
Melambaikan tangan pada Rere saat hendak melewati pintu masuk ruang tunggu penumpang pesawat. Dan Rere membalas lambaian tangan George.
“Ah senangnya.” Ucap Rere setelah melewati pintu masuk pemeriksaan tiket dan paspornya.
Berjalan cukup jauh untuk dapat sampai ke kursi duduk ruang tunggu pesawat. Rere kemudian memilih satu tempat duduk yang masih kosong tepat di samping pintu masuk ruang tunggu pesawat.
Seorang wanita kemudian mengambil duduk disampingnya. Memulai obrolan dengan saling bertanya apa yang sedang dilakukan di Singapura, berasal darimana dan bla bla bla.
Wanita itu bernama Lia, usianya sekitar tiga puluh tahun. Dia bekerja sebagai TKW di Singapura.
Bukan Rere namanya kalau tidak bisa mencairkan suasana, Rere dengan mudahnya membuat Lia menceritakan tentang dirinya. Haha.
Lia adalah seorang Ibu dari dua orang anak yang ia titipkan bersama Bibi nya di Jawa Timur. Sayangnya pernikahannya tak berlangsung lama.
Lama ia bekerja di luar negeri membuat mantan suaminya berselingkuh dengan wanita lain.
Mengapa selalu seperti itu ya ceritanya?
Lalu ketika memutuskan untuk berkomitmen bersama, apa tujuannya kalau hanya menggoreskan luka di tengah perjalanan.
Lia kini harus banting tulang ke negara lain guna menghidupi kedua buah hatinya.
Lia juga menceritakan rasa rindunya pada kedua anaknya, namun disisi lain ia paham betul bagaimanapun yang ia lakukan semua untuk masa depan kedua buah hatinya dan demi kebahagiaan mereka.
__ADS_1
“Hai teman, terimakasih sudah berbagi denganku. Tetapi aku belum pernah menjadi seorang Ibu, memang aku belum tau rasanya berjuang sendiri. Jangan menyerah.” Ucap Rere.
“Suatu saat pasti akan ada pria baik yang mampu menerimamu apa adanya dan bersanding denganmu.” Imbuh Rere.
Lia juga menunjukkan beberapa potret kedua adanya dari layar ponselnya ke Rere. Dua anak perempuan yang sangat lucu.
“Masih duduk di sekolah dasar.” Ucap Lia.
“Aku merantau sudah enam tahun disini.” Imbuhnya.
Selesai dengan percakapan mereka, Rere terdiam. Rere terdiam, mendadak menghitung di usia berapa Lia menikah.
Dibenaknya juga berkata.
Sungguh miris di era sekarang, banyak pasangan memutuskan menikah saat muda tapi dengan mudah pula meninggalkan tanggung jawab setelahnya.
Yang sudah disiapkan pun kadang-kadang masih mengeluh karena indahnya kehidupan setelah pernikahan tak serupa ketika acara pernikahan di gelar bahkan secara besar dan mewah.
Tidak sedikit orang juga berkata, kalau terlalu banyak pertimbangan kapan menikahnya?
Tanyakan pada dirimu, Sudah Siapkah?
Jangan kalian pedulikan cemoohan bahkan ucapan pedas orang lain. Pikir ulang lagi apakah kamu siap menjalaninya.
__ADS_1
Menyatukan dua pemikiran tak semudah yang dibayangkan. Semua butuh kemantapan dan kesiapan. Apalagi saat orang berkata "Menikah seumur hidup sekali."
Jika dalam sebuah hubungan sudah saling tersakiti, hentikan! Jangan kalian rusak hidupmu dengan kesengsaraan yang tidak sepantasnya kalian dapatkan.
Yang benar adalah, "Hidup hanya sekali, Bahagiakan dirimu!"
Kamu Berhak Bahagia!
***
Beranjak dari duduknya setelah pengeras suara bandara kembali memanggil para penumpang pesawat menuju Jakarta untuk masuk ke dalam lambung pesawat.
Satu per satu masuk dan menempatkan tas koper ke bagasi kabin. Melakukan yang seharusnya sebagai penumpang pesawat sebelum lepas landas.
.
.
.
Jakarta,
2 jam berlalu, pesawat yang membawa Rere bersama Lia akhirnya tiba di Jakarta. Mereka kemudian bertukar nomor telepon saat turun dari pesawat.
__ADS_1
Kemudian melambaikan tangan sebelum Rere mengambil penerbangan berikutnya. Menarik tas kopernya menuju sky train untuk menuju ke terminal keberangkatan yang lain.
Tiba-tiba,