
Jack sudah siuman terlebih dahulu, setelah melewati masa kritisnya selama satu bulan. Sementara Gwen masih belum sadarkan diri. Keduanya sama-sama diawasi oleh polisi.
Ia melihat ke sekelilingnya tenyata kamar rumah sakit. Ia tersenyum lega karena ia masih hidup. Tapi, perasaannya tidak tenang, kalau belum mengetahui Cyra dan Gwen masih hidup.
Jika keduanya masih hidup dia akan menerima hukuman secara militer dan juga secara hukum negara karena telah berani berkhianat. Ia melihat salah satu tangannya sedang di borgol.
"Sial..! Kenapa tanganku malah di borgol. Apakah mereka sudah tahu kalau aku adalah pengkhianat?" Gumam Jack.
Ia memikirkan cara untuk menyelamatkan diri dari hukuman itu. Dengan susah payah ia memanggil polisi yang menjaganya itu sedang tidur.
"Hallo Tuan!"
Polisi itu bergegas bangun menghampiri Jack yang mencoba mengatakan sesuatu tapi tenggorokannya sedikit sakit.
"Apa yang terjadi padaku Tuan? Kenapa aku di borgol seperti ini?"
"Aku hanya menjalankan tugas untuk menjagamu di sini. Aku tidak mengetahui tentang keadaan tubuhmu. Aku akan memanggilkan dokter untuk kamu." Polisi memencet nurse call.
Dokter dan perawat segera datang melihat keadaan Jack.
"Dokter, kenapa suaraku tidak bisa keluar secara jelas?"
"Jangan terlalu memaksakan diri karena kami baru mengoperasi pita suara mu karena di cabik oleh binatang buas."
"Sial! Macan sialan itu hampir saja membunuhku."
"Dokter kenapa saya diborgol."
"Karena kamu dianggap tersangka dan dituduh sebagai pengkhianat yang menyebabkan penyerangan terhadap keluarga tuan Farel."
Deggggg...
"Siapa yang menyampaikan omong kosong itu dokter, apakah ada temanku yang mencoba fitnah aku?"
"Itu bukan wewenang ku untuk menjelaskan kepada anda. Pimpinan anda akan ke sini sebentar lagi. Jadi dia yang berhak menyampaikan keterlibatan anda dalam peledakan dan penyerangan rumah marsekal Farel."
"Maaf dokter apakah ada teman saya yang bernama nona Gwen di rawat juga di sini?"
"Tidak ada nama itu di sini." Ujar dokter Kellen bohong.
"Bagaimana dengan istrinya tuan Farel?"
"Dia juga sudah meninggal."
Duaaarrr...
"Apakah dia sudah mati?" Batin Jack terlihat lega saat mengetahui Gwen tidak ditemukan.
"Anda sebaiknya makan dan minum obat sebelum pimpinan anda datang! Permisi tuan Jack."
Dokter Kellen merasa curiga pada Jack karena ia terlihat gelisah dan menanyakan tentang Gwen. Sesuai pesan dari Cyra untuk tidak memberitahukan keadaan Gwen pada Jack.
Di kediaman istana Cyra yang baru, gadis ini merasa tenang ada Cika yang sudah di bawa ke istana barunya. Sejak baby lahir, Cyra lebih fokus kepada babynya daripada Farel yang sudah merasa tersisihkan oleh bayinya sendiri.
Bayi yang diberi nama King Amran memiliki wajah yang lebih mendominasi wajahnya Cyra. Ibu satu anak ini menatap wajah babynya dari pada suaminya.
Wajah Farrel terlihat cemberut dan keluar dari kamarnya menemui iparnya Khalid yang sedang menggendong salah satu bayinya yang bernama Layyin.
"Ada apa Farel? kenapa wajahmu ditekuk begitu?"
__ADS_1
"Cyra lebih sayang pangeran kecilnya daripada aku."
"Kalau kamu merasa malaikat kecilmu itu sebagai saingan mu, kenapa menghadirkannya ke dunia?" Sinis Khalid.
"Bagaimana aku tidak merasa di saingi, kalau Cyra hanya memuji babynya, mandiin baby-nya, tidur nggak mau jauh dari baby. Di suruh baby pindah ke boks bayi dia tidak mau. Bagaimana aku tidak kesal."
"Astaga Farel, masa anak sendiri kamu cemburu? Apa karena kamu anak tunggal lantas cemburu kalau ada yang dekat dengan ibumu dan sekarang istrimu, Cyra?"
"Pokoknya aku tidak mau Cyra hanya perhatian pada Baby Amran daripada aku."
Tukas Farel seperti anak kecil.
"Pikiranmu itu akan berubah jika kamu dikaruniai anak perempuan. Karena anak perempuan itu milik ayahnya sampai dia menikah. Dan laki-laki itu milik ibunya sampai dia mati."
"Apakah kamu tidak cemburu pada bayi kembar empat mu?"
"Celia selalu mengutamakan kepentingan ku dulu baru si kembar empat."
"Harusnya begitu. Jadi aku tidak perlu merasa tersiksa begini. Bisa kamu bilang pada Celia untuk membujuk istriku untuk lebih memperhatikan aku?"
"Kenapa harus istriku? Kenapa bukan kamu sendiri yang meminta pada Cyra?"
"Aku mau Cyra yang harus sadar sendiri bukan aku yang memintanya."
"Kalau kamu gengsi ya sudah. Aku tidak akan memaksamu lagi."
Dreeett...
Ponselnya Farel berbunyi. Ternyata ada panggilan dari rumah sakit.
"Hallo Tuan Farel!"
"Iya dokter!"
"Baik. Aku akan ke sana."
Farrel dan Cyra segera berangkat ke rumah sakit. Di sana mereka melihat keadaan Gwen terlebih dahulu yang belum sadarkan diri. Lalu beralih ke kamar inap Jack.
Sementara Cyra sengaja tidak ingin masuk ke kamar Jack karena dokter sudah mengatakan kepada Jack kalau dirinya sudah meninggal.
Jack langsung gugup saat melihat Farel. Ia mencoba tersenyum lalu kembali memasang wajah sendu agar terlihat seperti korban.
"Tuan Farel!"
"Apa kabarmu Jack!"
"Sudah lebih baik Tuan!"
"Mengapa kamu tiba-tiba dicakar sama Cika?"
"Itu karena Cika ingin memakan bayi anda Tuan, jadi saya ingin menembaknya malah saya diserang oleh binatang buas itu. Sebaiknya tuan membunuh Cika daripada bayi anda nanti jadi korban."
"Bagaimana kamu bisa mengetahui jejak Cika?"
"Itu... di minta sama Gwen untuk menyusul Cika ke lereng gunung karena membawa bayinya anda Tuan. Tapi saat saya ingin menolong mengambilkan bayinya anda, tiba-tiba nona Gwen ingin membunuh saya dan kami harus berantem. Sepertinya nona Gwen mata-mata dari penjahat tuan Michael."
"Bagaimana kamu bisa mengetahui yang menyerang istana bukit adalah tuan Michael?"
"I...itu karena Gwen yang menyebutkan nama bosnya sehingga saya mengetahuinya dan saya terpaksa mendorongnya dari atas bukit karena dia juga ingin membunuh bayinya tuan."
__ADS_1
"Begitu kah...? Apakah kamu tidak sedang memfitnah Gwen?"
"Sumpah demi apapun Tuan! Apa yang saya katakan kepada tuan adalah kebenaran."
"Baiklah. Kalau begitu...?"
Cek...lek!
Duarrrr..
Wajah Jack tiba-tiba pucat dengan tubuh gemetar saat melihat Gwen dan Cyra masih hidup.
"Bukankah dokter Kellen bilang Gwen tidak ditemukan di rumah sakit ini dan nona Cyra sudah meninggal?" Gumamnya lirih.
Cyra masuk bersama Gwen yang baru siuman ke kamar Jack.
"Apakah kamu takut Jack..?"
"Bukankah kamu itu seorang pengkhianat?" Ucap Jack ingin menyudutkan Gwen.
"Baiklah. Tidak apa kalau kamu menuduh aku pengkhianat. Kita akan buktikan siapa diantara kita yang pengkhianat. Tolong nyalakan ponselku nona Cyra!"'
Cyra memperdengarkan rekaman Jack saat bicara dengan tuan Michael.
"Tuan Michael! Keadaan di sini sangat tepat untuk melakukan penyerangan untuk menangkap nona Cyra. Dia sedang hamil tua dan tidak akan kuat melawan anda. Jika dia melawan anda, bayinya akan meninggal karena ia harus mengeluarkan tenaga dalam."
"Tapi saat ini sedang dilanda badai."
"Kalau anggota anda menyerang dalam keadaan aman, maka tidak menutup kemungkinan pasukan militer akan datang dan membunuh semua anggota tuan."
"Berarti aku akan membunuh dua orang sekaligus. Cyra dan anak dalam kandungannya?"
"Iya Tuan! sepertinya tuan Farel saat ini mengalami kecelakaan pesawat. Listrik padam dan jiwa nona Cyra sedang terguncang. Lebih baik melakukan penyerangan sekarang. Saya sudah membuka pintu bawah tanah jalur tempat prositusi."
"Baiklah. Pasukan saya akan segera masuk ke istana bukit. Dapatkan wanita ****** itu hidup-hidup. Karena saya ingin membunuhnya dengan tangan saya sendiri."
"Siap Tuan!"
"Bagaimana Jack? kamu bicara dengan musuh melalui panggilan radio tersendiri yang bukan milik angkatan udara."
Ucap Gwen dengan senyum sinis nya.
"Perempuan keparat!"
"Saya sengaja meminta nyonya Cyra masuk ke kamarnya karena saat itu kamu sudah menghilang begitu saja setelah menembak Alex.
Kamu kembali lagi ke dalam rumah ketika melihat nona Cyra mundur saat pasukan angkatan udara datang menyerang pasukan tuan Michael.
Dan kamu dengan tega memukul perut nona Cyra dengan tongkat bisbol yang baru saja melahirkan dalam kegelapan hingga ia pingsan.
Saat kamu melihat aku di kamar, kamu mulai mencari bayinya nona Cyra yang sudah di bawa pergi oleh Cika." Ucap Gwen berapi-api.
Mendengar istrinya dipukul oleh Jack, Farel tidak bisa menahan diri. Ia dengan cepat melayangkan pukulannya ke dada Jack hingga Jack pingsan.
Polisi dan jendral Liod yang ada
di kamar itu segera menarik tubuh Farel.
"Biarkan aku membunuhnya!"
__ADS_1
"Jangan kotori tanganmu dengan binatang seperti dia. Dia perlu di siksa dulu secara perlahan sampai ia menemui ajalnya." Ucap jendral Liod.
Tuan Farel langsung menggendong istrinya dan membawa pulang karena tidak sanggup menahan kesedihannya setelah mengetahui Jack dengan tega memukul perut istrinya dengan tongkat bisbol.