Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Nothing Special


__ADS_3

Perlahan Rere mengayunkan langkahnya keluar dari dalam pesawat. Menuju pemeriksaan paspor penumpang. Lagi-lagi ia berdiri dan mengantri bersama penumpang yang lain.


Banyak juga penumpang dari Indonesia yang ingin mengambil liburan di Singapura, ini perjalanan pertama Rere ke Singapura. Saling melempar tanya dengan penumpang yang lain mengenai keperluannya datang ke Singapura. Hingga tiba saatnya Rere memeriksakan dokumen paspornya.


Rere menunjukkan dokumennya dan mendapatkan cap kedatangan Singapura. Ia mengayunkan langkahnya setelah pintu pemeriksaan terbuka.


“Yeay! Singapura.” Rere bahagia.


Ia kemudian menghubungi George melalui pesan singkatnya, mengatakan bahwa dirinya sudah berada di Singapura.


George memberi arahan untuk Rere menemuinya pada nomor ruang tunggu lobby bandara. Rere tak mematuhinya.


Rere mengarahkan langkahnya ke arah yang lain, karena ia ingin berkeliling ke are bandara Changi.


Mengambil beberapa gambar untuk ia abadikan dan mengunggahnya ke akun media sosialnya, dengan tulisan.


Salah lawan atau salah target!


Dengan emoticon tersenyum. Hal itu ia tujukan untuk Mark, dan benar saja setelah ia mengunggahnya ke akun media sosialnya Mark kemudian menontonnya. Lalu mengirim pesan pada Rere.


“Kau memanfaatkanku. Sialan.” Umpat Mark melalui pesan singkatnya.

__ADS_1


“Tanyakan pada dirimu, mengapa aku melakukannya.” Jawab Rere yang lalu ia memblokir akun media sosial Mark.


Kemudian panggilan masuk dari George, bertanya dimana Rere. Hingga mereka bertemu di muka eskalator, Rere melangkahkan kaki mendekati George yang terus memutar kepala mencari keberadaan Rere.


Rere melingkarkan pelukan ke pinggang George, seketia ia memutar tubuhnya dan menatap Rere kini berada di hadapannya.


Senyumannya melebar, kebahagiaan terpancar dari wajah George. Mengatakan berulang kali dia sangat bahagia hari yang di tunggu telah tiba.


Tiga tahun George menahan kerinduannya pada Rere. Mereka berdua lalu melangkahkan kaki bersama menuju ruang tunggu taksi.


Seorang petugas bandara lalu mempersilahkan Rere dan George masuk ke dalam sebuah taksi yang sudah siap mengantarnya.


George terlihat lebih muda kali ini, mungkin karena penampilannya atau karena sudah lama mereka tak bertemu. Mengenakan celana pendek dengan kaos kerah lengan pendek berwarna biru dipadukan dengan sepatu sporty berwarna coklat membuatnya terlihat lebih muda dari saat mereka melakukan video call.


“Haha. Thank you.” Jawab George.


.


.


.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar hotel, George langsung meluapkan rasa rindunya. Mendaratkan kecupan berulang kali di setiap inci bagian sensitif Rere.


Membuat panas darah yang mengalir di setiap nadi tubuh Rere, tak memberikan Rere mengambil waktu untuk membersihkan dirinya.


George terus memperdalam sentuhan nya, menanggalkan semua kain yang melekat di tubuh Rere dan terus menerus melakukan penjajahan pada tubuhnya.


Rere tak melakukan perlawanan, membiarkan George melakukan yang ia inginkan. Perasaannya terasa lain dari pertemuan pertamanya.


Entah karena terlalu lama tak bertemu atau karena terlalu sering melakukan komunikasi secara virtual.


NothingSpecial!


Mengobati rasa dahaganya dengan menumpahkan semua milik George ke dalam rongga sensitif Rere hingga kepuasannya terpenuhi.


Terbaring bersama di atas tempat tidur, George mengatakan berulang kali kebahagiaannya karena dapat bertemu kembali dengan Rere hingga mereka berdua terlelap bersama.


Menjelang malam,


George mencari beberapa rekomendasi restoran melalui laptop yang ia bawa. Memilih beberapa dan menunjukkannya pada Rere, meminta Rere memilih satu yang ia suka.


Hingga ia menemukan satu restoran setelah ia memeriksa menu makanannya. "This one, can?" Tanya Rere seraya menunjuk satu tempat yang tertera dari layar laptop George.

__ADS_1


"Ok." Jawab George.


__ADS_2