Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Menahan Rasa


__ADS_3

Ya, setiap pukul tujuh hingga sembilan malam, Rere harus keluar dari kamar karena itu adalah waktu dimana pacar Jimmy akan menghubunginya secara video call. Hal ini sudah mereka sepakati sebelumnya.


Rere kemudian beranjak dari tempat tidur dan meraih tasnya, lalu berlalu meninggalkan kamar apartemen.


Namun sebelum melewati pintu kamar, Jimmy menghampirinya dan berkata.


“You can come back after 9pm.” Pinta Jimmy.


Rere hanya mengatakan bahwa sebaiknya aku tidur di kamarku malam ini. Memberikan senyum selamat malam dan berlalu meninggalkan kamar apartemen.


Entah mengapa dada Rere merasa sesak dengan situasi yang baru saja terjadi. Namun lagi-lagi ia menenangkan diri dengan mencoba mengirim pesan untuk George.


“Tenang Re, kamu masih punya George.” Batinnya


.


.


.


Keesokan pagi,


Jimmy mengirimkan pesan selamat pagi dan semoga harimu penuh keberuntungan. Rere membuka kedua matanya perlahan seraya menguap.


Tidurnya nyenyak malam ini, dia hanya membaca lewat notifikasi yang muncul dari layar ponselnya yang masih terkunci.

__ADS_1


Setelah kejadian semalam, Rere merasa situasi ini tidak benar. Kini dia menyesali keputusannya membantu Jimmy untuk tinggal lebih lama di Indonesia.


Rere kemudian menarik selimutnya dan segera melakukan aktivitas hariannya seperti biasa. Berangkat ke kantor dengan malas. Perasaannya kacau setelah semalam.


Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, selalu memikirkan keputusan seperti apa yang harus ia pilih.


Sesampainya di kantor, Pak Iyan minta semua staff sales berkumpul di ruang meeting. “Ada apa?” Tanya Rere pada salah satu rekannya.


“Nggak tahu, paling evaluasi mingguan.” Jawabnya.


Kini semua sudah berkumpul di ruang rapat. Pak Iyan memulai rapat pagi ini, membahas produk baru yang akan masih di bulan berikutnya. Dan meminta semua staff sales untuk mampu menjual produk tersebut, serta meningkatkan penjualan yang sudah ada.


Beberapa waktu kemudian, setelah pembahasan selesai kini Pak Iyan membahas mengenai angka penjualan setiap staff sales.


“Rere, kenapa kamu akhir-akhir ini penjualan mu menurun. Tidak seperti minggu lalu.” Tanya Pak Iyan pada Rere.


“Lebih fokus lagi Re, ini menentukan insentif dan performa mu bekerja.” Pesan Pak Iyan pada Rere.


“Baik, Pak. Saya maksimalkan.” Jawab Rere.


Pak Iyan kemudian meminta semua staff sales untuk keluar dari ruangan karena meeting sudah selesai.


Warung dekat kantor,


Menikmati sarapan seraya berbincang. Seperti biasa.

__ADS_1


“Kamu kenapa, tumben banyak bengong pagi ini.” Tanya salah seorang rekannya sembari menyantap sarapan paginya.


“Ah, enggak.” Jawab Rere.


“Mana ada. Memangnya kamu nggak dengar tadi Pak Iyan bilang penjualan mu menurun minggu ini.” Imbuhnya.


“Iya. Banyak yang harus aku pikirkan akhir-akhir ini.” Jawab Rere.


.


.


.


Hari demi hari berlalu, Rere mengunjungi Jimmy yang hanya mengurus keperluan Jimmy setelah pulang bekerja. Karena pada jam tujuh hingga sembilan malam, Rere harus segera pergi dari apartemen.


Hingga akhir pekan tiba, yaitu hari sabtu. Setelah menyiapkan makan malam untuk Jimmy, Rere pamit pulang. Namun Jimmy menahannya kali ini.


Jimmy memeluk Rere dari belakang punggung Rere saat hendak melangkahkan kaki nya mendekati pintu kamar apartemen.


“Don’t go.” Bisik Jimmy.


Rere kemudian memutar tubuhnya, menatap Jimmy dengan tersenyum. Rere kemudian mengatakan, bukankah mereka sudah sepakat kapan Rere harus keluar dari kamar apartemen.


Jimmy kemudian memeluk Rere lagi seraya berbisik, “You just hold your feeling for me.” Dengan lirih Jimmy mengatakannya.

__ADS_1


Deg!


__ADS_2