Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Merindukannya


__ADS_3

Rere merasa sedikit tenang, dia berpikir mungkin ini bagian awal Jimmy peduli pada perasaannya.


Rere yang merasa besar kepala saat itu meskipun perasaannya sedang buruk. Lalu ia menyetujui permintaan Jimmy untuk tidur di Apartemen.


Tidur di ranjang yang sama seperti biasa, saling membelakangi karena mereka berdua tahu suasana sedang tidak nyaman.


Pukul enam pagi,


Rere membuka kedua matanya seketika dengan terbelalak, menarik tubuhnya turun dari tempat tidur. Berlari kecil menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan air hangat.


Benar-benar kenyamanan yang hanya bisa didapatkan di luar hunian kosnya. Air hangat seakan melunturkan segala penat di dalam tubuh dan pikirannya. Namun tidak bisa lama-lama ia menikmatinya, karena Rere harus segera meninggalkan Apartemen dan kembali melakukan pekerjaannya.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, dengan mengendap Rere keluar dari dalam kamar mandi. Menatap Jimmy yang masih tertidur pulas, ia meraih tas kecilnya dan perlahan mengayunkan langkahnya meninggalkan kamar Apartemen.


Kemudian ia memperbesar langkah kakinya dengan sedikit berlari menuju lobby, dimana taksi online sudah menunggunya di depan halaman lobby Apartemen.


Sesampainya di kosan, Rere segera memindahkan isi di dalam tas kecilnya ke tas ransel kerjanya.


“Beres!” Rere perlahan berlalu meninggalkan kamar kosan.


Pukul sembilan pagi Jimmy mengirimkan pesan singkatnya dengan sebuah foto dia tengah berada di stasiun kereta untuk menunggu waktu keberangkatannya. Rere hanya membalasnya semoga perjalananmu menyenangkan.

__ADS_1


Sebenarnya Rere ingin ikut bersamanya, namun apa daya ia sudah mengambil cuti untuk liburan ke Bali kemarin.


.


.


.


Rere memilih tidur di kamar Apartemen malam ini dan mungkin akan berada disana di malam-malam berikutnya selama Jimmy berada di luar kota.


Rere melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar Apartemen, memeriksa beberapa barang yang sudah tak ada lagi di tempatnya. Pemandangan yang berbeda yang tak biasa dia lihat sebelumnya.


Jimmy mengirimkan pesan, bertanya apa yang sedang Rere lakukan. Rere membalas pesan dengan mengirimkan gambar bahwa ia sedang berada di dalam kamar Apartemen.


Jimmy menyukainya, ia sangat peduli dan khawatir pada Rere. Karena Jimmy ingin Rere mempunyai tempat yang layak untuk tinggal, walaupun itu sifatnya hanya sementara.


Rere kemudian mengirimkan pesan berisi kerinduannya pada Jimmy. Mereka lalu melakukan panggilan video call.


Entah mengapa Rere merasa sangat rindu pada Jimmy, susah payah Rere menahan rasanya untuk Jimmy namun ia tetap tidak bisa.


Tak terasa air mata menetes membasahi pipi Rere, “Don’t be sad, i will come back soon.” Jimmy berusaha menenangkan Rere.

__ADS_1


Rere mengusap air matanya dan menutup panggilannya, tanpa kata terakhir karena ia sudah tak mampu memendam perasaannya yang sebenarnya pada Jimmy.


Jimmy mengirim pesan singkatnya pada Rere, mencoba menenangkan dengan kata-kata manisnya.


.


.


.


Sore hari menjelang malam,


Hari ke empat dimana Jimmy melakukan perjalanannya kembali ke kota dimana Rere tinggal. Rere memasak sup dengan isian jamur, telur puyuh dan sayur. Menu masakan termudah se nusantara.


Lagi-lagi waktu yang ia perhitungkan ketika Jimmy sampai ke Apartemen tak sesuai perhitungan, masakannya matang lebih cepat.


Haha!


Selesai memasak, Rere mengambil ritual mandinya. Penat dengan pekerjaannya hari ini, ia memilih tidur lebih awal.


Pukul tujuh malam,

__ADS_1


__ADS_2