
“Rere, ponselmu nggak aktif ya?” Tanya staff admin di kantornya.
“Ah, iya.” Jawab Rere.
Rere merogoh isi tasnya, menemukan ponselnya dan mulai mengaktifkannya. “Ah, sial. Belum aku charge baterainya.”
“Mana charger nya lupa kubawa.” Imbuhnya.
Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, sudah saatnya para sales berada di lapangan dan melakukan pekerjaannya.
.
.
.
Sore hari sesampainya di kamar kosan, “Ah, aku laundry saja.” Ucapnya.
Rere membongkar isi koper dan menjadikan satu ke dalam kantong plastik besar tersebut, membawa nya ke binatu untuk membuatnya bersih.
Jimmy terus menghubungi Rere dengan pesan singkatnya, kemudian Rere mengirimkan pesan berupa gambar mesin pencuci pakaian. Yang mana menerangkan ia sedang melakukan tugasnya.
Jimmy kemudian membalasnya dengan meminta Rere untuk datang malam ini ke Apartemennya. Dan Rere membalasnya. “Ok.”
__ADS_1
Setengah jam berlalu berada di binatu, Rere mendapati seorang pria asing hendak mencuci pakaian. Ia memilih mesin cuci di samping mesin cuci yang Rere sedang gunakan.
Pria tinggi semampai, warna rambut dan kulitnya yang kecoklatan membuat Rere semakin bergairah untuk melemparkan senyuman padanya.
“OMG! Sangat tampan.” Batinnya saat menatap pria tersebut.
Pria itu kemudian mengambil duduknya di samping Rere setelah memasukkan semua pakaian miliknya ke mesin cuci.
Saling bertukar melemparkan senyuman dan mengawali pembicaraan dengan perkenalan.
“I am Marcello from Italia.” Ucapnya.
“I am Rere from Indonesia.” Jawab Rere.
“Ok.” Jawab Rere.
Marcel mengatakan bahwa ia baru saja tiba di kota ini satu hari yang lalu, ia merasa sangat beruntung dapat bertemu dengan Rere yang humble dan dapat berbahasa Inggris.
Keduanya kemudian saling bertukar nomor telepon, dan mencoba saling membalas pesan melalui pesan singkatnya.
Satu jam berlalu, setelah selesai Rere mengemas pakaian yang sudah bersih dan membawanya meninggalkan binatu. Tak lupa Rere mengucapkan salam perpisahan pada Marcel.
Sesampainya di kosan, Rere segera bersiap membersihkan diri. Mengenakan pakaian santai menuju Apartemen. Menggunakan taksi online yang ia pesan.
__ADS_1
Apartemen,
Ceklek!
Belum Rere membukanya menggunakan kunci yang ada di tangannya, pintu kamar Apartemen terbuka seketika. Rupanya Jimmy sudah menunggu kedatangannya dari balik pintu.
Rere mengayunkan kakinya masuk ke kamar Apartemen dengan menjinjing kantong plastik berisi pakaian Jimmy.
Rere melepas alas kakinya, mengayunkan kembali kakinya mendekat ke lemari pakaian tanpa memperdulikan Jimmy yang terus mengamati gerakan tubuhnya.
Membuka lemari lalu menempatkan semua pakaian ke dalamnya. Hati Rere penuh kekesalan atas kejadian kemarin. Ingin sekali ia mengumpat Jimmy dengan kata-kata kasarnya, tetapi Rere selalu tak mampu melakukannya.
“Hey.” Jimmy mengagetkan Rere dengan berdiri di balik lemari saat Rere hendak menutupnya.
“Ah.” Ucap Rere seraya mengelus dadanya.
“You make me shocked.” Imbuh Rere.
Rere kemudian duduk diatas tempat tidur di ikuti Jimmy. Ia mulai merasakan perubahan Rere setelah sikapnya semalam.
Berulang kali Jimmy mengatakan maaf nya pada Rere, namun itu tak membuat Rere meredakan kekesalannya. Rere merasa permohonan maaf Jimmy tidak ada artinya, toh semua ini akan sama seperti sebelumnya. Hatinya tidak akan pernah ia berikan untuk Rere, kecuali ia keajaiban terjadi suatu saat.
Rere merasa ini saat yang tepat untuk membahas mengenai tujuan awalnya memilih hubungan yang tak tahu arahnya ini.
__ADS_1
Rere juga mengatakan merasa bingung dengan sikap Jimmy, dia merubah pikirannya setiap waktu.