
Awal mula terasa biasa saja, namun lama kelamaan kepala mulai terasa sedikit pusing. Kemudian Jimmy menyodorkan satu potong pizza pada Rere dan kembali meminta Rere untuk memakannya.
“I am full.” Ucap Rere.
Jimmy said, “We can share.”
Jimmy kembali memesan satu gelas minuman yang berbeda. Kepala Rere yang mulai terasa berat tak lagi hiraukan minuman apa yang Jimmy berikan padanya.
Rere terus meneguknya dan menghabiskannya sampai tak tersisa. Hingga kini kepalanya terasa berat dan mulai tak kontrol lagi.
Ya, Rere mabuk sekarang!
Jimmy kemudian memesan taksi online dan memapah Rere dengan langkah kaki yang sempoyongan.
Jimmy kemudian membawa Rere ikut bersamanya ke penginapan miliknya. Rere yang tak mampu lagi melangkah, memaksa Jimmy untuk menggendongnya.
Melewati resepsionis menuju pintu lift hotel. Melangkah ke dalamnya setelah pintu lift terbuka, dan menuju lantai sebelas dimana kamarnya berada.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, Jimmy melangkah masuk ke dalam setelah ia menutup pintu kamarnya. Meletakkan tubuh Rere diatas tempat tidurnya.
Tubuh Rere terkulai lemas seakan tidak ada tenaga. Jimmy membuka sepatu Rere dan membuka baju serta celana Rere.
Jimmy berdiri, terdiam sejenak menatap tubuh indah Rere. Kulit sawo matang nan eksotis membuat Jimmy sangat ingin menyentuhnya lebih dalam.
Orang barat sangat ingin mempunyai kulit yang sama seperti Rere, hingga banyak dari mereka mendatangi tempat tropis untuk membuat gelap kulit mereka.
Jimmy kemudian menanggalkan pakaian yang ia kenakan, dan mulai menelusupkan tubuhnya ke dalam selimut bersama Rere.
Mendekatkan tubuh Rere padanya lalu memeluknya, menatap wajah manis Rere. Bibirnya yang seksi membuat Jimmy sangat ingin mendaratkan kecupan pada wanita yang kini berada di hadapannya.
***
Keesokan paginya, pukul lima pagi. Rere terbangun, ia merasakan tangan besar tengah melingkar di perutnya.
Rere terdiam cukup lama, seraya mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam. Namun sialnya, kepalanya yang masih terasa berat membuatnya sulit untuk mengingat apa yang terjadi semalam.
Lalu ia tersadar saat menatap tubuhnya tak lagi berbusana lengkap, hanya mengenakan bra dan ****** *****.
__ADS_1
“Sial! Aku dimana.” Batin Rere.
Namun pelukan itu sangat hangat, Rere tak menyangkalnya bahwa ia rindu sentuhan pria. Tentu saja wanita seumurannya sangat menginginkan belaian seorang pria.
Rere kemudian memutar tubuhnya dan menatap pria yang baru satu hari ia kenal. Mulutnya menganga dengan kedua mata melotot, menatap Jimmy yang kini berada satu ranjang dengannya.
Jimmy yang merasakan pergerakan tubuh Rere, perlahan membuka kedua matanya dan mengucapkan selamat pagi pada Rere seraya melemparkan senyuman pada Rere.
Rere pun membalas senyuman Jimmy, meraih tubuh Rere untuk lebih dekat padanya. Kemudian mendaratkan kecupan di kening Rere.
Jimmy merasakan kehangatan, hal yang sama Rere rasakan. Secara refleks membuat Rere membalas pelukan Jimmy.
Jimmy yang kini merasa Rere juga membalasnya, mulai menyentuh ke bagian punggung Rere seraya mengusapnya dengan lembut.
Benar-benar membuat jantung Rere berdetak kencang. Hasratnya terbakar karena sentuhan Jimmy terus menjelajah ke bagian tengkuk leher Rere.
Rere yang tak tahan dengan spontan mempererat pelukannya ke tubuh Jimmy, membuat Jimmy semakin ingin memperdalam sentuhannya kebagian tubuh yang lain.
Udara pagi yang menambah sejuk ruangan membuat tubuh keduanya semakin ingin mendapatkan kehangatan.
__ADS_1