Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Yakinlah


__ADS_3

Hari rencana liburan tiba, jam menunjukkan pukul empat pagi. Rere bangun dari tidurnya, segera beranjak dari tempat tidur. Memeriksa kembali isi koper miliknya dan juga Jimmy. Hingga waktu berlalu sampai pukul setengah enam.


“Let’s go!” Ajak Rere.


Jimmy berjalan bersama Rere keluar dari kamar Apartemen menuju lobby. Mobil travel sudah menunggu mereka di luar lobby Apartemen.


Koper sudah masuk di dalam mobil, lalu perlahan meninggalkan halaman lobby Apartemen.


***


Satu jam tiga puluh menit mereka sampai di bandara kota Solo, pengemudi menepikan mobil di depan drop off penumpang pada pintu keberangkatan.


Jimmy melangkah turun bersama Rere setelah pengemudi membukakan pintu untuk mereka, kemudian mengeluarkan tas kopernya.


“Ini Pak. Terimakasih.” Ucap Rere seraya menyodorkan satu lembar uang untuknya.


Sebenarnya untuk diantar sampai ke tempat tujuan ada tambahan biaya, tetapi Rere lebih suka memberi tip untuk pengemudi travel.

__ADS_1


Menarik tas kopernya Rere melangkahkan kakinya bersama Jimmy masuk lobby di keberangkatan bandara.


“Too early.” Ucap Jimmy.


Perkiraan Rere kurang tepat. Dia kira untuk sampai di Solo membutuhkan waktu dua sampai tiga jam, namun sampai lebih cepat dari yang ia kira.


Rere melebarkan senyumnya seraya menatap Jimmy. “Hehe, Sorry.” Ucap Rere.


Jimmy kemudian mengarahkan langkahnya diikuti Rere masuk ke sebuah restoran. Seorang waiters menghampiri mereka dan menyerahkan daftar menu untuknya.


“Kopi nya ini saja, Mas?” Tanya Rere seraya menatap buku menu.


Rere kemudian mengatakan kepada Jimmy bahwa tidak ada kopi yang ia suka di restoran tersebut.


Kemudian ia menawarkan menu kopi lain yang ada di kedai kopi di dalam lobby bandara.


Jimmy kemudian memilih Americano Kopi, lalu Rere menuju kedai kopi tersebut dan melakukan pesanan.

__ADS_1


Beberapa pasang mata menatapnya. Melihat penampilan Rere yang mengenakan kaos berwarna hitam tanpa lengan berbentuk crop hingga setengah perutnya terbuka. Dipadukan dengan celana pendek berwarna putih, mengenakan topi baseball berwarna hitam. Ia nampak seksi saat itu.


Terutama para perempuan dewasa seakan menatapnya tidak suka dengan penampilannya yang terbuka. Tetapi tidak dengan para pria, mereka menatap Rere seakan tak berkedip.


Warna sawo matang kulit Rere membuatnya terlihat semakin eksotis dengan rambut panjangnya yang ia urai.


Berbagi sedikit cerita. Beruntungnya Rere mempunyai kulit sawo matang, pribadinya yang hangat dan bersahabat dengan semua orang menambah kesan bahwa dia adalah orang yang ramah dan tidak sombong.


Rere juga seorang yang punya segudang ide, bahkan jika akan melakukan suatu hal Rere akan memikirkan lima langkah apa yang akan ia lakukan berikutnya.


Rere pernah mencoba menjalin kedekatan dengan beberapa pria lokal, sayangnya ia kurang beruntung. Terlalu banyak tuntutan kriteria yang harus Rere penuhi. Hingga membuatnya putus asa dan beralih ke pria asing.


Sudah berulang kali ia melabuhkan hatinya pada beberapa pria yang ia temui hingga usianya tiga puluh tahun saat itu, namun sayangnya ia belum pernah menemukan yang benar-benar tulus menerima ia apa adanya.


Terlebih setelah dia bekerja di Bali tiga tahun yang lalu. Rere seakan menemukan jati dirinya. Beberapa pria asing yang ia temui di Bali membuat cara pandangnya berbeda dalam hal bersosialisasi dengan banyak orang.


Benar-benar lain!

__ADS_1


Mungkin semua orang tidak sama, bukan maksud mengkotak-kotakan ras dan lain sebagainya, namun Rere merasakan perbedaan seratus delapan puluh derajat. Tanggung jawab, bagaimana mereka memperlakukan perempuan, bagaimana mereka menghargai Cinta yang kamu berikan tanpa melihat dari sisi kelammu. Dimana mereka menemukan kenyamanan bersamamu, yakinlah mereka akan tinggal bersamamu.


__ADS_2