Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Takdir?


__ADS_3

Hampir semua suka duka dalam hidupnya, Rere ceritakan pada Emilia.


Tidak ada yang Rere tutupi, Rere lebih bisa mempercayakan kisah hidupnya pada Emilia daripada keluarganya sendiri.


Kadang yang tidak ada hubungan darah lebih dapat dipercaya daripada yang sedarah atau bahkan belahan hati sekalipun.


“Terus, gimana Coy?” Tanya Rere pada Emilia.


“Kamu pastikan dulu, dia sungguhan atau cuma ngibul.” Jawab Emilia.


“Single Mom itu berat Coy. Aku aja yang sekarang punya suami, masih tetap harus kerja.”


“Padahal aku dulu inginnya, kalau menikah bisa urus anak di rumah dan tunggu suami pulang. Tapi apa daya, pengeluaran nggak sebanding pendapatan setiap bulan. Jadi aku harus bantu suami juga sekarang.” Terang Emilia.


Sudah empat tahun Emilia menikah dan baru dua tahun yang lalu ia dikaruniai anak. Gaji yang di dapat dia dan suaminya masih belum cukup memenuhi cicilan dan kebutuhan sehari-hari.

__ADS_1


“Kalau rencanaku sih, sebisa mungkin kebutuhan baby ku kalau lahir nanti akan aku tanggung sendiri. Aku malah nggak pengen siapapun bapak biologisnya nanti ikut andil.” Ujar Rere.


“Tiga tahun LDR dengan George, nggak ada perkembangan. Begini-gini aja.” Imbuh Rere.


Waktu tunggu Rere untuk George seakan sudah habis dari batas sabar. “Tapi George masih tetap kirim uang kan?” Celetuk Emilia.


“Ah, dia sekarang nggak seperti dulu. Sejak pandemi mulai sulit transferan.” Jawab Rere.


“Ya gila aja, apa yang aku tunggu dari dia kalau bukan uang.” Imbuh Rere seraya menyulut rokok yang ada di tangannya.


Harapannya besar di pertemuan awal dengan George. Tetapi waktu ke waktu ia lewati, George tak juga menunjukkan keseriusannya pada Rere.


Rere tumbuh secara liar, mencari jati dirinya sendiri. Masih dituntut membantu kebutuhan keluarga, termasuk biaya sekolah adik semata wayangnya.


Di lingkungannya ia dipandang rendah dan di remehkan. Namun Rere tak putus harapan. Setiap hari menemukan orang-orang baru untuk memotivasi dirinya agar terus tumbuh dan berjuang.

__ADS_1


“Aku tahu cara yang kuambil salah, para perempuan diluar sana yang tumbuh dari lingkungan baik-baik pasti tidak akan memilih jalan sepertiku.” Ucap Rere.


“Aku malah salut dengan hidupmu, aku mengenalmu sudah hampir dua puluh tahun.” Kata Emilia.


“Aku tahu betul bagaimana kamu melewati hidupmu, kamu nggak menyerah. Kamu terus bergerak bagaimana dan seperti apa jalan yang kamu ambil untuk tetap hidup.” Imbuhnya.


“Aku pun kalau di posisimu, aku nggak akan semampu dirimu.” Sambungnya lagi.


Hidup memang punya tingkat kesusahan dan bahagianya masing-masing, dan jangan pernah menyalahkan takdir ketika apa yang kamu inginkan tak sesuai harapan.


Menurutku takdir adalah hasil akhir dari segala hal yang kalian putuskan. Jadi sebenarnya hidup itu adalah Pilihan hingga memunculkan kata takdir.


Contoh kecilnya, kalau kalian saat ini ingin makan tetapi sakit perut ingin buang air besar. Mana yang pertama ingin kamu lakukan?


Nah, itulah yang kamu pilih dan akan kamu lakukan.

__ADS_1


Tuhan tidak pernah memberikan nasib buruk ke setiap ciptaannya. Tentu saja Tuhan memberikan nasib baik ke setiap ciptaannya.


Maka dari itu, sebelum mengambil langkah dalam hidup setiap insan dituntut untuk berpikir apakah yang kita putuskan akan baik untuk waktu berikutnya.


__ADS_2