
akhrinya semua perawat tiba-tiba pergi tanpa pamit seperti terburu-buru. Namun ada 1 perawat yang tiba-tiba menghampiri saya ketika semua perawat pergi. Dia mengajak kami untuk kembali ke kamar dan perawat tersebut juga ikut. Sepanjang lorong menuju kamar , si perawat itu terdiam da nada keringat menetes ke lehernya , wajahnya seperti orang kebingungan ,matanya sedikit melirik ke kanan dan kiri seperti berjaga-jaga bila ada sesuatu padahal hanya saya dan Adiatma yang di sebelahnya.
__ADS_1
Ketika mendekati kamar , terlihat pintu kamar sudah terbuka lebar. Saya dan Adiatma saling melihat dan memberi kode kalau kita berdua menjadi saksi ketika pintu kamar benar-benar tertutup rapat meski tidak dikunci. Siapa yang membuka kamar ini? Sepanjang lorong juga dari kemarin tidak ada orang lalu lalang sama sekali baik pasien maupun penunggu pasien. Hanya kami yang disini , ketika mengetahui pintu terbuka saya dan Adaitma mulai was-was dan takut ,
__ADS_1
GUBBRAAAAKKK…………..
__ADS_1
20 tahun yang lalu tepatnya , saya masih baru 1 bulan menjadi perawat ketika lulus dari perguruan tinggi dan kondisi kota Malang pada waktu itu masih di dominasi dengan hiasan pohon beringin di sudut-sudut kota dan menjadi ikon yang melekeat sangat itu. Dingin dan gelap jalan-jalan kota dengan di iringi lampu remang-remang yang meredup menjadi hal biasa bagi masyarakt sekitar , bahkan pohon beringin pun masih menjadi favorit tempat anak-anak bermain tanpa rasa takut tak terkecuali di rumah sakit ini.
__ADS_1