Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Menelusupkan


__ADS_3

Jimmy seakan tak ingin melewatkan kesempatan memanjakan hasratnya. Mendaratkan kecupan di bibir Rere berulang kali, memperdalam gerakan lidahnya hingga ke rongga mulut Rere.


Tangannya tak henti melakukan gerakan sentuhan lembut ke bagian tubuh Rere yang lain. Jimmy kini mempunyai peran utama di atas tubuh Rere, mengunci setiap gerakan tubuh Rere untuk mengikuti gerakan tubuh yang Jimmy inginkan.


Jimmy terus memonopoli situasi, membuat Rere tak mampu menolak untuk memanjakan hasratnya di atas ranjang.


Jimmy perlahan membuka bra yang masih menempel di kedua gunung kembar Rere. Menatap gunung kembar dengan ukuran yang sangat diinginkan Jimmy.


“Oh God. So beautiful.” Dengan lirih Jimmy mengatakannya.


Mengusapkan bibirnya ke gunung kembar Rere dan sesekali membawa naik ke bagian leher Rere. Dan kini keduanya beradu dalam hasrat yang seakan memuncak.


Suara mesra keluar dari mulut Rere setiap kali Jimmy mendaratkan kecupan ke bagian leher dan ke gunung kembar Rere.


Suara mesra yang keluar dari mulut Rere  membuat Jimmy semakin panas dan menelusupkan tangannya ke bagian terlarang Rere.


Membuat Rere berteriak keras, merasakan jemari Jimmy terus bergerilya ke bagian terlarang Rere.


Rere yang haus akan sentuhan, membiarkan Jimmy terus melakukan aksinya. Hasrat Jimmy yang mulai memuncak dan tak mampu lagi menahannya.


Perlahan membuka celana yang ia kenakan dan menyelipkan miliknya perlahan ke bagian terlarang Rere.

__ADS_1


“Make you hurt?” Bisik Jimmy perlahan.


“Slowly.” Jawab Rere lirih.


Jimmy perlahan melakukan gerakan lembut, namun suara mesra Rere membuat Jimmy semakin gila. Hingga membuat Jimmy menambah kecepatan gerakannya.


Dan, “Arghh..!”


Jimmy meluapkan kepuasannya dengan memecah suasana di dalam kamar saat hasratnya terselesaikan. Terengah bersama setelah melampiaskan hasratnya.


“Thank you.” Jimmy berbisik.


Jimmy kemudian memeluk hangat Rere, sesekali menyeka rambut Rere dengan penuh kelembutan.


Rere kemudian meraih ponselnya dan memeriksa beberapa pesan masuk dari rekan kerjanya. Aktivitas semalam membuatnya malas untuk berangkat kerja hari ini.


Rere kemudian menulis pesan singkat ke bagian manajemen kantornya, bahwa dia ijin tidak masuk hari ini. Rere beralasan sedang kurang enak badan hari ini.


Meletakkan kembali ponselnya dan kembali ke pelukan Jimmy. Mereka lalu terlelap bersama.


Dua jam berlalu, waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Jimmy mengusap lembut pundak Rere dan berusaha membangunkannya perlahan.

__ADS_1


“Babe, time to breakfast now.” Ucap Jimmy lembut.


“Hoam..” Rere menguap dan berusaha membuka kedua matanya.


“I am so tired.” Rere menjawab sembari menatap Jimmy.


Jimmy kembali mendaratkan kecupan di kening Rere dengan lembut. Mereka berdua kemudian beranjak dari tempat tidur.


Jimmy meraih satu helai t-shirt berwarna putih berukuran besar dan memberikannya pada Rere.


Rere kemudian meraihnya dan mengenakannya. Keduanya kini sudah siap dengan pakaian lengkap menuju restoran hotel untuk menikmati sarapan.


***


Selesai dengan sarapan, Rere dan Jimmy kembali ke kamar. Bercerita banyak hal dan kembali membahas mengenai rencana Rere waktu makan malam pertama pertemuan mereka.


Jimmy kembali mengatakan bahwa dia siap dengan rencana itu. Ia juga menerangkan bahwa ia ingin bayi itu lahir di Australia. Dan Rere dapat datang kesana tiga bulan sebelum hari perkiraan lahir.


Jimmy juga menanyakan berapa uang yang Rere butuhkan selama anak itu dalam kandungan.


“I need ten million per month.” Jawab Rere.

__ADS_1


__ADS_2