Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Sikap Dingin


__ADS_3

Sikap dingin Mark masih terus ia pertahankan di dalam kereta. “Untung aku masih ada uang.” Batin Rere.


Terus mengumpat di dalam hatinya, di tengah perjalanan Rere memilih meninggalkan Mark di kafetaria di dalam kereta. Memesan nasi goreng dan teh hangat.


Berbalas pesan dengan beberapa pria lain melalui akun chattingnya.


Perlakuan beberapa pria padanya, membuat Rere belajar untuk tak menggunakan rasa untuk bertemu pria manapun sekarang.


Hambar!


Aku hanya akan mengambil keuntungan dari mereka. Kaum wanitalah yang paling dirugikan oleh kaum pria. Memang terdengar tak adil, tapi se pengalamanku bertemu banyaknya pria diluar sana membuatku banyak belajar.


Lebih banyak kesakitan daripada kebahagiaan. Aku muak dengan peranku selalu menjadi pilihan terakhir karena keterpaksaan, bukan karena Cinta.


Karakterku memang kuat, tapi dibalik itu semua aku punya sisi rapuh yang tak bisa aku bagikan ke orang lain. Aku juga sering menangis, mengadu pada tembok di dalam kamarku. Haha.


Aku cukup malu mengakuinya di depan orang lain. Sampai hari ini pun, aku tidak pernah mengatakan kepada siapa Cintaku berlabuh. Karena aku tidak punya!


Banyak dari mereka berkata, “Kamu pemilih.”


Come on!

__ADS_1


Jangan kau lupa, hidup bukan hanya tulisan yang kau goreskan di setiap rencana hidupmu di atas kertas buku memo mu. Tetapi kamu harus kamu ikut sertakan rasional dan logika dalam menjalani hidupmu bahkan untuk memilih pasangan yang tepat.


Tidak sedikit orang sudah sangat berhati-hati menjadi pemilih tidak seindah mereka bayangkan ketika ia mengira pilihannya adalah sudah yang paling tepat.


Orang mempunyai pilihan hidupnya masing-masing, jangan menyesali setiap keputusan yang sudah kalian ambil. Setiap hal yang sudah kamu putuskan, mereka akan menjadi warna di setiap detik hidupmu.


Aku nggak pernah menyesal dengan kehidupanku, aku melakukan itu semua dengan kewarasanku. Aku memberi warna di setiap cerita hariku.


Jika kalian bertemu dengan orang yang tidak sejalan dengan pikiranmu, hentikan berinteraksi dengannya. Mereka hanya akan mempertontonkan sikap manisnya di hadapanmu, namun beropini buruk di belakangmu.


.


.


.


Sekitar enam jam perjalanan akhirnya kereta tiba di Stasiun Gambir Jakarta. Rere menemukan ide yang lain kali ini.


Sikap dingin Mark padanya tak juga ia hentikan. Sampai ketika turun dari kereta dan menuju ke ruang tunggu taksi.


Rere mendadak menghentikan langkah Mark, meraih tangan Mark dan mengatakan.

__ADS_1


“Jika kamu tidak cocok denganku, berikan tiket pulang untukku.” Ucap Rere.


“Really. How much?” Tanya Mark.


Ah, leganya hati Rere. Ia mendapatkan keuntungannya lagi. Rere kemudian mengatakan kepada Mark untuk memberinya uang satu setengah juta rupiah, kemudian Mark menyetujuinya.


Mark mengarahkan langkahnya menuju mesin atm dan melakukan tarik tunai, lalu memberikan uang tersebut pada Rere sejumlah yang Rere minta.


“Haha. Bodoh!” pikir Rere.


Rere kemudian berlalu meninggalkan Mark, mengambil jalur yang lain. Ia kemudian menuju sebuah restoran di dalam stasiun. Memilih menu makan siangnya.


Sesekali tertawa kecil mengingat kebodohan Mark. Rere kemudian membuka laman travel dari layar ponselnya. Mencari penginapan ekonomis yang tak jauh dari bandara.


Get it!


Rere menemukan sebuah hotel dengan harga tiga ratus ribu rupiah tak jauh dari bandara.


Perfect! Smart Girl.


Semua berjalan sesuai rencana Rere, menyelesaikan makan siangnya lalu membayarnya. "Ah, mudahnya hidup ini." Ujarnya seraya menarik tas kopernya meninggalkan restoran dan menuju ruang tunggu taksi.

__ADS_1


Setengah jam kemudian,


__ADS_2