Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Cerdik?


__ADS_3

Taxi yang ditunggu sudah tiba, membawa masuk koper ke dalam mobil dan siap mengantar ke tujuan.


Satu setengah jam perjalanan ia tempuh menuju hotel dekat bandara. Rere melangkahkan kaki masuk melewati pintu lobby hotel setelan membayarkan ongkos taksinya.


Ia kemudian melakukan check in pemesanan kamar, memberikan kartu identitasnya dan menerima kunci kamar yang diberikan staff resepsionis.


Menarik kopernya menuju lantai kamar yang ia pesan. Membuka pintu kamar dan meletakkan tas kopernya di atas meja. Membukanya lalu mengeluarkan peralatan mandi yang ia bawa.


Rere kemudian mengambil ritual mandinya, menghilangkan penat di tubuhnya. Hangatnya air panas yang mengalir dari lubang shower membuat tubuhnya terasa relax.


“Ah, segarnya.” Ucapnya.


“AAAAAAAAAA.. Hahaha.” Rere berteriak dan tertawa keras.


Kepuasan tersendiri di hatinya, perhitungannya tak meleset. Ia memuji dirinya berulang ulang kali, pandai atau cerdik?


***


Setelah selesai dengan ritual mandinya, diayunkan langkahnya naik ke atas tempat tidur. Memikirkan rencananya untuk esok hari, melupakan yang telah terlewat.


Kita tidak perlu mengingat hal kemarin, terlebih hal yang menyakitkan. Jika yang telah lewat tak sesuai keinginan, jadikan hal itu sebagai pengalaman berharga yang harus kalian tinggalkan.


Rere kemudian meraih ponselnya, semua akses komunikasinya dengan Mark ia blokir. Tapi tidak di laman akun media sosialnya, Rere ingin mengunggah fotonya saat di Singapura.


Esok hari,

__ADS_1


Melangkahkan kaki besarnya dengan sedikit tergesa meninggalkan lobby hotel selesai melakukan check out, menggunakan taksi menuju bandara.


Hanya perlu tiga puluh menit untuk sampai ke bandara. Rere kemudian melakukan check in tiket penerbangan pada counter tiket di bandara.


Menunjukan kartu identitas dan dokumen paspor yang dibutuhkan. Staff check in kemudian memeriksa ulang dokumennya untuk memastikan apakah sudah sesuai.


Kemudian ia memberikan tiket cetaknya pada Rere dan mempersilahkan Rere masuk ke ruang tunggu pesawat.


Mengantri untuk pemeriksaan paspor, Rere berdiri bersama para penumpang yang lain di depan counter imigrasi setelah melakukan pemeriksaan tas koper bawaannya.


“Mau liburan ya Mba?” Tanya petugas imigrasi.


“Yap.” Jawab Rere.


Rere kemudian mengarahkan langkahnya menuju restoran cepat saji di dalam ruang tunggu pesawat.


Memesan menu sarapan pagi nya dengan satu cangkir teh hangat. Menikmatinya setelah salah seorang pelayan menghidangkannya diatas meja.


Sesekali menatap jam di pergelangan tangannya, memeriksa sisa waktu yang ia punya untuk masuk ke dalam pesawat.


“Masih satu jam lagi.” Ucapnya.


Mengirim pesan pada George bahwa ia sudah berada di bandara dan satu jam lagi penerbangannya.


Dan George membalasnya, ia sudah berada di bandara Changi untuk menunggu kedatangannya. “Good, thanks.” Rere membalas.

__ADS_1


***


Melalui alat pengeras suara di bandara, penumpang dengan tujuan ke Singapura dipersilahkan masuk ke dalam pesawat.


Melenggangkan kedua kaki jenjangnya, Rere meninggalkan restoran menuju pintu masuk pesawat.


Menunjukkan tiket cetaknya pada petugas bandara dan melangkah masuk ke dalam lorong pintu pesawat setelah mereka mempersilahkannya.


Rere menuju ke nomor kursi yang tertera pada tiket cetaknya, membawa naik kopernya ke bagasi pesawat dibantu pramugari lalu mengambil duduknya.


Rere mengencangkan sabuk pengamannya, menyandarkan kepalanya pada jendela pesawat dan memejamkan kedua matanya perlahan hingga tertidur.


.


.


.


Singapura,


Satu jam lima puluh menit penerbangan membawa para penumpang tiba di bandara Changi Singapura.


Rere perlahan membuka kedua matanya, “Oh, ini Singapura.” Ucapnya saat seraya menatap landasan dan bandara Changi dari dalam pesawat.


Perlahan,

__ADS_1


__ADS_2