Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Menemukan


__ADS_3

“Bisa nya dia melakukannya.” Gerutu Rere.


Rere memesan dua menu masakan Indonesia, satu untuknya dan satu untuk George. Menikmati makan siang setelah seorang pelayan menyajikan.


George terus mengajaknya Rere berjalan seharian, untung ia mengenakan sepatu sporty kali ini. Bagaimana jika Rere mengenakan sepatu heels?


Haha. Itu akan sangat buruk.


Sedikit berbagi tips untuk kalian yang ingin punya pasangan dari negara luar, ya seperti ini keadaannya. Kalian harus selalu mampu bertahan jalan berjam-jam.


Meskipun tidak semua, tapi rata-rata mereka suka berjalan daripada memilih naik kendaraan. Mula-mula aku juga kesal, tapi lama kelamaan aku semakin terbiasa.


Bukan karena mereka tidak kaya, namun itulah kebiasaan mereka. Menurutnya berjalan itu lebih menyehatkan untuk tubuh.


Sesampainya di hotel, Rere merebahkan tubuhnya. Meregangkan kakinya di atas tempat tidur. Mengatakan bahwa dirinya sangat lelah hari ini.


.


.


.

__ADS_1


Empat hari di Singapura mereka gunakan untuk mengunjungi banyak tempat, hingga waktu liburan usai.


Hari terakhir George mengajak Rere mencoba kereta bawah tanah. “Hah, ini pasti diajak jalan lagi.” Kesal Rere.


Tapi ya sudahlah, apa yang bisa Rere perbuat selain menyetujuinya. Menuju sebuah market tak jauh dari hotelnya menginap.


“Wah! Why we never come here.” Ucap Rere.


Melihat ada counter Mc Donald tak jauh dari hotel. Membuat Rere menyesalinya kenapa di hari terakhir ia mengetahuinya.


Tak jauh juga banyak restoran makanan khas Cina dan Indonesia. “Hehe.” George tertawa kecil.


“Kamu mengerjaiku ya.” Ucap Rere.


“Ok. I'm looking chair.” Ucap Rere.


Rere memutar pandangannya mencari kursi dan meja yang masih kosong lalu menghampirinya saat menemukannya.


George kemudian menghampiri Rere setelah mendapatkan pesanannya. Menikmati makanan bersama seraya sesekali melihat orang-orang sekitar yang tengah melakukan aktivitasnya menuju ke lorong bawah tanah untuk mengejar jadwal kereta.


Memang mereka terbiasa menggunakan fasilitas umum untuk bepergian. Selain cepat dan lebih ekonomis.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, sudah kenyang dengan santap siangnya. Rere dan George membaur dengan yang lain menuju lorong stasiun kereta.


George membaca papan petunjuk dan bertanya kepada petugas jaga bagaimana cara membeli kartu baru untuk mereka.


Setelah diberikan petunjuk, George membeli sesuai arahan. Kemudian membaca peta tak jauh dari pintu masuk eskalator ke ruang tunggu kereta.


“Let’s Go.” Ucap George.


Lalu Rere mengekor di belakang George. Rere menatap setiap orang berjalan cepat hingga berlari, meninggalkan satu orang dan membaur dengan orang yang lain.


Tentu saja ikut berlari juga, haha. Benar-benar kelelahan. Turun dari satu stasiun ke stasiun yang lain hingga ke pemberhentian terakhir dekat pelabuhan.


Pemberhentian terakhir hanya ada dua pasang laki-laki dan perempuan termasuk mereka. "Jadi kelihatan seram." Ujar Rere.


Tidak ada lagi penumpang lain. Hanya ada petugas stasiun yang berjaga di dalam counter, itu pun hanya dua orang.


Rere mengatakan pada George bahwa sebaiknya mereka kembali ke hotel, namun George tak menyetujuinya. Ia malah mengajak Rere untuk keluar dari stasiun tersebut dan melihat keadaan sekitar di luar sana.


Fiuh!


Setelah keluar dari stasiun tidak ada tempat yang menarik perhatian mereka berdua. Hanya beberapa gedung Apartemen penuh dengan penghuni dan juga gedung sekolahan serta toko buah dan sayur di dalamnya.

__ADS_1


George kemudian mengarahkan lagi langkahnya masuk ke dalam stasiun bersama Rere, mengambil kereta kembali ke stasiun dekat hotelnya.


__ADS_2