
Kami berdua kaget siapa yang berkata seperti itu. saya melihat semua para pejubah hitam masih menutup kepalanya dan tidak tau siapakah itu. pak Sukasto mendengar perkataan tersebut dan melihat ke belakang, lalu berkata
“ SIAPA YANG MENARUH MEREKA SEPERTI ITU!!!! CEPAT ANTARKAN MEREKA KEPADAKU.”
Dokter pemimpin para pejubah hitam yang ada di depan langsung menyuruh kembali para pejubah hitam yang dimana para anggotanya lalu berkata
“ ayo angkat mereka kembali, ngapain kalian turunkan. Apakah kalian tidak takut dengan para pemimpin kita yang ada di depan itu ?”
Akhrinya mereka membuka kedoknya dan saya terkejut melihatnya ternyata dia adalah
ADIATMA DAN PARA KORBAN DOKTER YANG AKAN DI JADIKAN TUMBAL SEBELUMNYA
Saya langsung memeluk Adiatma, sambil menangis terharu. Pak Sumaji pun hanya melihat kami sedang berpelukan sambil tersenyum. Para dokter yang bersama Adiatma hanya segelintir orang. Mereka para pejubah hitam lain yang tidak membuka penutup kepala langsung melingkari kita seperti ingin menghakimi. Adiatma berkata kepadaku
“ Ayo cepat keluar dari sini, kita harus segera lari sekencangnya ( sambil menunjuk ke arah yang dituju ). Nanti akan ku ceritakan semuanya.”
Pak Sukasto langsung berteriak keras dan semakin murka. Dia datang kepada kami semua untuk mengeksekusi langsung. Dokter pemimpin para pejubah hitam itu langsung membantu pak Sukasto menangkap kami. Para dokter yang membantu Adaitma melindungi kami kembali untuk yang kedua kalinya agar kami bisa lolos, kami bertiga lansgung lari dan ketika berlari saya sesekali melihat ke belakang. Terlihat para dokter itu di bantai oleh pak Sukasto. Terdengar pula teriakan mereka yang sangat kencang dan mengerang kesakitan. Pak Sumaji menyuruhku untuk tetap berlari kedepan tanpa melihat kembali ke belakang, para pejubah hitam dan pak Sukasto berlari mengejar kami. Pak Sumaji sadar jika mereka akan bisa mengejar kami bertiga jika tidak di hambat. Pak Sumaji melempar isi tasnya dan berkata
“ Govi. Tangkap ini, ada surat di dalamnya tolong kasihkan ke teman kantor saya dan ungkap ini semua agar rumah sakit ini dihancurkan untuk selamanya.”
Saya berteriak kepada pak Sumaji
“ Ingat janji kita pak Sumaji, kita harus selamat dari ini semua bersama – sama. Saya akan membantu anda untuk melawan mereka semua.”
__ADS_1
Pak Sumaji berkata kembali
“ JANGAN BODOH.. jika kita mati semua disini, maka ini semua tidak akan bisa berakhir. Kalau mereka tidak ada yang menghambat, bisa – bisa kita semua akan mati disini juga, ceapt lari menuju tangga yang dibilang ke Daus.”
Adiatma membenarkan apa yang dikatakan pak Sumaji. Dia juga bilang kita harus ada yang selamat seperti awal janji saya dengan Adiatma. Adaitma menarik baju saya untuk segera berlari karena mereka mengejar kita dengan sangat cepat dengan pak Sukasto dan dokter itu di depannya. Pak Sukasto berkata kepada pak Sumaji
“ kamu mau melindungi mereka Sumaji, hahaah.. jangan ahrap kakmu bisa menghalangi kami semua. Kalian akan menjadi tumbal bagi kami semua.”
Pak Sumaji berhenti dan menembaki mereka semua dengan penuh emosi. Pak Sukasto membuka mulutnya yang sudah berubah menjadi taring panjang dan berwajah hitam. Pak Sumaji memukul pak Sukasto tapi pak Sukasto sama sekali tidak terjatuh maupun kesakitan, pak Sumaji di pegangi oleh mereka para pejubah hitam meskipun dia terus berusaha melawan. Pak Suaksto memegangi bahu pak Sumaji sampai beliau tidak bisa bergerak sama sekali. Disitu badan pak Sukasto bertambah besar. Teriakan terakhir pak Sumaji kepada saya dan Adiatma
“ LARI DARI SINI CEPAT.”
Meskipun pak Sumaji berteriak seperti itu, saya tetap sesekali melihat, apa yang terjadi dengan pak Sumaji. Terlihat pak Sukasto merobek dada pak Sumaji dan pak Sumajji berteriak dengan keras lalu setelah itu tak terdengar lagi suara kesakitannya. Saya agak menangis melihat pengobanan pak Sumaji. Bagaimana sikap kesatrianya muncul ketika kondisi seperti ini. pak Sukasto memasukkan tangannya dan mengambil sesuatu di dalam dadanya. Dan itu ternyata adalah
JANTUNGNYAA
MEMAKAN JANTUNG
tersebut dengan bangganya dan tertawa besarnya. Lalu setelah itu, dia
MENGGIGIT LEHER SEPRTI AKAN MENGHISAP DARAHNYA
entah mengapa dia melakukan seperti itu. Setelah kejadian itu, saya tidak lagi menoleh kebelakang untuk melihat beliau. Adaitma berkata kepadaku
__ADS_1
“ Maafkan aku yang telah banyak merepotkanmu Govi. Saya akan membantu untuk mengusut ini semua sampai selesai. “
Saya berkata kepada Adiatma
“ Tidak ada pengorbanan yang sia – sia dit. Terima kasih kamu sudah membantuku untuk mengusut ini semua. Memang dari awal aku berencana untuk menolongmu, tapi pada akhirnya aku juga ingin untuk mengusut ini semua seperti tujuan kita pada awalnya.”
Saya bergegas menuju ke arah yang ditunjuk oleh Adiatma yang kebetulan itu adalah tangga yang sama ditunjuk oleh Daus sebelumnya. Kami berdua berlari menuju tangga tersebut dan menaikinya. Ternyata di atas tangga tersebut ada sebuah pintu yang harus kami buka dengan mengangkatnya ke atas. Adiatma yang berada di depan dan membuka pintu tersebut lalu kelaur dari pintu itu. ketika saya mencoba untuk keluar dari pintu itu. ternyata saya berada di sebuah ruangan sempit yang berisi tentang
KEPALA YANG DIGANTUNG – GANTUNG.
Saya langsung berteriak kencang dan tak melihatnya lagi. Adaitma pun juga kaget terheran – heran dengan kondisi ruangan tersebut. kami sambil memalingkan pandangan ke arah kepala – kepala tersebut, mencari pintu keluar. Ruangan kami berada itu sangatlah sempit. Tidak lebih dari 3 x 3 meter. Ketika kami keluar, ada sebuah tangga lagi menuju ke atas. Saya kira ketika membuka pintu tersebut, kami berdua langsung menuju keluar gudang itu. ternyata, sepertinya kami masih berada di bawah gudang. Kami menaiki tangga tersebut dan membuka pintu kembali.bentuk pintunya juga sama, yaitu membuka ke arah atas. Pas keadaan itu, saya berada di depan dan Adiatma berada di belakang saya. tangan saya mengangkat pintu tersebut, tapi rasnaya begitu berat sekali tidak seperti membuka pintu biasanya. Terlihat juga bahwa pintu tersebut tidak terlihat using, tua maupun kotor. Pertanda sering digunakan.
Pintu tersebut bisa membuka dengan kami berdua mendorongnya ke atas. Kepala saya muncul untuk melhat sekitar. Saya baru tau kenapa pintu itu begitu berat ketika saya angkat. Ternyata ada di bawah lantai dan meja menempel di atasnya. Tidak ada siapa – siapa di tempat itu. Adiatma berkata kepadaku
“ Gov.. ruangan ini hanya ada beberapa alat kebersihan ayng kotor dan tidak pernah digunakan. Itu juga ada bekas sampah medis ayng di taruh di pojok.”
Saya berkata kepada Adiatma
“ kamu tau Dit. Ini sebenarnya adalah gudang dekat dengan kamarmu dulu waktu opname.”
Adiatma membuka pintu yang ada di dekatnya. Dia membenarkan perkataanku bahwa itu dekat dengan kamar dia ketika opname pertama kali. saya keluar dari gudang tersebut, dan hari masih gelap sekali. Saya melihat jam masih menunjukan pukul 01:00 dini hari. Saya juga berkata kepada Adiatma
“ Dit.. tasmu juga sudah tak simpan. saya taruh di antara gudang ini sebelum aku masuk ke bawah gudang ini. aku temukan ketika malam – malam dengan polisi itu memeriksa kamarmu.”
__ADS_1
Ketika menoleh ke belakang, saya baru menyadari kalau ruangan ini berbeda dengan ruangan yang awal pertama kali saya masuk. Saya keluar lagi dari gudang tua itu dan mencari ruang pertama kali saya masuk. Akhirnya ketemu dan kelihatan tasnya Adaitma ayng saya simpan di bawah tangga.Adaitma berterima kasih kepadaku akrena menemukan tasnya. Adaitma berkata kembali kepadaku
“ gov.. dengarkan. Ada suara gemuruh dari dalam gedung ini.. Govi. AWAS DI BELAKANGMU!!!”