
Apa yang kamu pilih dan putuskan dalam hidupmu, maka itulah Takdirmu. Jadi jangan lagi menyalahkan Takdir ya.
We Never Know After One Second!
***
Beberapa menit berlalu, ponsel Rere berdering. Membuka pesan singkat dan membacanya. Ya, itu dari Jimmy.
Ia meminta Rere datang ke hotel nya sore ini setelah jam kerjanya selesai.
“Coy, kamu yang paling tahu hidupmu. Aku hanya seorang pendengar dan bertukar pikiran. Kalau kamu bahagia, tentu saja aku juga ikut bahagia.” Ucap Emilia menguatkan.
“Aku tu beruntung banget punya sahabat sepertimu. Kamu itu paling tahu aku, kamu menyimpan rapat kisah hidupku. Thank you, Coy.” Seraya tersenyum Rere mengatakannya.
“Nggak ada untungnya juga aku publikasikan. Kamu juga nggak pernah membuat aku rugi.” Jawab Emilia.
Selesai dengan makan siangnya, Emilia dan Rere kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
.
.
.
__ADS_1
Menjelang sore, setelah selesai dengan pekerjaannya, Rere memenuhi panggilan Jimmy. Masih mengenakan seragam kantor dengan wajah kucel nya Rere sampai di hotel dimana Jimmy menginap.
Ting Tong!
Lalu pintu terbuka setelah Rere menekan bel kamar Jimmy. “Hello.” Sapa Jimmy yang kemudian mendaratkan pelukan pada Rere.
Jimmy kemudian mempersilahkan Rere masuk ke kamarnya. “Tired?” Tanya Jimmy.
Rere melemparkan senyum manisnya sembari mendaratkan tubuhnya duduk diatas kursi sofa. Jimmy kemudian menghampirinya.
“You want eat or drink something?” Tanya Jimmy. Jimmy menatap Rere yang terlihat kelelahan.
“I just need to take a shower.” Jawab Rere.
Jimmy kemudian mempersilahkan Rere untuk membersihkan tubuhnya dan membiarkannya berlalu masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit berlalu,
Jimmy terus menatapnya tanpa berkedip dari posisi duduknya di atas sofa. Sesekali tersenyum manis saat Rere membalas tatapannya.
Deg!
Jantung Rere berdebar-debar saat Jimmy mulai berdiri dan berjalan mendekatinya. Akankah kejadian malam itu akan terulang kembali.
__ADS_1
Jimmy berdiri di belakang tubuh Rere, kemudian melingkarkan pelukannya ke tubuh Rere. Sesekali mengecup rambut Rere yang basah dan ke bagian tengkuk lehernya.
Rere memejamkan keduanya perlahan. Mulai menikmati sentuhan lembut bibir Jimmy ke bagian belakang leher Rere.
Mulut Rere perlahan terbuka, perlahan mempererat genggaman tangannya ke tangan Jimmy yang masih memeluknya.
Namun Jimmy kemudian menghentikan sentuhannya ketika ia mengetahui Rere mendadak memanas.
Jimmy kemudian mengusap rambut Rere yang basah dan kembali mendaratkan kecupan lembut di kepala Rere, kemudian melangkahkan kaki nya naik ke atas tempat tidur.
Rere masih terus mengusap rambut hingga membuatnya kering. Rere kemudian memutar tubuhnya, menatap Jimmy yang tengah bermain gadget tabletnya.
“Come here.” Pinta Jimmy saat membalas tatapan Rere.
Rere kemudian berjalan mendekati Jimmy, naik ke atas tempat tidur dan duduk disamping Jimmy.
Jimmy kemudian menyodorkan gadgetnya dan menunjukkan pada Rere jadwal penerbangan ke Bali.
Rere menatap Jimmy dengan bingung, “Can you choice date for we go holiday.” Ucap Jimmy seraya membalas tatapan Rere.
Rere menggaruk kepalanya, jawaban apa yang harus ia berikan pada Jimmy. Rere kemudian diam sejenak dan berpikir.
“Mmmm..” Gumam Rere.
__ADS_1
Lalu Rere menjelaskan pada Jimmy, bahwa dia harus mendapatkan ijin libur dari perusahaannya.
Jimmy kemudian mengerti akan hal itu. “Oke. I can wait.” Ucap Jimmy.