Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Sahabat Terbaik


__ADS_3

“Dih! Cuma gerimis.” Ucapnya lagi.


“Bawel lu!” Jawab Rere ketus.


Duduk membaur dengan rekan sales yang lainnya, bercerita tentang kehidupan masing-masing. Kadang bercanda dan membahas hal yang tidak penting.


“Hai, ayo keluar. Sudah pukul sembilan lebih.” Ajak salah satu rekan kerjanya.


“Ya udah, kita ke warung depan dulu.” Jawab Rere.


Kemudian bersama menuju warung makan yang tak jauh dari kantor. Membeli nasi bungkus dan menikmatinya bersama-sama sambil bercanda adalah kebahagiaan yang mungkin tak akan bisa diulang ketika kalian bukan lagi rekan satu kantor.


“Re, kenapa kamu masih sendiri sekarang?” Tanya salah seorang teman kerjanya.


“Dih! Memang kalau aku punya pacar harus laporan kalian.” Dengan nyengir Rere mengatakannya.


“Nggak semua kehidupan pribadi dipublikasikan bro.” Imbuhnya.

__ADS_1


“Jangan tersinggung, siapa tahu aku punya teman boleh mengisi ruang hatimu.” Ledek temannya lagi.


“Haha. Tandon kali diisi air.” Jawab Rere.


Rere mengalami trauma dimasa lalu. Menceritakan kehidupan pribadinya kepada teman yang ia sebelumnya dianggap dapat dipercaya di masa lalunya.


Bukan hanya satu, dia menemui beberapa teman. Ketika dia kecewa pada satu teman, dia mencoba lagi berteman dengan orang baru. Hal itu dia ulang sampai usianya tiga puluh tahun dia menyadari hanya ada satu teman terbaiknya, tentu saja Emilia.


Mempunyai banyak teman sama halnya mempunyai beberapa pilihan untuk mencari pendamping hidup atau jodoh.


Memerlukan waktu yang panjang untuk dapat menemukan satu yang dapat kamu percaya, yah meskipun bukan seratus persen. Ketika kita menemukan satu orang terdekat atau biasa kita sebut sebagai sahabat, tolong berhentilah menganggap mereka seperti tong sampah yang harus menampung semua keluh kesahmu dan menumpahkan kekesalan mu padanya.


Tetapi Emilia tak pernah mengeluh tentang itu, ia bersedia mendengarkan cerita Rere. Malahan Emilia jarang sekali menceritakan kehidupan pribadinya pada Rere. Bisa dihitung mungkin dalam setahun hanya tiga atau sampai lima kali Emilia mengungkapkan kekesalannya tentang orang lain.


Tetapi tidak dengan Rere, kekesalan dan kekecewaannya pada satu orang ke orang yang lain ia selalu luapkan ke Emilia. Haha.


Sore tiba, cuaca cerah kali ini.

__ADS_1


Rere bertemu kembali dengan Jimmy ke apartemen yang sudah di pesan. Dan hari ini mulai ia tempati. Jimmy juga sudah menyelesaikan pembayarannya.


“Hai.” Ucap Jimmy saat menemui Rere di lobby apartemen.


Lalu keduanya masuk ke dalam lift dan menuju kamar. Jimmy mempersilahkan masuk Rere setelah pintu terbuka.


Rere meletakkan tas nya dan duduk diatas tempat tidur. Jimmy lalu menghampirinya dan menyerahkan satu kartu kunci apartemen padanya.


Rere nampak heran seraya menatap Jimmy. “This one for you.” Ucap Jimmy.


Jimmy kemudian berkata pada Rere untuknya bisa membawa semua barangnya untuk tinggal bersama Jimmy di apartemen.


“No.” Rere menjawab.


“Why?” Tanya Jimmy.


“I don't want be like Cinderella, have time expired.” Jawab Rere.

__ADS_1


Rere tidak ingin seperti Cinderella dalam cerita dongeng. Melewati harinya bersama Jimmy dengan segala kemewahan, namun ia harus kembali menjadi orang biasa ketika Jimmy harus kembali ke negaranya. Rere cukup nyaman dengan kamar kosan yang hanya dua kali tiga meter besarnya tapi dia merasa punya tempat untuk pulang.


Jimmy sedikit terkejut saat Rere..


__ADS_2