan para petinggi negeri yang selalu melakukan kejahatan untuk mencapai ambisi mereka."

__ADS_1


Ucap Celia sambil menghela nafasnya lega.


__ADS_2