
Kamar Kos,
Rere membuka pintu kamar dan lalu menutupnya dengan kasar.
Brak!
Meletakkan kantong plastik besar serta kopernya dengan kasar pula,
Bruk!
Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit kamar nya. Merasakan kesedihan dirinya sekarang, atas apa yang ia pilih dan jalani.
Mengganggu aktivitas karir nya, pikirannya dipenuhi dengan segala hal tentang perlakuan Jimmy padanya.
Menyesali keputusan yang diambil dan kini ia harus melalui akibat dari itu semua.
“Aku muak menjadi pilihan kedua dan opsi terakhir!” Hatinya meronta.
Rere kemudian meraih ponselnya, mengetik pesan singkat berisi kekesalannya pada Jimmy dan mengirimkannya ke Emilia.
Beberapa menit menunggu, pesan Rere tak di balas Emilia hanya tanda terbaca saja.
__ADS_1
“Mungkin dia sibuk.” Batin Rere.
“Ah sudahlah Re, semua sudah terlanjur. Tidak ada yang bisa mengembalikan waktu yang sudah terlewat. Ayo, kita pikirkan saja langkah selanjutnya.” Ucap Rere menenangkan dirinya.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Panggilan dari George, sedikit mengobati kekesalan Rere. Berbincang penuh tawa sedikit mengobati perasaan Rere yang tengah buruk saat itu.
Kembali membahas tentang rencana mereka ke Singapura. George mengatakan bahwa keberangkatannya ke Singapura harus ditunda di bulan Agustus karena alasan pekerjaan yang tidak bisa George tinggalkan.
Rere berpikir sejenak seraya memeriksa jadwal penerbangan dengan tanggal yang sama saat George tiba di Singapura.
“Alright.” Ucap Rere setelah menemukan tanggal yang sama hanya Rere tiba lebih cepat dari George.
Setelah mereka bersepakat, George kemudian mengucapkan selamat malam sebelum menutup panggilannya.
“Aku harus bisa mengambil sikap sekarang.” Ucap Rere saat membaca isi pesan dari Jimmy tanpa membalasnya.
Namun sesaat setelah ia meletakkan ponselnya, kembali berdering. Rere hanya melihat dari layar depan ponselnya. Tertera panggilan dari Jimmy.
Rere enggan menjawabnya, ia memilih menonaktifkan ponselnya dan mengambil waktu istirahatnya.
Rere merasa pekerjaannya menjadi kacau setelah pertemuannya dengan Jimmy, dia tidak dapat fokus karena harapannya yang besar pada Jimmy.
__ADS_1
Keesokan pagi,
Rere bangun dari tidurnya, segera mengambil kebiasaannya sebelum berangkat kerja. Rere mengemas barang yang ia butuhkan ke dalam tasnya. Meraih ponselnya dan melangkahkan kaki nya hendak melewati pintu kamar, namun langkahnya terhenti sejenak menatap kantong plastik besar berisi pakaian yang harus ia cuci.
“Alah, besok saja lah.” Ucap Rere seraya berlalu meninggalkan kamar kosannya.
Sesampainya di kantor,
“Cie Cie yang baru aja abis liburan.” Salah seorang temannya menggodanya.
“Iya dong. Orang hidup harus seimbang.” Ucap Rere.
“Kerja iya, liburan iya, belanja iya. Ya kali kalian kerja terus, kapan liburannya.” Imbuh Rere.
“Ah, benar juga katamu.” Jawab seorang teman kerjanya yang lain.
Guys, memang benar kita itu dituntut untuk berpenghasilan setiap hari. Tapi jangan lupa, hati dan jiwa juga perlu nutrisi. Kalian bisa mengisinya dengan liburan kecil.
Nggak harus setiap hari, mungkin di akhir pekan hanya sekedar datang ke kedai kopi menikmati alunan musik dengan menikmati satu cangkir kopi yang kalian suka atau menu yang lain.
Melupakan penat rutinitas sepekan, memberikan penghargaan untuk tubuh dan jiwamu yang selalu mengusahakan melewati harimu dengan segala warna perasaanmu.
__ADS_1
Saat kamu mencapai keberhasilan dalam segala hal yang sedang kamu usahakan, berikan juga kesenangan dan penghargaan pada dirimu sendiri. Misalnya, memenuhi apapun yang kamu ingin satu hari penuh saat itu. Tentu saja sesuai kemampuan ya.
Aku biasa melakukannya,