
George mulai menuntun jari tangannya, memberikan sentuhan lembut ke bagian sensitif gunung kembar Rere.
Mendaratkan kecupan di leher Rere membuat Rere tak kuasa membuka rongga mulutnya, menghembuskan nafas dahaga akan hasrat yang perlahan mulai panas.
George tak menghentikan sentuhannya, membawa turun kepala George dengan kecupan mendarat di setiap bagian inci tubuh Rere hingga menemukan rongga sensitif bagian bawah Rere.
Mengusapnya lembut dengan lembut bibir George, menjulurkan lidahnya. Membiarkannya memenuhi kesenangannya dengan perlahan menjelajah masuk ke bagian rongga paling dalam.
Membuat Rere mengeluarkan suara dahaga akan hasratnya yang tak mampu ia tahan, membiarkan George memenuhi hasrat atas dirinya.
George terus melakukan sentuhan hingga membuat tubuh Rere seakan meregang dan membiarkan George terus mengendalikannya.
Menyesap bagian sensitif Rere berulang kali hingga suara kepuasan menggema hingga ke langit ruang kamar hotel, membuat George semakin bergairah untuk terus melakukannya.
“Babe… Ah.. Babe..”
Hanya kata mesra ini yang keluar dari mulut Rere, menggenggam erat kepala George yang terus menyesap miliknya tanpa memberinya jeda.
“Come babe.. Ah…” Ucap Rere mesra.
George menarik tubuhnya perlahan dengan terus mendaratkan kecupan ke tubuh Rere, dengan cepat George membawa masuk miliknya ke rongga sensitif Rere. Melakukan gerakan sangat lembut seraya memandang wajah Rere penuh kepuasan.
“Babe… Babe.. Ah…” Ucap Rere lirih.
__ADS_1
Menghentakkan miliknya ke dalam tubuh Rere berulang kali, membiarkan Rere merasakan keperkasaannya yang terus kelaparan saat bersamanya.
Melingkarkan tangannya ke tubuh belakang Rere, memutar tubuhnya hingga kini Rere berada diatasnya.
Giliran Rere mengendalikan George dengan posisinya sekarang, bergoyang diatas tubuh George. Menunjukkan kepandaiannya membuat puas George dengan gerakan maju mundur dan naik turunnya.
Mengangkat kedua tangan Rere dengan menggenggam erat rambut kepalanya seraya memandang wajah George yang seakan puas dengan yang Rere lakukan.
Setengah jam berlalu terjadi pergulatan panas di atas tempat tidur.
Dan…
“Aaarrgghhh!”
Melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Rere dengan lembut, mengecup kening dan pipi Rere berulang kali dengan nafas yang sama-sama masing terengah.
.
.
.
“Babe, i am tired.” Ucap Rere saat berjalan hendak meninggalkan hotel menuju restoran Indonesia untuk mengambil makan siang mereka.
__ADS_1
“You lazy.” Ejek George.
“Habis maraton, tentu saja lelah.” Gerutu Rere.
George mengajak Rere berjalan kaki untuk menuju restoran yang tak jauh dari pasar tradisional.
“Why we don't use Taksi?” Tanya Rere dengan nada kesal.
George kemudian berkata, ia datang ke Singapura untuk melihat sekitar. Jika menggunakan Taksi ia hanya akan mengantar mereka sampai ke tujuan.
Satu jam berjalan akhirnya mereka sampai di Bugis Street, seperti pasar tradisional. Tidak besar, menjual beberapa makanan, souvenir dan masih banyak lagi.
Awal mula berjalan beriringan, namun ketika Rere mendekat ke sebuah toko George meninggalkannya. Seakan takut Rere memintanya untuk membayar belanjaannya.
Tentu saja hal itu membuat Rere kesal. Ini kedua kalinya George melakukan setelah pertemuan pertama mereka di Hongkong.
"Awas kamu ya!" Gerutu Rere seraya mengayunkan langkahnya.
George tak mempedulikan Rere meskipun ia sangat tau kalau Rere sedang marah padanya. Perubahan jadwal kedatangan mereka ke Singapura membuat anggaran liburan yang George keluarkan lebih banyak dari yang sudah ia perhitungkan.
Mungkin itu alasan kenapa George membatasi dan lebih memilih memberi barang yang penting saja.
Menemukan restoran Indonesia yang tak jauh dari market tersebut.
__ADS_1
Lalu...