Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Konsekuensi Yang Terima


__ADS_3

Hati Rere sekejap terasa sangat sesak, entah apa yang harus ia katakan. Ia memang mulai menaruh rasa pada Jimmy.


Suasana menjadi hening, Rere tak membalas pelukan Jimmy namun Jimmy tak jua melepaskan pelukannya dan membiarkan Rere pergi.


Suasana hening itu pecah ketika ponsel Jimmy berdering, siapa lagi kalau bukan panggilan dari pacar Jimmy


“Diana.” Ponsel itu terus berdering dengan menyebut namanya.


Rere kemudian memaksa Jimmy melepaskan pelukannya, namun Jimmy tak menghiraukan perlawanan Rere.


Jimmy tak memperdulikan ponselnya terus berdering, ia lebih fokus pada wanita yang membuatnya mabuk kepayang dihadapannya sekarang. Mulai melakukan sentuhan nakal seperti malam sebelumnya.


Menuntun Rere untuk mengikuti gerakan tubuhnya, hingga terjadilah adegan dewasa sama seperti malam sebelumnya.


.


.


.


Keesokan pagi, mentari pagi yang mencoba masuk melalui celah tirai kaca jendela yang sedikit terbuka membangunkan Rere yang tengah tertidur pulas.

__ADS_1


Ia menguap dan perlahan membuka kedua matanya. Menatap kaca jendela yang menyilaukan kedua matanya membuat Rere membuka kedua matanya sepenuhnya.


Merasakan tangan besar tengah ia tindih dengan kepalanya, lalu mengusap lembut tangan itu dan menyatukan telapak tangannya ke genggaman Jimmy.


Dia sadar betul keduanya kini tengah tak berbusana sepenuhnya. Rere kemudian memutar tubuhnya. Menatap pria tampan yang perlahan membuka kedua matanya, melemparkan senyuman selamat pagi untuk Rere.


Momen yang sudah lama ia tak dapatkan, seakan menjadi obat setelah tiga tahun berlalu bersama George. Keduanya terdiam cukup lama saling menatap dan sesekali tersenyum, Jimmy tak lupa mendaratkan kecupan di kening Rere.


Tak lama kemudian Rere terbangun, menarik tubuhnya turun dari tempat tidur. Berjalan mendekati lemari pendingin dan memeriksa ada apa di dalamnya.


“When you buy this?” Tanya Rere pada Jimmy.


Rere kemudian mengambil empat butir telur, keju dan susu. Kemudian Rere memasak scramble eggs. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuatnya, dan juga membuat teh hangat untuk Jimmy.


Rere kemudian menghidangkannya diatas meja makan setelah matang, “Thank you, babe.” Ucap Jimmy seraya menghampiri meja makan dan mulai menikmatinya.


Rere kemudian menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Menatap kaca cermin diatas wastafel, mencoba bertanya pada dirinya sendiri.


“Apakah ini yang kamu inginkan, Re.” Tanya nya


“Apakah kamu siap dengan konsekuensinya, Re.” Imbuhnya.

__ADS_1


Rere berdiri dalam diam, dia berulang kali bertanya pada dirinya sendiri apa yang ia inginkan.


Tok.Tok!


Ketukan pintu dari luar kamar mandi seketika menyadarkan Rere dalam diamnya. Jimmy kemudian menanyakan apakah dia baik-baik saja di dalam kamar mandi.


“Yes. I am Ok!” Teriak Rere.


Rere kemudian bergegas membuat bersih tubuhnya dengan mandi besarnya. Tiga puluh akhirnya Rere selesai dengan ritual mandinya. Dengan balutan handuk menutupi setengah tubuh, Rere melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.


Ceklek!


“Hah!” Seraya menyentuh dadanya, Rere terkejut saat mendapati Jimmy tengah berdiri di hadapannya dan memandangnya datar.


“You make me shock!” Gerutu Rere.


“What are you doing in the bathroom?” Tanya Jimmy.


Rere kemudian tertawa dan mengatakan apa ia tidak melihatnya baru saja membersihkan dirinya.


Rere kemudian melangkah mendekati jendela kamar dan membuka tirainya. Hangatnya mentari pagi menembus kaca jendela, Rere berdiri menatap ke arah gedung di seberang jendela dengan penuh pertanyaan di dalam pikirannya apakah yang ia lakukan ini benar.

__ADS_1


__ADS_2