Kemelut Asmara

Kemelut Asmara
Tanah Air


__ADS_3

Ponselnya berdering berulang kali. Ya, Jimmy menghubunginya. Rere memilih untuk tak menghiraukannya karena perutnya yang kosong dianggapnya lebih penting dari panggilan Jimmy.


Rere menuntun langkahnya masuk ke sebuah restoran untuk melepaskan dahaga rasa laparnya. Kemudian memesan beberapa menu makanan dan menikmatinya selesai seorang pelayan menghidangkan di atas meja.


Seraya menikmati makan siangnya Rere menulis pesan singkat untuk Jimmy, menanyakan mengapa ia meneleponnya.


Jimmy kemudian membalasnya dengan meminta Rere untuk datang ke Malaysia.


"Aku hanya membuang waktuku kalau terus-terusan seperti ini." Ucap Rere seraya menggoyangkan mulut yang berisi makanan.


Rere kemudian membalasnya bahwa ia tidak bisa memenuhi undangan Jimmy dengan alasan ia punya interview pekerjaan untuk beberapa hari ke depan.


Dengan emoticon kecewa Jimmy membalas pesan Rere, namun ia juga menambahkan bahwa Jimmy menghargai keputusan Rere.


Dua jam berlalu, waktu terbang pesawat selanjutnya tiba. Rere menyelesaikan makan siangnya dan lalu mengayunkan kedua kakinya melangkah masuk melewati pintu keberangkatan bandara dan mengambil penerbangan menuju ke kota tercinta.


.


.


.


Kota Kelahiran,

__ADS_1


Pesawat mendarat dengan sempurna. Para penumpang satu per satu meninggalkan pesawat.


Rere meninggalkan bandara menggunakan taksi bandara, membayar ongkos taksi setelah mengantarnya sampai ke kosan.


Membuka pintu dan meletakkan tas kopernya ke tempat yang semestinya. Menjatuhkan tubuhnya sejenak ke atas tempat tidur.


Menatap langit kamar yang selalu mendengar keluh kesahnya.


Beberapa pesan singkat masuk ke dalam ponselnya namun tak ia hiraukan. Ia memilih mengambil waktunya untuk mengistirahatkan pikirannya.


Sebenarnya rencana awal Rere sangat ingin menjadikan ini pertemuan terakhirnya bersama George.


Berulang kali ia mencoba berpikir dengan logika dan kewarasan, melibatkan hati dan perasaannya. Sekali lagi bertanya di dalam dirinya apakah keputusannya ini adalah keputusan yang benar.


"Ah, pusing! Mending aku mandi." Ucapnya.


Seraya bernyanyi Rere menikmati kegiatan mandinya. lirik lagu yang ia nyanyikan seakan membuatnya betah berlama-lama berada di dalam kamar mandi.


Dok dok dok!


Pintu di gedor beberapa kali dari luar dengan diikuti teriakan, "Re cepetan. Mules!"


Salah seorang teman kosannya meminta Rere untuk segera menyelesaikan kegiatannya di dalam kamar nandi. "Iya, sebentar lagi" Teriak Rere.

__ADS_1


***


Rere memutar lagu dari koleksi lagu yang ada di dalam ponselnya. Memutar lagu secara acak dengan berbagai macam genre.


Hal itu ia lakukan untuk sejenak melakukan sikap bodoh yang selama ini ia putuskan. Kebetulan lirik yang ia dengar seakan sesuai dengan apa yang sedang ia alami.


Rere kemudian membalas satu per satu pesan yang masuk ke ponselnya, menjawab sesuai dengan pertanyaan yang ia dapat.


Ia juga mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya Emilia, menceritakan perjalanan liburannya dan juga karena keputusan bodohnya.


"Wah kenapa kamu nggak ambil ke Malaysia, kan lumayan liburan lagi." Ucap Emilia melalui sambungan teleponnya.


"Bukan karena itu, aku sebenarnya sedang mengambil keputusan bodoh." Jawab Rere.


"Kenapa bisa?" Tanya Emilia.


"Waktuku terbuang percuma, Coy." Jawab Rere.


"Ya memang sih Coy. Tapi kan lumayan liburan, kapan lagi coba." Imbuh Emilia.


"Ah ya sudah, aku juga sudah terlanjur menolaknya."Jawab Rere.


Rere kemudian menutup sambungan teleponnya seusai mengobrol.

__ADS_1


"Hah, ngapain lagi ya. Hmm..." Ucap Rere.


Kali ini ia kebingungan mencari aktivitas lain untuk mengisi waktu kosongnya.


__ADS_2