Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Keuntungan


__ADS_3

Usia Mark lebih dewasa dua tahun dari Rere. Rere berpikir sejenak, memutar isi kepalanya dengan penuh logika.


“Ok.”


Rere menyetujui pertemuan yang dijadwalkan Mark. Rere sekali lagi memutar isi kepalanya untuknya dapat datang di hari terakhir Mark berada di Yogyakarta dengan alasan karena Rere tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


Sebenarnya itu bukan alasan yang sebenarnya, hal itu Rere lakukan karena ia ingin mengambil keuntungan untuk mendapatkan tiket gratis menuju Jakarta karena Mark menginginkan Rere ikut bersamanya ke Jakarta.


“Can I come to Yogyakarta on the last day?” Tanya Rere


“Yes. Ok.” Mark membalasnya.


Perfect! Sesuai Rencana.


Percakapan mereka hentikan setelah tercapai kesepakatan. Rere meminta Mark untuk memesan tiket kereta dengan gerbong dan memilih kursi di samping Mark, lalu Mark menyetujui nya.


.


.

__ADS_1


.


Yogyakarta,


Rere menggunakan agen travel menuju Yogyakarta. Tentu saja semua sudah diatur sesuai rencana yang Rere inginkan.


Sesampainya di hotel tepatnya di sekitar Malioboro, Rere menunggu Mark di lobby hotel. Satu jam berlalu, Rere masih duduk di lobby hotel.


Tak lama kemudian seseorang berjalan masuk melewati pintu lobby hotel dan menghampiri Rere. Mark terkejut saat menatap Rere pertama kali, pandangannya lain pada Rere.


Ya, Tidak Cocok!


Mark merasa Rere berbeda pada saat mereka melakukan video call tempo hari. Bukankah itu aneh, bisa dikatakan beda dari asli jika mereka hanya bertukar foto.


Selesai makan malam berdua, Rere dan Mark kembali ke hotel. Melangkahkan kaki sama sekali tidak peduli satu sama lain.


“Siapa peduli, yang penting tiketku sudah di pesan.” Batin Rere


Sesampainya di kamar hotel, sikap Mark sangat acuh dan dingin pada Rere. “Jangan kau kira hanya kau saja yang bisa, dasar lelaki bodoh!” Umpat Rere dalam hati.

__ADS_1


“Kau hanya tidak tahu aku punya tujuan lain mengapa aku kemari untukmu.” Imbuhnya


Rere kelelahan memilih mengambil istirahatnya. Mark tidur di samping Rere, mencoba menyentuh Rere. “I am tired.” Ucap Rere.


“Nggak semudah itu bos. Kalau aku mau, aku mudah mencarinya di kotaku. Tanpa perlu aku membuang waktu ku menghampirimu kemari.” Imbuh Rere dalam hati.


***


Menjelang pagi,


Rere perlahan membuka kedua matanya, mencari keberadaan Mark. Suara adzan subuh membangunkan Rere kala itu.


Rere mengayunkan langkah kaki nya perlahan dan menemukan Mark tengah berada di dalam kamar mandi. “What are you doing?” Tanya Rere.


Mark tak menjawab. Rere kemudian melangkahkan kakinya mendekati kursi sofa, mulai mengemasi barang-barangnya dan memeriksa kembali jangan ada yang tertinggal.


Rere juga membantu Mark setelah selesai dengan tas koper nya. Rere menunjukkan sikap baiknya, ya paling tidak dia berterima kasih karena Mark sudah membeli tiket untuknya ke Jakarta meskipun perlakuan Mark sangat dingin pada Rere.


Sama-sama menarik tas masing-masing meninggalkan kamar hotel setelah memeriksa sekali lagi apakah semua sudah terbawa, Mark dan Rere menuju lobby untuk melakukan check out.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian mengayunkan kembali kaki mereka menuju stasiun, wajah Mark yang masam semakin membuat Rere puas hati.


Sebenarnya jika Mark adalah orang yang tepat untuk Rere saat itu, Rere malah akan membatalkan penerbangannya menuju Singapura. Namun ternyata ia salah, dia bukanlah wanita yang diinginkan Mark.


__ADS_2